Perspektif Musikalitas Tabuh Lelambatan Banjar Tegaltamu

Perspektif Musikalitas Tabuh Lelambatan Banjar Tegaltamu

Kiriman: I Nyoman Kariasa,S.Sn., Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Sebagai salah satu karya seni musik tradisional tabuh, Lelambatan tentu memiliki tiga aspek dasar estetika yaitu wujud, bobot, dan penampilan. Dari ketiga aspek tersebut dapat lihat bagaimana bentuk dan struktur sebuah komposisi tabuh lelambatan serta bagaimana suasana, ide atau gagasan yang terdapat dalam tabuh lelambatan tersebut. Secara umum tabuh lelambatan memiliki bentuk, struktur dan tata penyajian yang khas.

Bentuk dan Struktur

Tabuh dalam konteks karawitan Bali memiliki pengertian yang sangat luas, adakalanya tabuh juga dipergunakan untuk menunjukkan bentuk-bentuk komposisi lainnya di luar dari gending-gending lelambatan tradisional misalnya tabuh kreasi baru yaitu suatu bentuk komposisi karawitan yang di luar dari kaidah-kaidah tetabuhan klasik. Di samping itu kata ‘tabuh’ juga dipergunakan untuk menyebutkan bentuk-bentuk komposisi dari berbagai jenis barungan gamelan seperti tabuh Smar Pagulingan, tabuh Gong Gede, tabuh Kekebyaran dan sebagainya. Tabuh bila dilihat sebagai suatu estetika teknik penampilan adalah hasil kemampuan seniman mencapai keseimbangan permainan dalam mewujudkan suatu repertoir hingga sesuai dengan jiwa, rasa dan tujuan komposisi. Selanjutnya pengertian tabuh sebagai suatu bentuk komposisi didifinisikan sebagai kerangka dasar gending-gending lelambatan tradisional. Misalnya tabuh pisan, tabuh telu, tabuh pat dan sebagainya (Rembang, 1984/1985:8-9).

Lelambatan diperkirakan berasal dari kata Lambat yang berarti pelan yang mendapat awalan Le dan akhiran an kemudian menjadi Lelambatan yang berarti komposisi lagu yang dimainkan dengan tempo dan irama yang lambat/pelan. Tambahan kata Pegongan pada bagian belakang kata Lelambatan sebagai penegasan pengertian bahwa gending-gending lelambatan klasik pegongan adalah merupakan repertoar dari gending-gending yang dimainkan dengan memakai barungan gamelan “Gong”. Gamelan Gong yang dimaksud adalah gamelan-gamelan yang tergolong dalam kelompok barungan yang memiliki Patutan Gong yaitu istilah yang dipergunakan untuk menyebutkan kelompok gamelan Bali yang mempergunakan laras pelog 5 (lima) nada. Adapun kelompok gamelan yang berlaras pelog lima nada di Bali ada beberapa jumlahnya diantaranya: Gamelan Gong Gede, Gamelan Gong Kebyar, Gamelan Palegongan, Gamelan Gandrung. Namun demikian dari berbagai jenis tersebut yang biasanya dipergunakan untuk menyajikan tabuh-tabuh lelambatan pegongan adalah gamelan Gong Gede dan Gamelan Gong Kebyar.

Dalam  terjemahan Prakempa pada bagian ke 35 disebutkan bahwa:

“…ini asal mula tabuh(lagu) dan nyanyian-nyanyian, karena nyanyian dan lagu sesungguhnya sama beda, karena ada tersebut nyanyian yaitu tabuh pisan, tabuh telu, tabuh pat, tabuh nem, dan tabuh kutus ini bukan tabuh namanya, sebenarnya angsel dan pepada, karena segala alat-alat nyanyian harus memakai kempli dan kempul. Bila nyanyian memakai kempli delapan kali dan juga kempul delapan kali itu namanya Asta pada…(Bandem, 1985:63)

Kutipan di atas apabila dihubungkan dengan komposisi tabuh-tabuh lelambatan, akan dapat dilihat beberapa pepada pada bagian pengawak dan pengisepnya. Seperti halnya tabuh pat,  terdapat empat kali pukulan kempli dan kempur. Begitu juga tabuh nem, dan tabuh kutus. Namun penanda ini tidak berlaku pada tabuh pisan dan tabuh telu, terutama pada lelambatan gaya Batubulan.

Bentuk dan struktur tabuh-tabuh lelambatan pada umumnya menentukan ciri khasnya. Begitu halnya dengan tabuh-tabuh Lelambatan yang ada di Banjar Tegaltamu juga memiliki struktur dan bentuk yang hampir sama. Yaitu menggunakan konsep struktur komposisi klasik terdiri dari kawitan, pengawak, pengisep, pengecet, pengembat dan pekaad.  Pada bagian pekaad (tabuh pat, tabuh nem, tabuh kutus) menggunakan tabuh telu atau gilak, dan atau menggunakan keduanya. Masing-masing struktur ini dibentuk dengan menggunakan hitungan atau angka-angka. Hitungan angka-angka tersebut digunakan untuk menentukan birama 4/4 yang ditandai dengan jatuhnya pukulan, jegog, kempli, kempur, dan diakhiri dengan jatuhnya pukulan gong. Selain menggunakan hitungan juga sangat menentukan adalah pukulan kendang terutama dalam pengawak dan pengisep pada jenis tabuh pat, tabuh nem dan tabuh kutus. Pengulangan frase frase /pepada dalam setiap bagian gending juga didukung oleh dinamika yang dibawakan oleh instrumen gangsa, intrumen reyong dan cengceng kopyak yang dikendalikan oleh kendang.

Secara umum tabuh lelambatan di Banjar Tegaltamu menggunakan bentuk atau format ngewilet dan periring, Terutama pada bagian pengawak dan pengisep. Periring berasal dari istilah paca periring dalam karawitan vokal yang berarti membaca kalimat pokok sebuah kalimat lagu. Sedangkan Ngewilet sendiri merupakan pengembangan irama atau ketukan dari pada periring. Tentunya irama ngewilet lebih panjang dan lebih lambat dari pada irama periring. Sebagai perbandingan, bentuk periring gaya Batubulan berbeda dengan bentuk periring yang ada dalam lelambatan gaya Badung. Dalam lelambatan gaya Badung periring dimainkan menggunakan melodi pokok pengawak dengan pola pukulan kendang pengisep. Dimainkan dengan tempo yang lebih cepat dari standar tempo yang dimainkan pada bagian pengawak. Periring ini dimainkan sebelum memainkan bagian pengawak. Berbeda halnya dengan bentuk periring gaya Batubulan.

Perspektif Musikalitas Tabuh Lelambatan Banjar Tegaltamu, selengkapnya

Comments are closed.