Rekonstruksi Kesenian Leko Di Banjar Adat Tinungan

Rekonstruksi Kesenian Leko Di Banjar Adat Tinungan

Kiriman: Drs. I Wayan Mudra, MSn, LP2M ISI Denpasar.

Bertepatan dengan Hari Purnama, Jumat Wage tanggal 15 Juli 2011 lalu, sehari sebelum Hari Raya Kuningan bagi umat Hindu di Bali diadakan “nuasen” pembinaan kesenian leko di Banjar Adat Tinungan Desa Apuan Kecamatan Baturiti Kabupaten Tabanan Bali. Nuasen dalam acara ini adalah memilih hari baik untuk memulai kegiatan tersebut dengan harapan pelaksanaannya lancar dan hasilnya baik. Kegiatan pembinaan ini adalah implementasi dari Program Rekonstruksi Seni LP2M ISI Denpasar Tahun 2011. Pada acara “nuasen”/pembukaan tersebut di hadiri staf LP2M ISI Denpasar, Dinas Kebudayaan Kabupaten Tabanan, tokoh dan anggota masyarakat setempat. Sambutan Bupati Tabanan yang dibacakan Kadis Kebudayaan setempat menyambut baik peran ISI Denpasar dalam pengabdiaannya menghidupkan kembali kesenian langka yang pernah ada di banjar tersebut. Kegiatan tersebut diawali dengan acara mendak tirta dari kayangan tiga dan memingit calon penari yang akan dilatih. Tahapan ini penting karena keberadaan kesenian tari leko yang pernah ada sampai tahun enampuluhan di desa  tersebut sangat disakralkan. Pelaksanaan program LP2M ini merupakan pengabdian lembaga ISI Denpasar kepada masyarakat secara nyata. Tidak semua permintaan masyarakat dapat dipenuhi melalui surat-surat yang dilayangkan ke LP2M, karena berbagai keterbatasan yang ada, namun lembaga berkomitmen untuk dapat berbuat maksimal terhadap masyarakat. Pada implementasi program ini LP2M ISI Denpasar membentuk panitia yang membidangi tari, karawitan dan perlengkapan tari (revitalisasi gelungan).

Sebelum pelaksanaan program secara efektif dilaksanakan dilapangan, tim dari LP2M ISI Denpasar mengadakan survey pendahuluan untuk memastikan peninggalan-peninggalan yang masih diwariskan oleh pelaku-pelaku seni terdahulu di desa tersebut baik berupa perangkat gambelan, model tari maupun perlengakapan tarinya (busana dan gelungan). Tim mendapat beberapa hasil survey termasuk sejarah kesenian leko yang ada di desa tersebut dari para tokoh tua yang masih ingat dengan keberadaan kesenian tersebut. Hasil survey awal tersebut antara lain :

Kesenian tersebut masih meninggalkan perangkat gambelan hanya berupa daun gambelan yang terbuat dari bambu (di desa setempat disebut tingklik ) tanpa alas (plawah). Daun tingklik tersebut berjumlah sembelan ikat masing-masing terdiri dari 9-12 bilah dengan kondisi masih utuh, namun warnanya hitam karena sejak kesenian tersebut tidak aktif ditempatkan/disimpan di atas perapian. Setelah terjadi kejadian-kejadian yang berkaitan dengan kesakralan yang dialami oleh penyimpan gambelan ini, maka gambelan tersebut ditempatkan di mrajan (tempat suci keluarga).

Data lain yang didapatkan tim survey adalah perlengkapan tari berupa gelungan (hiasan kepala pada penari) sebanyak 6 buah yang jenisnya beberapa ada yang sama dan ada yang berbeda dan sepasang perlengkapan tari seperti sayap yang terbuat dari kulit. Kondisi gelungan tidak layak untuk digunakan dan harus diperbaiki untuk bisa dipergunakan kembali. Kondisi yang usang karena umurnya sudah tua serta penyimpanan yang kurang terawat dengan baik. Ornamen hiasan gelungan yang terbuat dari kulit masih utuh, bekas-bekas tempelan prada masih kelihatan walaupun kondisinya sudah kusam. Bagian dari gelungan yang terbuat dari rotan dan bambu beberapa masih ada yang utuh dan beberapa yang lainnya sudah rusak. Gelungan tersebut ditemukan tim tersimpan di mrajan warga lainnya. Jadi warga menyimpan peninggalan kesenian tersebut pada dua tempat yang berbeda, yang dulunya diperkirakan sebagai pelaku aktif dalam kesenian tersebut. Karena sampai saat ini warga yang menyimpan benda-benda tersebut tidak tahu secara pasti asal-asul keberadaan benda tersebut. Justru informasi didapatkan dari tokoh-tokoh tua warga lainnya. Dari data gelungan yang ditemukan beberapa dosen yang membidangi seni tari memprediksi didesa tersebut pernah aktif kesenian  gandrung. Tim tidak menemukan kontum tari/busana yang masih tertinggal dari kesenian tersebut.

