Promosi Doktor, I Wayan Mudana: ” TRANSFORMASI SENI LUKIS WAYANG KAMASAN PADA ERA POSTMODERN DI KLUNGKUNG BALI “

Promosi Doktor, I Wayan Mudana: ” TRANSFORMASI SENI LUKIS WAYANG KAMASAN PADA ERA POSTMODERN DI KLUNGKUNG BALI “

Sumber : http://www.pps.unud.ac.id/

Senin, 19 Oktober 2015. Program Pascasarjana kembali mengadakan sidang terbuka Promosi Doktor atas nama Promovendus Drs. I Wayan Mudana, M.Par., dari Program Doktor Kajian Budaya dengan disertasinya yang berjudul TRANSFORMASI SENI LUKIS WAYANG KAMASAN PADA ERA POSTMODERN DI KLUNGKUNG BALI. Acara sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. dr. A.A. Raka Sudewi, Sp.S(K).

Dalam disertasinya dinyatakan bahwa Seni Lukis Wayang Kamasan (SLWK) merupakan karya seni tradisi yang tumbuh dan berkembang sangat subur di Desa Kamasan Klungkung Bali, memiliki identitas sangat khas dan unik digunakan sebagai pelengkap sarana ritual agama Hindu. Proses pengerjaannya sangat terikat oleh pakem, norma, dengan ketentuan-ketentuan yang bersifat mengikat dan baku, dikerjakan secara kolektif dan komunal. Bahan dan peralatan yang digunakan diambil dari alam serta diolah dengan teknik tradisi. Secara visual SLWK mengandung estetika sangat artistik didalamnya terkandung nilai-nilai filsafat yang bersifat simbolik sering digunakan sebagai pencerahan dan bayangan dalam kehidupan manusia di dunia maupun di akhirat. Pada era modern SLWK dikomersialkan sebagai profesi dijadikan sandaran untuk menghidupi keluarga. Semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung ke Desa Kamasan pada era postmodem, disertai dengan permintaan terhadap produk souvenir maka SLWK dikomodifikasi menjadi produk penunjang pariwisata. Fairclough mengatakan, komodifikasi merupakan ciri dari postmodern yang diasumsikan kapitalisme yang memiliki kemampuan mengubah obyek, kualitas dan tanda menjadi komoditas untuk didistribusikan ke pasar (Barker, 2005: 517). Wacana yang berkembang SLWK di Klungkung, Bali pada era postmodern sudah mengalami transformasi yang berimplikasi perubahan. Giddens (2005: 49) dalam “Refleksivitas Modernitas” mengatakan; tradisi tidak sepenuhnya statis, tradisi tidak terlalu melawan perubahan. Sedangkan Kayam (1989: 1) menyatakan; transformasi merupakan suatu proses pengalihan total dari suatu bentuk ke sosok bentuk yang baru yang mapan melalui suatu tahapan yang memerlukan waktu lama. Transformasi mesti dipahami lewat suatu ideal typemasyarakat yang sengaja diciptakan sebagai suatu model dan paradigma kapitalisme. Max Weber menyimpulkan transformasi masyarakat Eropa menjadi masyarakat kapitalis karena didalam tubuh budaya masyarakat Eropa, sudah terkandung “bumbu-bumbu” (ingredients), budaya yang akan melahirkan semangat kapitalis (Sachari, 2002: 68). Ciri-ciri transformasi menurut Tabrani (2006: 260) merupakan manifestasi pribadi korperatif (gabungan kritis, fleksibel, dan bebas). Bila kelayakan estetis belum berani melewati batas- batas, maka transformasi justru berani melakukannya demi terciptanya sesuatu yang baru, yang bukan hanya iseng, baru atau layak tetapi mencapai sesuatu yang integral dan jujur (truth).Transformasi tidak lagi tunduk pada norma, atau situasi dan kondisi, mengintegrasikan beberapa norma sesuai dengan fleksibelitas dan kebebasan yang mendukung.Secara umum penelitian 101 untuk mengkaji, membongkar dan memahami transformasi SLWK di Klungkung, Bali dalam persfektif Kajian Budaya antara kelompok elite mengusung tradisi lama sehingga menimbulkan transformasi yang berimplikasi perubahan. Tujuan khusus penelitian ini, adalah (1) mengkaji, memahami, dan menjelaskan latar belakang transformasi SLWK, (2) Mengkaji, memahami, dan menjelaskan bentuk transformasi SLWK pada era postmodern, (3) mengkaji, memahami dan menjelaskan implikasi dari transformasi SLWK pada era postmodern di Klungkung, Bali. (pps.unud/IT)

Comments are closed.