Revitalisasi dan Inovasi Dramatari Arja: Sebuah Harapan Baru

Revitalisasi dan Inovasi Dramatari Arja: Sebuah Harapan Baru

Kiriman Ida Bagus Surya Peradantha, S.Sn.

Dramatari Arja, merupakan kesenian tradisional Bali yang terkenal. Setiap kabupaten di Bali, sejak jaman dahulu telah memiliki Dramatari Arja dengan berbagai style atau gayanya masing-masing. Pada tahun 1920-an sampai 1960-an, kesenian ini menemukan kejayaannya, dimana setiap pementasannya selalu dipadati penonton. Durasi yang panjang, yaitu sekitar 5-6 jam ini tidak menyurutkan niat penonton untuk menyaksikan jalannya cerita hingga penghujung. Wajar saja Dramatari Arja pada jaman itu menjadi tontonan sekaligus hiburan utama masyarakat, mengingat pola hidup masyarakat serta kebiasaan yang dianut tidaklah seperti sekarang. Setelah masa kejayaannya berakhir, eksistensi Dramatari Arja perlahan tapi pasti mengalami kemunduran. Bahkan tidak jarang, setelah ditinggalkan oleh para generasi emasnya, sangat sulit ditemukan seniman yang memiliki bakat sekaligus niat untuk melanjutkannya.

Etimologi kata Arja menurut I Made Bandem dalam bukunya Ensiklopedi Tari Bali diduga berasal dari kata “ Reja “  yang mendapat awalan “A” sehingga menjadi kata Areja. Oleh karena kasus pembentukan kata, istilah Areja berubah menjadi Arja yang berarti “sesuatu hal yang mengandung keindahan”. Dewasa ini kata Arja dipergunakan untuk menamakan satu jenis kesenian Bali yang berunsurkan tari, drama dan nyanyian.

Melihat perkembangan teater belakangan ini, maka teater dapat digolongkan ke dalam 3 jenis, masing-masing :

  1. 1.    Literary Music Form ( Bentuk literer, Drama )
  2. 2.    Musical Form ( Seni Drama yang mempergunakan seni suara sebagai pengungkap cerita, juga dapat disebut opera )
  3. 3.    Audio Visual Form ( Televisi dan Film )

Setelah kita mengetahui penggolongan jenis teater tersebut, maka dapatlah kita menggolongkan Dramatari Arja ini ke dalam Musical Form, dimana musik ( Tembang dan Instrumental ) menjadi bagian yang paling dominan dan penting. Karena, setiap pengungkapan dramatisasi pasti menggunakan tembang dan istrumen.

Jika diperhatikan ke belakang, di saat derasnya pengaruh globalisasi, kebutuhan manusia akan sebuah hiburan sungguh merupakan sesuatu yang mutlak. Hal ini dikarenakan begitu padatnya volume aktivitas yang mereka jalani tiap harinya. Maka dari itu, waktu luang yang ada merupakan hal yang harus dimanfaatkan secara efisien untuk menyegarkan kembali pikiran yang lelah. Salah satu cara misalnya adalah dengan menyaksikan televisi yang sarat hiburan berbagai genre. Namun di sisi lain, justru hal inilah yang menjadi salah satu penyebab pudarnya kilau Dramatari Arja yang dahulu merupakan hiburan yang ditunggu-tunggu.

Sebagai seorang seniman muda, saya mencoba untuk peka terhadap isu yang terjadi pada apa yang dihadapi oleh Dramatari Arja. Kebetulan, saya mempunyai seorang nenek yang merupakan penari Arja terkenal pada zamannya. Beliau bercerita bahwa membawakan kesenian Arja merupakan sesuatu yang sangat sulit. Kita dituntut harus bisa berakting, berdialog verbal, berdialog dengan tembang tradisional Bali, menari dan bahkan mengarang syair tembang secara spontan di atas panggung. Di samping itu, seorang penari juga dituntut untuk mengetahui beberapa cerita yang bersumber dari legenda, babad, epos, dan sejarah. Secara tidak langsung hal ini menuntut seorang penari harus menguasai bidang sastra daerah secara cukup dalam.

Kompleksitas dari Dramatari Arja inilah yang ternyata menjadi salah satu isu penting dari memudarnya pamor kesenian ini di mata seniman muda dan menyebabkan perlunya proses ekstra panjang untuk melakukan regenerasi. Di samping itu, pengaruh televisi yang menyajikan jenis hiburan lebih beragam, menarik, mudah dan murah, serta praktis, juga turut memberikan andil sepinya penonton untuk menyaksikan hiburan tradisional seperti Dramatari Arja. Maka dari itu, kesenian ini pun menyesuaikan diri dengan memadatkan cerita dan durasi pementasan menjadi maksimal dua jam yang semula sangat panjang hingga enam jam. Cukupkah itu untuk kembali menarik minat masyarakat menyaksikan Dramatari Arja tradisional? Sayang sekali, hal itu belumlah memberikan hasil maksimal untuk menyegarkan kesenian ini.

Untungnya, seniman di Bali tidak begitu saja melupakan dan meninggalkan warisan kesenian adiluhung ini. Sebagai bukti, untuk menyelamatkan keberadaan Dramatari Arja, banyak usaha yang dilakukan, seperti misalnya pembinaan sejak usia dini, dibukanya kesempatan tiap sanggar untuk menampilkan kesenian Arja pada event-event tertentu seperti PKB kali ini, hingga revitalisasi dan inovasi keberadaan Dramatari Arja. Usaha terakhir ini patut mendapat perhatian lebih, sebab memungkinkan seorang seniman untuk membawa sebuah misi pembaruan dalam usahanya mempertahankan eksistensi kesenian ini.

Revitalisasi dan Inovasi Dramatari Arja: Sebuah Harapan Baru, selengkapnya

Comments are closed.