Resensi Buku: Pragina

Resensi Buku: Pragina

Penulis I Wayan Dibia, Tahun 2004, Sava Media, XIX., 152 halaman

Kiriman: I Gede Suwidya, Mahasiswa PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.

I Wayan Dibia adalah seorang penari, aktor, dan pelaku Seni Pertunjukan Bali yang aktif melestarikan,mengembangkan, serta memperkenalkan seni pertunjukan Bali ke berbagai belahan dunia. Beliau juga merupakan salah seorang dosen di Institut Seni Indonesia Denpasar. Dalam buku ini disebutkan bahwa, seni pertunjukan pada dasarnya adalah suatu kesenian yang lahir dari interaksi dan kerjasama sejumlah orang. Mereka yang terlibat dalam sebuah pagelaran seni dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu : penyaji atau pelaksana dan penikmat atau penonton. Kelompok pertama, yaitu : penonton atau penikmat, yaitu orang yang menyaksikan pertunjukan dari luar arena pementasan. Mereka terdiri atas sejumlah orang yang berasal dari berbagai status sosial, kepentingan, dan tingkat apresiasi seni yang berbeda beda. Kelompok ke dua mencakup penyelenggara, perancang atau penata, dan para pemain yang melakukan peragaan serta yang mengaktualisasikan kesenian itu diatas pentas. Salah satu elemen penting dari pemain adalah penari atau aktor yang di kalangan masyarakat Bali secara kolektif disebut pragina.

Di mata masyarakat umum, pregina cenderung dilihat hanya pemain yang secara langsung beraksi diatas pentas. Sesungguhnya di luar pentas, pregina juga menjadi penentu terhadap keberlangsungan hidup sebuah seni pertunjukan. Di beberapa daerah di Bali ada sejumlah kesenian yang hingga kini belum bisa diaktifkan karena krisis pragina walaupun perlengkapan perangkat dan perlengkapan pertunjukannya seperti topeng-topeng (tapel) hiasan kepala (gelungan), dan lain-lainnya masih tersimpan dengan baik dan dikeramatkan atau disakralkan oleh masyarakat pemiliknya.

Seni Pertunjukan dan Senimannya

Seni pertunjukan pada dasarnya adalah presentasi ide, gagasan atau pesan kepada penonton oleh pelakunyamelalui peragaan. Kesenian pada umumnya memadukan tiga substansi utama, yaitu : gerak, suara, dan drama. Seni pertunjukan adalah sebuah karya seni yang memadukan hampir semua unsur seni. Seni rupa sangat dominan dalam tata rias, busana, dan dekorasi. Seni sastra yang menghasilkan lakon-lakon yang dipentaskan termasuk unsur narasi lainnya, baik yang diucapkan antar wacana maupun yang dilagukan. Seni gerak diwujudkan melalui tari-tarian  yang dibawakan oleh para penari atau yang disajikan dengan menggerak-gerakkan boneka seperti wayang. Seni suaranya mencakup iringan musik baik yang berupa vokal maupun instrumental. Seni pertunjukan (musik,tari,teater) adalah kesenian yang sangat tergantung kepada kehadiran seniman-seniwati pelakunya. Kesenian ini tidak akan pernah ada jika tidak ada pelakunya, yaitu : penari, pemusik, dan aktor yang secara langsung memperagakan dan menyajikan pertunjukan kepada penonton. Meminjam ungkapan seorang ahli teater Barat, Oscar Brockett, pemain (penari/aktor) inilah yang dilihat secara langsung oleh penonton diatas pentas.

Berdasarkan elemen-elemen seni yang dominan, seni pertunjukan dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu : seni pertunjukan tari, seni pertunjukan musik, dan seni pertunjukan drama (teater). Secara umum dapat dikatakan bahwa seni pertunjukan tari atau drama tari adalah sajian seni pentas yang lebih menonjolkan sajian seni gerak. Sedangkan, seni pertunjukan musik adalah yang sajian seni pentas yang lebih mengutamakan sajian seni suara, baik suara vokal maupun instrumental, dan seni pertunjukan drama (teater) adalah sajian yang lebih mengutamakan penyajian kisah dramatik melalui akting dan dialog verbal. Adanya perpadun berbagai elemen seni seperti itu juga menunjukkan bahwa seni pertunjukan adalah kesenian yang lahir dari kolaborasi sejumlah seniman dan pelaku seperti : penyusun naskah atau lakon, sutradara pemain musik, penari, aktor dan aktris. Dalam menghasilkan sebuah pementasan dan menata muatan-muatan artistik sebuah pertunjukan, mereka ini bekerjasama sesuai bakat dan keterampilan seni yang dimiliki oleh masing-masing individu. Di antara semua pekerja dan pelaku seni pertunjukan ini, pragina dan pemain musik inilah yang menjadi pelaku langsung diatas pentas. Pregina mempersonifikasikan ruang pentas di hadapan para penonton.

