Rogoh USD 500 juta Demi Sekolah di Mancanegara

Rogoh USD 500 juta Demi Sekolah di Mancanegara

JAKARTA - Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) mencatat bahwa saat ini sekitar 50 ribu pelajar/mahasiswa asal Indonesia tengah menempuh pendidikan di luar negeri. Sekretaris Dewan Perguruan Tinggi pada Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiknas, Prof Nizam, dari jumlah itu estimasi biaya pendidikan pelajar dan mahasiswa Indonesia di luar negeri setiap tahunnya diperkirakan mencapai USD 500 juta, atau USD 10 ribu untuk setiap pelajar/mahasiswa.

Hal itu diungkapkan Nizam dalam diskusi bertema "Pendidikan Tinggi: Untuk Komersialisasi atau Masyarakat?" di ruang FPKB di DPR, Jakarta, Rabu (6/4). Menurutnya, sebenarnya uang hingga ratusan dolar itu bisa digunakan untuk membangun sejumlah perguruan tinggi bertaraf internasional. ”Kalau pemerintah mau menginvestasikan dana sebesar itu untuk membangun perguruan tinggi di Indonesia, saya yakin devisa negara yang sebesar itu dapat dihemat. Dunia pendikan juga akan jauh lebih maju dari sekarang,” tambahnya.

Dalam diskusi yang juga dihadiri Direktur Pendidikan Tinggi Islam (DIKTIS) Kementerian Agama, RI Prof Dr H Machasin MA dan pengamat pendidikan Darmaningtyas itu, Nizam juga menegaskan, 50 ribu pelajar/mahasiswa yang menempuh pendidikan di luar negeri jelas bukan angka yang kecil. Dirincikannya, saat ini saja sekitar 10 ribu Warga Negara Indonesia (WNI) menempuh pendidikan Australia. Di Amerika Serikat, terdapat sekitar 7 ribu WNI yang tengah menimba ilmu. Sedangkan di Jepang, terdapat sekitar dua ribu WNI yang juga tengah menempuh. Ada pun di Mesir sebanyak 5 ribu WNI.

Nizam menambahkan, kondisi ini semestinya membuat perguruan tinggi (PT) di Indonesia merasa termotivasi. "Ini menunjukkan saudara-saudara kita memiliki minat yang tinggi akan pendidikan yang berkualitas. Ini harus menjadi cambuk bagi perguruan tinggi di Indonesia untuk kualitasnya,” imbuhnya.

Lebih lanjut Nizam mengungkapkan, saat ini lulusan PT di tanah air dihadapkan pada tantangan yang berat. Sebab, lapangan pekerjaan yang tersedia tak seimbang dengan jumlah lulusan PT.

Tidak hanya itu, lanjut Nizam, saat ini warga negara asing lulusan PT di luar negeri  juga mengincar lapangan peklerjaan di Indonesia. "Dari India dan Vietnam itu sudah ada yang mencari pekerjaan di Indonesia," bebernya.

"Karena itu perguruan tinggi di dalam negeri harus bisa menciptakan mahasiswa dan lulusan yang berkualitas. Syukur-sukur di tengah angka pengangguran yang mencapai dua juta orang lulusan PT bisa mandiri dan menyediakan lapangan pekerjaan," paparnya.

Sementara Darmaningtyas mengatakan, orientasi PT di Indonesia untuk bisa bersaing di tataran internasional justru sering menjerumuskan kalangan PT pada jebakan kapitalisme. Menurutnya, selama ini pemeringkatan perguruan tinggi dunia lebih didasarkan pada jumlah jurnal akademik, ataupun penggunaan teknologi informasi di dunia pendidikan.

"Apakah pemeringkatan itu juga sudah memperhitungkan asas manfaat perguruan tinggi bagi masyaraklat di sekitarnya" Pemeringkatan itu juga tidak memasukkan KKN (Kuliah kerja Nyata) yang jelas bermanfaat bagi masyarakat. Jadi jangan karena mengejar peringkat lantas masuk jebakan kapitalisme dan meninggalkan asas manfaat bagi masyarakat kita sendiri," cetusnya.

Sumber: jpnn.com

Comments are closed.