Perkembangan World Musik III

Perkembangan World Musik III

Oleh: Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Harry Roesli dengan DKSB sampai saat ini masih tetap intens menggarap world music. Gerombolan musisi etnik Bandung juga terbilang tetap gigih berjuang sekian lama, dalam melakukan serangkaian proyek-proyek kontemporer diatonis-pentatonis. Salah satunya adalah nama Zithermania, juga Bandung Percussion Society. Ozenk percusions sebuah komunitas musik yang lahir dari latar belakang tradisional.

Perlu diketahui bahwa Discus bisa terbang ke North Carolina, AS ikut festival musik progresif, PROGDAY 2000 dan Zithermania ke Vancouver, Kanada, ikut festival musik kontemporer di sana, memang karena memiliki nafas world music. Di mana musik mereka sangat berbau musik tradisi kita. Atau jangan lupakan nama Deva Soenyoto, anak dari seniman musik kawakan, Gatot Soenyoto. Deva kini mengembara dengan ‘leluasa’, pentas ke pentas sambil studi terus di Australia. Ia cenderung menjadi perkusionis dan drummer aliran world music. Ada kabar, ia juga dijadwalkan tampil bersama grupnya menghibur atlet-atlet dunia peserta Olympiade 2000 di Sydney!

Debussy menikmati secara on the spot, Gamelan Jawa dan Bali tersebut dan sampai berani menyimpulkan, musik perkusi gamelan kita itu seakan membuat musik perkusi Perancis saat itu begitu primitif. Kita telah lewat 100 tahun dari masa Debussy, kita telah melihat bagaimana sebetulnya kekuatan tersembunyi dari musik-musik etnik kita yang sudah diakui dunia. Akhirnya, kita tinggal menunggu langkah-langkah lanjutan lagi yang sudah jauh ke depan. Ada peluang untuk sebuah trend baru, yang kelihatannya bagus betul karena mengandung bobot nasionalisme! Kesempatan terbuka, jangan sampai tercuri lagi, macam Eberhard yang mendahului Guruh atau Ray Manzarek membuat musik Bali lewat synthesizer, mengecoh Abadi Soesman yang menggarap hal yang sama untuk Anak Adam dari God Bless.

Perkembangan World Musik III selengkapnya

Comments are closed.