Sanggar Printing Mas: Sejarah dan Pola Manajemennya

Sanggar Printing Mas: Sejarah dan Pola Manajemennya

Kiriman: Ida Bagus Gede Surya Peradantha, S.Sn., Alumni ISI Denpasar

Sejarah Sangar

Sanggar tari Printing Mas merupakan sanggar yang tidak hanya membidangi wilayah tari, namun juga tabuh dan kostum. Sanggar tari ini di Bali cukup dikenal oleh karena kualitas dan kredibilitasnya. Terletak di Jl. Meduri no.11, Denpasar Timur, sanggar tari ini selalu saja ramai dikunjungi oleh anak-anak atau remaja yang belajar tari dan tabuh serta konsumen yang ingin menyewa atau membeli pakaian tari. Wajar saja, karena disamping eksis di bidang tari, sanggar ini memiliki spesialisasi di bidang pembuatan dan sewa pakaian.

I Wayan Oklan dan adiknya I Made Oklin, adalah dua orang bersaudara yang merupakan pencetus ide untuk mendirikan Sanggar Printing Mas. Sanggar ini pada mulanya hanyalah kumpulan seniman yang merasa terpanggil untuk mengabdi di jagat seni tradisi Bali, tanpa memandang imbalan. Hal inilah yang dituturkan oleh sang ketua sanggar Eka Surya Wirawan. Sesuai penuturannya, sanggar ini dahulunya tidak memiliki modal pendukung seperti instrument gong kebyar. Instrumen tersebut akhirnya didapat dengan cara meminjam dari pihak Bank Sri Partha yang terletak di dekat sanggar ini berada. Kompensasinya, bila di Bank Sri Partha terdapat upacara keagamaan yang memerlukan pementasan kesenian, maka kelompok seni yang dipimpin Oklan dan Oklin diundang untuk ngayah. Kontan saja Oklan dan Oklin antusias menyambut tawaran tersebut.

Dengan dibantu Oleh I Nyoman Suarsa, maka kegiatan di sanggar ini pun bertambah ramai seiring dengan mulai datangnya pesanan pementasan baik yang bersifat ngayah maupun yang bersifat komersial. Seiring dengan berjalannya waktu, sanggar ini tumbuh dan berkembang hingga akhirnya memiliki perangkat gamelan Gong Kebyar yang utuh, serta memiliki beberapa pakaian tari yang dipergunakan untuk pentas keliling.

Berdasarkan kejelian dari Oklan dan Oklin, maka dilebarkanlah bentang sayap bisnis sanggar ini ke bidang kostum tari. Peruntukan dari bidang ini tidak lagi hanya sebagai pelengkap pementasan, namun juga sebagai salah satu sumber pemasukan dari segi finansial, lantaran kostum tari juga dapat disewakan. Pemasukan sanggar pun bertambah dengan adanya bidang usaha penunjang ini.

Pada awal dekade 1990-an, Sanggar Printing Mas membentuk sebuah grup dramatari Arja Muani, dimana seluruh pelakon dalam grup ini adalah laki-laki (muani dalam bahasa Bali berarti laki-laki). Grup inilah yang membawa pengaruh besar dalam melambungkan nama Sanggar Printing Mas hingga dikenal oleh sebagian masyarakat di Bali. Proses pembentukan grup ini pun tidak beda jauh dari proses berdirinya sanggar, yaitu diawali dengan niat ngayah dan berdasarkan perasaan suka berkumpul antar senimannya. Ide untuk membentuk grup ini secara permanen dicetuskan oleh I Wayan Juana, S.Sn. yang kala itu baru saja menamatkan studinya di STSI Denpasar (kini ISI Denpasar). Olehnya, digandenglah nama-nama seniman muda yang memiliki prospek cerah seperti Gde Anom Ranuara, I Gusti Lanang Oka Ardika, SST (dosen ISI Denpasar), Dek Cilik, dan Codet. Grup Arja Muani itu bertahan hingga kini dan selalu saja ada permintaan untuk pentas dari masyarakat maupun instansi pemerintah.

Kini Sanggar Printing Mas telah memiliki sekitar 90 orang murid baik anak-anak hingga remaja yang khusus belajar di bidang seni tari. Sedangkan untuk penabuh, sudah memiliki sekitar 50 orang personil. Di bidang pembuatan dan persewaan pakaian, sanggar ini telah memiliki 7 pegawai kantor dan 15 orang pekerja borongan yang khusus menggarap pesanan pakaian tari maupun tabuh.

Event yang sudah pernah diikuti sanggar ini antara lain yaitu pernah diundang ke Jepang dan Australia oleh Kedutaan besar RI di Negara masing-masing dalam bentuk grup kesenian. Sedangkan dari perorangan, personil sanggar kebanyakan memiliki koneksi yang sangat baik dengan pihan Dinas Kebudayaan propinsi Bali sehingga tidak jarang mereka ditunjuk untuk menjadi anggota rombongan melawat ke luar negeri.

Dalam skala lokal, Sanggar Printing Mas aktif mengikuti kegiatan lomba tari antar sanggar di tingkat kabupaten/kota, serta di tingkat propinsi. Gelar juara pun tidak jarang berdatangan ke lemari piala sanggar ini. Sedangkan untuk event yang bersifat pesanan, Sanggar Printing Mas juga pernah menerima tawaran syuting iklan dari salah satu produsen otomotif terbesar di tanah air dalam rangka promosi produk baru mereka. Demikian juga dari pihak Dinas Kesehatan Propinsi Bali, pernah member tawaran kepada Sanggar Printing Mas untuk mengkampanyekan pemberantasan penyakit TBC. Masih banyak lagi event yang diikuti sanggar ini termasuk acara rutin dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) yang digelar tiap tahunnya di Bali, serta kerjasama dengan salah satu universitas di Tokyo, Jepang untuk membina mahasiswanya belajar kesenian Bali.

Pola Manajemen Sanggar

Untuk menjalankan roda kegiatan di Sanggar Printing Mas, kedua perintisnya yaitu I Wayan Oklan dan I Made Oklin pada awalnya hanya menggunakan pola manajemen kekeluargaan, dimana seluruh pengelola sanggar berasal dari anggota keluarganya. Tidak hanya sampai di sana, pola keuangan pun digarap seadanya berdasarkan rasa kekeluargaan tanpa perhitungan teknis dan ekonomis lainnya. Menurut saya, hal ini masih dirasa wajar, mengingat kala baru berdiri sanggar ini belum memiliki lingkup kegiatan seluas sekarang. Dengan memiliki beberapa bidang usaha seperti sanggar tari, tabuh dan pembuatan/persewaan pakaian tari, seharusnya menjadi kemudahan dan keuntungan tersendiri bagi sanggar ini. Namun kenyataannya, pola manajemen yang kurang perhitungan menyebabkan beberapa kali sanggar ini hampir kolaps dan mengalami masa kritis.

Terhitung sejak 1995, ditunjuklah Eka Surya Wirawan sebagai ketua sanggar. Lulusan Ekonomi manajemen di salah satu perguruan tinggi negeri di bali ini pun membentuk manajemen professional untuk membawa perubahan dalam sanggar ini.

Sanggar Printing Mas : Sejarah dan Pola Manajemennya, selengkapnya

Comments are closed.