Rangkain Sesaji Dan Flora Bali

Rangkain Sesaji Dan Flora Bali

Kiriman: I Made Sumantra, SSn., Dosen PS. Kriya Seni ISI Denpasar.

Sejak dulu apa yang dikerjakan orang Bali itu serba indah bahkan memukau, tetapi baru pada sekitar dasawarsa 1930-an dikenal sebagai karya seni. Selama berabad-abad sebelumnya, orang Bali tidak menyadari bahwa kegiatan mereka dalam memahat, mengukir, melukis, menari, olah kerawitan, merangkai sesaji dan sebagainya, itu merupakan kegiatan-kegiatan berkesenian yang menghasilkan karya-karya seni. berlandaskan ajaran agama Hindu dan falsafah Bali, mereka hanya merasa wajib untuk mengarahkan kegiatan-kegiatan tersebut sebagai penunjang perwujudan persembahan kepada para dewa. Oleh karena itu segalanya dibuat seindah dan sesempurna mungkin untuk menyenangkan dewa-dewa itu.

Kehidupan berkesenian orang Bali bertumpu kepada keyakinan Hindu-Bali, sehingga dalam bentuk perwujudannya yang mana tersirat tema-tema maupun penyimbolan keyakinan itu. Dengan demikian seni rupa, seni tari dan seni kerawitan, seni sastra dan lain-lain secara umum bercorak pemujaan. Satu di antara karya dalam kesenirupaan yang sangat populer ialah pembuatan penjor. Dalam bentuk yang sekecil apapun kreativitas ini menyiratkan nilai-nilai artistik-estetik yang menarik, yang menurut pengistilahan  barat  sangat layak untuk dikatagorikan sebagai seni tersendiri yaitu seni sesaji (the art of offering arrangement). Penjor dinilai sebagai ”rangkaian sesaji” yang tidak saja indah tetapi juga sangat baik dengan nilai-nilai keagamaan maupun falsafah hidup, dan berciri khas Bali. Karena itu lebih dikatagorikan sebagai desain floral (floral design).

Sebagai rangkaian sesaji sudah tentu punya pakem yang baku, baik dalam konsep maupun tekniknya. Pakem ini sudah dipatuhi turun-temurun secara luas, sehingga sampai kini hampir tidak mengalami sentuhan perubahan yang signifikan. Karena itu kemudian disebut sebagai rangkaian tradisional Bali, berwujud rangkaian sesaji (Penjor).

Pada sekitar tahun 1970-an, sebagai konsekuensi kontak kebudayaan dengan budaya dari luar Bali maupun mancanegara, muncul bentuk-bentuk rangkaian bunga yang sama sekali berbeda dengan rangkaian  tradisional itu. Rangkaian corak baru ini sama sekali tidak berdasarkan konsep apapun kecuali semata-mata hanya sebagai kreasi tata-indah bunga (flower arrangement) yang dibuat guna memuaskan kebutuhan bathiniah yang merindukan keindahan. Mula-mula hanya ibu-ibu rumah tangga dari kalangan ”menengah ke atas” sebagai pengisi waktu luang sambil menantikan suami pulang kantor. Kegiatan ”iseng” ini kemudian makin populer dan serius, sehingga sejak dasawarsa terakhir abad yang lalu bermunculan kursus-kursus merangkai bunga, disusul dengan seminar-seminar dan demo di hotel-hotel berbintang. Menjelang pergantian melinium yang baru lalu timbul usaha peningkatan derajat perangkai bunga, dari sekedar flower arragement menuju floral design, sebagai yang terlihat dalam acara-acara perkawinan sekarang.

Sebagai karya desain, desain floral dilandasi konsep yang jelas. Kerana desain floral bukan lagi sekedar tata-indah bunga melainkan merupakan suatu karya yang mengungkapkan tema atau makna tertentu. Dengan kata lain, merupakan karya yang mengekspresikan sesuatu, apakah keharuan estetis, ataukah makna agamawi/filsafati. Jadi, karya yang ”berbicara” seperti halnya karya cipta seni. bedanya dengan rangkaian sesaji ialah bahwa floral design yang baru ini cenderung merupakan bentuk ekspresi bebas dan begitu pula bentuk strukturnya tidak terkekang oleh pakem-pakem tertentu. Sekedar untuk membedakan penggolongannya, penulis menggunakan istilah ”rangkain sesaji” untuk yang tradisional, dan ”desain floral Bali” untuk kreasi-kreasi baru itu. Dalam hal ini, ”Bali ” tidak selalu mengacu kepengertian gaya (paling tidak untuk sementara ini). Maksudnya, ada karya yang dikemas dalam bentuk tradisional berversi baru, ada yang hanya semata-mata elemen-elemen floral Bali dan produk aksesoris Bali.

Rangkain Sesaji Dan Flora Bali, selengkapnya

Comments are closed.