Seniman dan Kreativitasnya

Seniman dan karya seninya adalah dua entitas yang tidak dapat dipisahkan. Keduanya saling menentukan dan saling membutuhkan. Seniman, dalam batas-batas tertentu, dapat dikatakan sebagai manusia biasa yang memiliki kemampuan “luar biasa”. Dalam kehidupan sehari-hari seniman adalah bagian dan anggota masyarakat. Dengan bakat, kemampuan, dan keterampilan yang dimilikinya, seniman menciptakan karya seni dengan menggunakan berbagai media, yang dapat menggugah rasa estetis, membangkitkan rasa ulangun bagi dirinya dan penikmat karyanya. Manusia menciptakan seni bukan secara kebetulan, melainkan dengan tujuan-tujuan tertentu. Ini berarti bahwa seni diciptakan bukan karna kebetulan melainkan secara sengaja melalui perenungan, perencanaan, dan olah rasa yang panjang. Pada tujuan terakhir para seniman menciptakan karya seni dengan maksud untuk memperoleh kenikmatan sepiritual atau sebagai ibadah dewa keindahan, Sang Pencipta, Sang Kawi. Para seniman Bali sering menyebutkan aktivitas berkeseniannya dengan ngayah yang dapat diartikan sebagai suatu pengabdian kepada manusia, masyarakat, dan Tuhan.

Dalam mewujudkan karya-karya mereka banyak seniman yang ingin menyentuh hati penikmat karyanya dengan keindahan ragawi melalui fisik dan tidak sedikit berkomunikasi dengan kedalaman maknawi. Berbicara masalah karya seni, Virgil Aldrich mengatakan bahwa seni itu adalah suatu tertium kuid ; yang tidak bersifat fisikal dan tidak juga bersifat mental, melainkan diantaranya. Terkesan oleh kehidupan berkesenian masyarakat Bali yang dilihatnya di tahun 1930-an, dalam buku Island of Bali, Miguel Covarrubias antara lain mengatakan bahwa tampaknya, setiap orang Bali adalah seniman. Buruh-buruh dan bangsawan, pendeta dan petani, laki dan wanita, bisa menari, bermain alat musik, melukis atau memahat kayu atau batu. Ungkapan ini mengisyaratkan dua hal mendasar bagi aktivitas seni dan budaya di bali : pertama, memasyarakatnya aktivitas berkesenian di kalangan masyarakat, dan kedua, adanya keterlibatan dari berbagai lapisan sosial yang ada.

Pengertian Pragina

Secara umum dapat dikatakan bahwa pragina adalah sebuah “gelar” profesional kesenimanan yang diberikan oleh masyarakat Bali kepada seniman panggung, khususnya kepada penari dan aktor (actor-dancer). Namun, menurut pendapat beberapa ahli kesenian Bali, sebutan ini hanya tepat diberikan kepada penari-penari dan aktor yang masih aktif dan yang memang benar-benar telah menjadikan seni pentas sebagai geginaan (profesi) dan gagunan (alat daya tarik). Ada dua pengertian pragina yang selama ini berkembang di kalangan masyarakat Bali pertama, pragina adalah seniman/seniwati pelaku seni pentas (penari/aktor). Di dalam Kamus Bali-Indonesia yang disusun oleh Panitia Penyusun Kamus Bali-Indonesia disebutkan bahwa pragina berasal dari kata gina yang berarti indah atau baik. Dalam bahasa Bali awalan pra atau kadang-kadang per, antara lain dipakai untuk menyatakan suatu jabatan atau suatu golongan. Sesuai dengan hal ini, istilah pragina dipakai untuk menyebutkan seniman tari. Kedua, sebagaimana yang dituturkn oleh I Made Sija, seorang seniman asal Bona/Gianyar, pragina berasal dari kata “para” yang berarti banyak dan “gina” yang berarti profesi. Paragina yang kemudian menjadi pragina berarti orang yang memiliki berbagai macam keahlian seni. Kedua pengertian ini tampaknya memang saling mendukung dan bisa terjadi pada seorang pragina.

Pragina Bali

Berikut adalah pragina yang pernah dan atau masih cukup dikenal oleh kalangan pencinta seni pertunjukan di Bali : Cokorda Oka Tublen, I Nyoman Kakul, I Wayan Geria, I Made Kredek, I Nyoman Pugra, I Gusti Gede Raka, Ni Nyoman Rindi, I Made Monog, Ida Bagus Made Raka, I Ketut Renteg, Ni Jero Puspawati, Ni Ketut Ribuwati, I Gusti Ngurah Windia, Ni Gusti Ayu Raka Rasmi, Ni Luh Menek, I Made Liges, Anak Agung Raka Payadnya, I Made Jimat, Ni Nyoman Candri, I Nyoman Catra, I Made Widastra, I Nyoman Durpa.

Pragina Luar Daerah

Apa yang dialami oleh pragina Bali, terutama dalam proses berkesenian, tampaknya tidak jauh beda dengan yang dialami oleh para “pragina” di daerah lain seperti : Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jakarta.

Adapun tokoh-tokoh atau pragina tersebut seperti : Ibu Sawitri (Jawa Barat), Bagong Kussudiardja (Yogyakarta), K. R. T Sasmintadipura (Yogyakarta), Retno Maruti (Jakarta), Boi G. Sakti (Jakarta)

Menurut pendapat saya bahwa, buku yang berjudul “pragina” ini sangat bagus dijadikan sebagai media pembelajaran, khususnya dalam belajar berkesenian. Sehingga kita dapat mengetahui pengertian, bagian-bagian,serta keseluruhan yang mencakup tentang istilah pragina.

Resensi Buku: Pragina selengkapnya

Comments are closed.