Menurut beberapa sepuh desa yang masih ada dan pernah melihat langsung keberadaan kesenian tersebut walaupun tidak terlibat langsung sebagai penari atau seke tari, mengatakan kesenian leko yang ada di banjar tersebut merupakan warisan, telah ada dan aktif sebelum tahun lima puluhan dan tidak aktif lagi sejak tahun enam puluhan. Keturunan warga yang menjadi seke leko jaman dulu masih dapat disebutkan. Hal ini terbukti pada pertemuan kedua tim survey dengan warga seke tersebut sudah terbentuk yang merupakan keturunan seke leko jaman dulu pernah ada dan hadir pada pertemuan tersebut. Demikian juga penarinya masih bisa disebutkan walaupun penari aktif jaman dulu sudah tidak ada lagi. Mereka sangat antosias dalam usaha membangun kesenian ini karena sangat terkait dengan piodalan di pura banjar adat setempat.

Joged Leko

Untuk lebih mengetahui tentang kesenian yang terkait dengan Leko, tim menelusuri beberapa sumber diantaranya artikel yang ditulis oleh Agung Bawantara pada media on line 5 Oktober 2010. Pada tulisan tersebut kesenian leko dimasukkan dalam katagori kesenian joged yaitu disebut joged leko. Lebih lanjut ditulis jenis joged ini nyaris sama langkanya dengan Joged Pingitan. Joged yang diduga muncul pada tahun 1930-an itu kini hanya terdapat di tiga desa yakni Desa Sibang Gede (Badung), Desa Tunjuk (Tabanan) dan Desa Pedem (Jembrana).

Joged jenis ini menampilkan gerak tarian menyerupai gerak tari Legong Keraton sebagai pembuka, lalu dilanjutkan dengan gerak bebas saat bagian pengibing-ibingan.Dalam sebuah pementasan, penampilan Joged Leko diawali dengan Condong yang dibawakan oleh seorang penari dengan gerak-gerak abstrak, lalu dilanjutkan dengan Kupu-kupu Tarumyang dibawakan oleh sepasang penari untuk menggambarkan kemesraan sepasang kupu-kupu yang bercengkerama di sebuah taman bunga.

Usai Kupu-kupu Tarum, penampilan dilanjutkan dengan Onte yang juga dibawakan secara berpasangan. Bagian ini mengisahkan sepasang muda-mudi sedang asyik memadu kasih. Disusul kemudian dengan Goak Manjus yang menggambarkan sepasang burung gagak sedang mandi dengan riang di sebuah telaga.Terakhir, tampillah Joged yang dibawakan beberapa penari yang tampil secara bergiliran. Setiap penari, menunjuk (nyawat) seorang laki-laki dari kerumunan penonton yang diajaknya sebagai pasangan menari dalam beberapa putaran. Setiap penari Joged biasanya melakukan tiga sampai lima putaran paibig-ibingan, sebelum digantikan oleh penari Joged yang lain.

Pada saat tertentu Penari Joged tiba-tiba trance dan mengamuk. Biasanya hal tersebut terjadi jika Joged Leko menampilkan kisah Calonarang sebagai inti pertunjukannya. Tranceumumnya terjadi saat adegan perkelahian ditampilkan.

Pada tulisan Dr. Ni Made Ruastiti, SST. Msi “Seni Pertunjukan Pariwisata Indutri Kreatif Berbasis Kesenian Bali”, di Desa Tunjuk  Kabupaten Tabanan juga terdapat tari Leko. kesenian tersebut merupakan merupakan warisan dari nenek moyang setempat, kehadirannya merupakan tarian pergaulan yang masih tetap dikeramatkan dalam penampilannya menggunakan upakara dan upacara yang bersesaji. Tujuannya untuk memohan keselamatan, dan mendatangkan taksu sesuai dengan yang diinginkannya. Tari Leko adalah tarian Legong yang berkembang sebagai tarian rakyat dan diiringi oleh instrument bamboo serta terdapat peibing – ibingan dalam suatu pertunjukannya. Perkembangan Tari Leko terdapat unsur – unsur pelegongan dalam gerak tarinya, tata busana,gending-gending pengiring , maupun cerita – cerita yang di pakai dalam suatu pementasan , yang semula adalah instrumen bamboo diganti dengan instrument besi ( Pelegongan ) .

Kesenian leko dikelompokkan pada seni bebali yang berfungsi sebagai pengiring upacara dan upakara keagamaan di pura-pura ataupun di luar pura pada umumnya memakai lakon. Seni tari dan seni tabuh/karawitan yang dipakai sebagai pengiring upacara keagamaan di Bali, misalnya Topeng, Gambuh, Leko, Wayang Kulit, Angklung, Semar Pegulingan, dan Baleganjur

Pelaksanaan efektif rekonstruksi seni di Kabupaten Tabanan ini dimulai 5 Agustus 2011 selam tiga bulan. Mudahan-mudahan pengabdian ini dapat berjalan lacar dan berhasil baik sehingga dapat enjadi cerminan lembaga ISI Denpasar sebagai lembaga yang ikut menjaga kelestarian seni tradisi sebagai modal membangun karakter bangsa.

Rekonstruksi Kesenian Leko Di Banjar Adat Tinungan, selengkapnya

Comments are closed.