Plagiat Mudah Dideteksi dengan IT

Plagiat Mudah Dideteksi dengan IT

MEDAN – Kasus penjiplakan (plagiat) yang saat ini tengah mencuat di kalangan akademisi Universitas Sumatera Utara (USU) mendapat respons dari seorang profesor asal Indonesia yang bekerja di Universty Teknologi Malaysia (UTM), Prof Hadi Nur.
Hadi Nur yang merupakan insinyur jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan aksi plagiat merupakan bentuk tindakan bodoh dan tak bisa ditolerir. “Apalagi untuk saat ini, di mana teknologi informasi (information technology/IT) sudah sangat berperan. Saya kira kalau ada yang melakukan plagiat adalah tindakan bodoh,” ujarnya saat dihubungi lewat seluler, kemarin.
Hadi menegaskan untuk mendeteksi tindakan plagiat ini,sebenarnya cukup mudah, apalagi untuk ilmu-ilmu sosial. Berbeda dengan ilmu eksakta (pasti), yang biasanya beraksi dengan memberikan data palsu. “Saya kira akan sangat mudah untuk mengungkapnya.Tapi, menurut saya plagiat ini tidak lebih dari persoalan mental pada orang yang bersangkutan, tergantung orangnya.
Atau juga tekanan karier, di mana untuk melancarkan karier, seseorang terpaksa melakukan penipuan,”tukasnya. Untuk mengantisipasi plagiat ini, Prof Hadi Nur menyarankan kalangan perguruan tinggi di Indonesia mulai menggunakan teknologi, seperti program turnitin (turnitin.com), sebuah perangkat lunak yang mampu mendeteksi apakah sebuah karya ilmiah itu hasil plagiat atau tidak.
“Kami di UTM sudah berlangganan, dan terbukti efektif. Kalau bisa, langganan ini saja,”sebutnya. Lebih jauh dalam artikelnya di www.hadinur.com, Hadi Nur menyimpulkan tindak plagiat menyangkut etika. Dia merasakan selama menempuh pendidikan di Indonesia adalah bahwa aspek pendidikan (etika) kurang diperhatikan. Dosen-dosen lebih cenderung memberikan knowledge kepada mahasiswanya, yang dapat kita sebut sebagai pengajaran.
“Aspek pendidikan yang saya maksud termasuk pembentukan sikap dan kepribadian. Saya berpikir dengan mengetahui aspek etika dalam sains, dan mengajarkannya kepada mahasiswa, dapat membantu membentuk kepribadian,” sebutnya. Namun terlepas dari itu semua, menurutnya pengajaran etika sains kepada mahasiswa sarjana, magister dan doktoral diharapkan dapat menambah kesadaran para mahasiswa untuk menjunjung tinggi kejujuran.
Sebelumnya diberitakan, Irwansyah, staf pengajar di Fakultas Sastra USU menggugat mantan dekannya di Fakultas Sastra USU, Wan Syaifuddin. Tesis S2 Wan Syaifuddin berjudul “Syair Lisan Melayu Deli,Tumpuan Khusus Terhadap Syair Puteri Hijau”, yang dipertahankannya pada Mei 1994 di Pusat Pengajian Ilmu Kemanusiaan Universiti Sains Malaysia (PPIK-USM), diduga plagiat dari tesis Irwansyah berjudul “Syair Puteri Hijau: Telaah Sejarah Teks dan Resepsi” yang dipertahankan dalam ujian tanggal 30 Agustus 1989 di Universitas Gadjah Mada.
Kasus plagiat yang melibatkan staf pengajar USU ini sudah mendapat respons dari para akademisi Sumut. Rektor IAIN Sumut, Prof Nur Ahmad Fadhil Lubis menegaskan jika akademisi melakukan plagiat, maka itu merupakan kesalahan sangat fatal. Fadhil menyebutkan, di masyarakat kecenderungan plagiat disebabkan ingin instant dan mempermudah simbol. Jadi, bukan ilmunya yang dinilai penting.“Ini juga gejala dari komersialisasi pendidikan,”terang Fadhil.
Di IAIN Sumut sendiri, kata Fadhil, ada beberapa lapis pengawasan terhadap karya ilmiah sehingga tidak terjadi plagiat, terutama dalam memilih judul. “Ketika mahasiswa memilih judul, kita ingin judul diseleksi betul. Sesama IAIN di 36 daerah sudah memiliki data online karya ilmiah yang di-update setiap semester. Jadi tidak boleh pada semester yang sama ada judul yang sama. Ini saja tidak boleh, apalagi bila beda semester,” jelas Fadhil. (fakhrur rozi/lia anggia nst)

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/368074/

Comments are closed.