Rumah-rumah Peninggalan Austronesia 2

Rumah-rumah Peninggalan Austronesia 2

Oleh : Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana Fakultas Seni Rupa dan Desain – Jurusan Interior Desain Institut Seni Indonesia Denpasar

Rumah Gadang : Rumah Besar Minangkabau

Masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat mengembangkan satu dari ragam atap pelana Austronesia paling khusus dan sempurna yang ditemukan di Indonesia. Rumah tradisional yang disebut rumah gadang atau “rumah besar”, menjadi bagian menakjubkan dataran tinggi Mingkabau, meski rumah itu tidak seumum masa lalu. Beberapa rumah tua yang lebih besar memberi tempat penampungan bagi beberapa keluarga dekat secara matrilineal (garis keturunan ibu) di bawah satu atap.

Pada masa lalu, rumah besar Minangkabau sesuai namanya ; seorang opsir penjajah Belanda menemukan lebih dari 100 orang hidup satu dalam rumah di Alahan Panjang, antara 60 – 80 orang hidup di rumah lain. Bangunan terbesar berukuran 120 x 15 m dengan 20 biliak, atau ruang keluarga. Selama abad ini, perang dan bencana alam menyebabkan kehancuran banyak rumah yang lebih tua. Beberapa tubuh oleh gempa bumi yang menghantam Padang Panjang tahun 1926 ; ribuan lebih hancur selama perang kemerdekaan Indonesia (1945 – 49 ) dan selama pemberontakan PRRI tahun 1950 yang gagal. Terbukti sangat mahal untuk membangun rumah-rumah besar ini dan membiayai upacara pembangunannya. Penebangan hutan mengakibatkan sulit mendapatkan pohon besar untuk melengkapi tiang-tiang utamanya untuk rumah gadang. Sekarang banyak orang menganggap lebih bangga membangun rumah modern dengan beton. Bagaimanapun rumah tua itu penting sebagai tempat asal usul dan tempat untuk upacara.

Bagian-bagian rumah Minangkabau disatukan tanpa paku, tiang sambung, dan palang pembentuk rangka dipasak ditempat. Tiang utama rumah didirikan tegak, tiang luar rumah lebih tua agak condong ke luar sedikit. Hal itu untuk memberi sentuhan garis atap yang dibangun ke atas dan ke luar dengan cara balok-balok melintang dan kerangka penguat, puncaknya diperluas dengan pemakaian penunjang dan pengikat. Atap tradisional dibuat dari serat ijuk yang tahan sampai ratusan tahun, walaupun seng gelombang menjadi pengganti sejak 1907. Jenis bangunan lain, seperti lumbung padi, tempat sembahyang dan tempat pertemuan, meniru bentuk asli rumah.

Rumah Panjang Mentawai

Di sebagian besar tempat di Kepulauan Mentawai, pengaruh modern membawa perubahan besar dalam kebudayaan tradisional, tetapi rumah panjang masih dapat ditemukan di daerah Siberut, pulau terbesar dari gugus kepulauan tersebut. Satu uma terdiri dari banyak keluarga. Uma Mentawai berdiri di atas tiang-tiang dan dibangun tanpa paku, membuat teknik konstruksi tanggam sambungan atau ikatan.

Seperti banyak rumah orang Indonesia, penataan kayu tegak dan melintang harus mengikuti arah dari pertumbuhan bahan yang dipakai. Pusat upacara di rumah ditandai dengan tiang siege legeu, yang berdiri ke kanan arah pintu masuk ruangan dalam. Ada kepercayaan bahwa roh halus pahlawan pembela budaya tinggal di bawah tiang dan bila rumah disucikan pada saat penyelesaian, inilah tempat bakkat katsaila ditempelkan. Yang terakhir adalah jimat rumah utama, terdiri atas segumpal daun-daun suci yang mempunyai pengaruh “mendinginkan” rumah dan hidup penghuninya. @ Tjok Istri Ratna Sudharsana- FSRD

Comments are closed.