Sanggar Seni Cenk Blonk Belayu, Sejarah dan Pola Manajemennya

Sanggar Seni Cenk Blonk Belayu, Sejarah dan Pola Manajemennya

Kiriman: Ida Bgs. Gede Surya Peradantha, S.Sn*.

Sejarah berdirinya sanggar

Kedekatan seorang dalang I Wayan Nardayana dengan dunia seni, khususnya pewayangan sesungguhnya telah dimulai ketika ia masih duduk di kelas 5 SD. Dahulu, di desanya yaitu Desa Belayu, pernah ada 3 grup kesenian wayang yang beranggotakan setidaknya 6-9 orang pemain anak-anak. Salah satunya adalah grup wayang  yang ia dirikan bersama teman-teman sebayanya yang bergelut di dunia wayang kulit. Grup ini didirikan berkat kesamaan hobi, kecintaan pada dunia kesenian dan karena memang di daerah setempat hanya ada kesenian wayang yang cukup digemari kala itu. Grup Nardayana ini sering melakukan pentas keliling yang diundang oleh orang yang punya hajatan, misalnya acara pernikahan. Upah yang diberikan waktu itu sebesar 100 rupiah.

Dari 3 grup yang ada saat itu, 2 di antaranya bubar dan hanya grup Nardayana yang berhasil bertahan. Sayangnya, menanjak ke kelas 6 SD, wayang-wayang dari karton yang ia buat bersama teman-temannya dibakar oleh orang tua Nardayana. Hal ini dikarenakan nilai rapor sekolahnya yang selalu merah karena tak pernah belajar. Namun demikian, ia bertekad suatu saat kelak, ia ingin kembali membuat grup kesenian yang bergelut di dunia pewayangan. Inilah cikal bakal ia mendirikan Sanggar Seni Cenk Blonk Belayu yang ada sekarang.

Sanggar seni Cenk Blonk Belayu, merupakan sanggar seni yang bergelut di bidang pewayangan, khususnya wayang kulit Bali. Sebelum bernama sanggar Cenk Blonk Belayu, sanggar ini sempat bernama Sanggar Seni Gita Loka (nyanyian alam) yang didirikan tahun 1992 oleh I Wayan Nardayana. Saat itu, tokoh punakawan yang menjadi sentral pementasan yaitu Nang Klenceng (Cenk) dan Nang Ceblong (Blonk) belumlah dimunculkan. Gaya pewayangan yang dianut pada saat itu masih bersifat tradisional bali dan belum mengenal tata lampu serta sound system seperti sekarang.

Baru pada tahun 1995, nama sanggar seni Gita Loka diganti menjadi sanggar seni Cenk Blonk Belayu. Hal ini berawal ketika beliau mulai memperkenalkan tokoh punakawan Nang Klenceng dan Nang Ceblong kepada khalayak. Puncaknya terjadi ketika dalang Nardayana sedang melakukan pementasan di daerah Jempayah, Mengwi. Saat beliau sedang beristirahat di mobil sembari menunggu crew beliau mempersiapkan layar dan setting panggung, beliau mendengar percakapan penonton dimana salah satunya bertanya : “wayang apa yang akan pentas sekarang?” dan dijawab “wayang Ceng Blonk”. Mendengar percakapan tersebutlah, beliau mendapat inspirasi untuk menamakan wayangnya sebagai wayang Cenk Blonk Belayu, sekaligus mulai laris mementaskan wayang tersebut. Nama Belayu merupakan nama sebuah Desa Adat di kecamatan Marga, kabupaten Tabanan, tempat dimana beliau menetap.

Sanggar Seni Cenk Blonk Belayu, Sejarah dan Pola Manajemennya selengkapnya

Comments are closed.