Resensi Buku: Krisis Legitimasi

Resensi Buku: Krisis Legitimasi

Kiriman: Saptono, SSen. Dosen PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.

Judul Buku            : Krisis Legitimasi

Penulis                    : Jurgan Habermas

Penerjemah           :Yudi Santoso

Penerbit                 : Qalam, Yogyakarta

Tahun Terbit         : Juli 2004 (cetakan pertama)

Jumlah halaman  : 378 + x halaman

Habermas seorang ilmuwan Jerman yang terkenal dan merupakan tokoh utama dalam Positivimusstreit yang mendominasi filsafat sosiologi Jerman tahun 1960-an. Beliau telah berhasil merumuskan dan mengembangkan sebuah prespektif tunggal, namun sistematik, yang didalamnya seluruh pengetahuan dapat dirangkul (hlm. 53-54). Sehingga karya-karyanya tak terhitung namun terjemahan indonesianya tergolong langka.

Buku ini merupakan karya Jurgan Habermas dengan judul asli Legimations problems in Spetkapitalismus yang terbit tahun 1973 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris 2 tahun kemudian dengan judul Legitimation Crisis, 29 tahun kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indoanesia dengan judul Krisis Legitimasi. Pada pengantar penerbit dijelaskan bahwa buku ini sulit untuk dipahami, dianjurkan untuk membaca terlebih dahulu beberapa buku pengantar yaitu buku “Masyarakat Komunitatif” karya Budi Hardiman dan sebagai upaya penerbit untuk membantu pembaca dalam memahami isi buku maka dilengkapi pula dengan prawacana.

Uraian dalam buku ini dibagi ke dalam 4 bagian. Secara umum uraian dalam bagian pertama merupakan pengantar untuk memahami isi buku, bagian kedua membahas konsep ilmiah krisis, bagian ketiga membahas kaitan antara kapitalisme lanjut dengan krisis, bagiam keempat yang merupakan bagian terakhir membahas tentang legitimasi dari sudut filsafat.

Pada bagian pertama yang berjudul prawacana merupakan pengantar panjang dari seorang pakar yaitu Joseph Heath dari Universite de Montreal dan Thomas McCarthy dari Universitas Boston. Prawacana ini tidak ada dalam buku asli, tujuan penerbit mencantumkan bagian ini untuk membantu pembaca memahami isi buku. Dengan membaca prawacana pembaca akan memperoleh gambaran tentang isi buku dengan jelas, sehingga dengan hanya membaca bagian ini pembaca sudah dapat menangkap arah dari pemikiran Habermas tentang krisis legitimasi secara umum. Pada bagian ini diuraikan latar belakang pamikiran Habermas, konsep-konsep dasar dari krisis legitimasi dan aplikasi pamikiran Habermas dalam kenyataan di masyarakat. Namun akan lebih baik jika pembaca mengikuti/membaca bagian-bagian selanjutnya agar diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang pemikiran Habermas terhadap krisis legitimasi khususnya kaitannya dengan kenyataan sosial di masyarakat.

Menurut pendapat Joseph (hlm. 3-52) dengan mengacu pada perkembangan analisa Habermas tentang legitimasi semenjak Legitimation Crisis, kemudian dalam The Theory of Comunicative Action, sampai pada karya mutakhirnya Between Facts and Norms. Maka Legitimation Crisis dicirikan oleh dua komitmen inti; versi teori sistem Parsonian fase akhir dan pandangan luas Lukacsian tentang modernitas kebudayaan (cultural modernity). Konsep “legitimasi” yang menduduki posisi sentral dalam teori krisis Habermas, merupakan sebuah konsep sosiologis yang abstrak. Untuk memahami penggunaan istilah kiris legitimasi, penting kiranya untuk memahami ide-ide tertentu yang memainkan peran sentral, khususnya dalam teori sistem Parsons, konsep-konsep terkait tentang integrasi normatif (normative integration), diferensiasi fungsi (functional differentiation), dan hubugan pertukaran (interchange relations). Parson memahami sebuah sistem sosial sebagai seluruh rangkaian interaksi sosial yang meliputi kesaling-ketergantungan penuh makna antara tindakan-tindakan berbagai unit. Supaya sistem ini bisa tetap dipertahankan dan diproduksi, maka ada empat persoalan mendasar yang harus diselesaikan: (A) adaptasi/adaptation, (G) pencapaian tujuan/goal attainment, (I) integrasi/integration, dan (L) pola pemeliharaannya/pattern maintenance. Logika imperatif fungsi Parsons bisa dilihat dari analiisisnya tentang tindakan sosial. Dalam pandangan Parsons, dimensi tertata dari interaksi sosial bisa terjadi karena agen bisa mematuhi serangkaian aturan (norma sosial) yang dianut bersama.

Resensi Buku: Krisis Legitimasi selengkapnya

Comments are closed.