Sabungan Ayam, Pentas Pertarungan Orang Bali

Sabungan Ayam, Pentas Pertarungan Orang Bali

Kiriman Kadek Suartaya, dosen PS Seni Karawitan

Ketika matahari telah condong ke barat, adu ayam pun dimulai di sudut Desa Singapadu, Gianyar. Para babotoh berkerumun mengitari sisi-sisi kalangan 4X 4 meter itu. Dua ayam,  bertaji segera akan ditarungkan oleh dua pakembar. Suasana riuh membumbung bersautan, cok, gasal, telude dan sebagainya--menyebut nama sistem taruhan dalam sabung ayam di Bali. Mong, mong, mong--kemong dipukul oleh saya (juri)--pertarungan ayam putih versus ayam merah pun dimulai. Suasana terasa tegang. Teriakan-teriakan bergemuruh menyertai perkelahian hidup mati dua ayam jantan itu. Ayam putih mengerang bersimbah darah terjerembab sekarat dan dinyatakan kalah. Ekspresi girang tampak pada wajah babotoh yang menang dan sebaliknya rona kuyu terbersit pada babotoh yang kalah.

Mamasuki pertarungan berikutnya suasana kembali gegap. Namun sesaat setelah dua ayam petarung dilepas, tiba-tiba terdengar suara sirine yang meraung-raung. Ada yang beteriak: polisi, polisi! Para babotoh itu bubar dan lari tunggang langgang. Banyak yang ambil langkah seribu menyuruk ke persawahan dan semak-semak. Senyap sejenak, seorang yang mengaku bendesa setempat, memanggil beberapa para babotoh yang bersembunyi ketakutan. Jero Bendesa menasehati orang-orang yang masih diliputi rasa was-was itu untuk tidak memanfaatkan ritual tabuh rah sebagai ajang judi. “Tabuh rah itu korban suci untuk menjaga harmoni alam dan kehidupan,” ujar bendesa berambut panjang memakai udeng putih tersebut.

Adalah sabungan ayam dalam ritual tabuh rah menjadi sumber inspirasi seorang seniman Bali, I Wayan Sutirtha, dalam sebuah karya seninya bertajuk “Tabuh Rah, Antara Ritual dan Judi”. Kendatipun ditampilkan secara sesungguhnya, sabungan ayam yang membaurkan penari terlatih, babotoh, polisi dan masyarakat umum itu adalah sebuah simulakra dari sebuah penciptaan karya seni pertunjukan. Beberapa turis asing yang  menyaksikan “pertunjukan” sabungan ayam di jaba Pura Baban, Singapadu, itu pun secara tak sengaja ikut menjadi pemain. Sepasang turis asing tampak kebingungan ketika adu ayam itu bubar berantakan.

Pengejawantahan estetik dari tabuh rah yang disertai taruhan uang itu terajut di Bale Banjar Seseh, Singapadu, tak jauh dari arena sabungan ayam. Dibawakan oleh 40 orang penari pria bertelanjang dada memakai selembar kain dan udeng yang diikatkan sekenanya. Sebuah komposisi seni pentas yang memadukan elemen-elemen gerak dan musik mengalir dinamik sepanjang 15 menit. Eksplorasi gerak-gerak bebas improvisatoris tampak dicuatkan. Derak musikal dari hentakan tubuh para penari penimpali dengan ritmis. Pekik cok, gasal, dapang, apit, buik, bihing, serawah, sangkur dijalin bak simponi. Kumandang dendang lagu-lagu rakyat Bali yang bertema ayam aduan dan sabung ayam, menggarisbawahi keseluruhan karya seni pentas ini.

Kendati disaksikan begitu antusias oleh masyarakat setempat, sejatinya, garapan seni tari Wayan Sutirtha itu  digarap dan disajikan sebagai karya tugas akhir untuk menyelesaikan jenjang akademik S2 Penciptaan Seni di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Siang itu, sebuah tim penguji dari ISI Surakarta secara khusus didatangkan berbaur dengan masyarakat penonton bersama-bersama menyimak karya salah seorang dosen tari Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar tersebut. Atas garapannya yang memikat itu, sore itu juga, Sutirtha dinyatakan lulus dan berhak menyandang gelar magister seni (M.Sn).

Sabungan Ayam, Pentas Pertarungan Orang Bali selengkapnya

Comments are closed.