Sebanyak 444 Calon Mahasiswa Jalur Mandiri Ikuti Seleksi di ISI Denpasar

Sebanyak 444 Calon Mahasiswa Jalur Mandiri Ikuti Seleksi di ISI Denpasar

SETELAH Menyelesaikan penerimaan mahasiswa baru lewat jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar tahun 2018, ISI Denpasar kembali melakukan seleksi. Sebagai penerimaan mahasiswa lanjutan, Selasa (31/7) kemarin ISI Denpasar melakukan test penerimaan mahasiswa jalur mandiri.Menurut Wakil Rektor I ISI Denpasar Prof. Dr. Drs. I Nyoman Artayasa, M.Kes., bahwa dalam seleksi kemarin ada sebanyak 444 pendaftar atau calon mahasiwa jalur mandiri yang mengikuti tes. Dari jumlah tersebut, sisa kuota yang tersedia hanya 363 orang."Test seleksi ini bagian ketiga. Untuk test SNMPTN dan SBMPTN sudah keluar hasilnya siapa-siapa yang diterima," tandas Prof. Artayasa. Dijelaskan, untuk jalur mandiri kuotanya sampai 30% dari jumlah penerimaan mahasiswa untuk keseluruhan. Sedangkan ISI Denpasar mempunyai daya tampung sebanyak 625 orang.
Lantas, apakah perbedaan penerimaan SNMPTN, SBMPTN dan jalur mandiri? Prof. Artayasa didampingi Kepala Biro Akademik Kemahasiswaan Perencanaan dan Kerjasama Drs.I Gusti Bagus Priatmaka,M.M., menjelaskan kalau jalur SNMPTN biasanya jalur prestasi yang jumlahnya 30%. Jumlah yang daftar jalur SNMPTN tahun ini sebanyak 119 orang. Nah yang paling banyak jatahnya adalah jalur SBMPTN yakni 40%. Yang daftar jalur ini, di ISI Denpasar sebanyak 877 orang dan dinyatakan lulus 246 orang.
Jurusan yang tersedia di ISI Denpasar ada Seni Tari, Seni Kerawitan, Seni Pedalangan, Pendidikan Seni Drama, Tari dan Musik, Seni Musik, Seni Rupa Murni, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, Kriya Seni, Fotografi, Desain Fashion dan Televisi dan Film.
Dari semua jurusan tersebut, Prof. Artayasa mengatakan bahwa yang langka di jurusan ini di ISI Denpasar adalah jurusan pedalangan. "Yang langka adalah jurusan pedalangan. Dan kami membuka jurusan ini sekaligus ingin mempertahankan dan mengembangkan budaya kita. Jarang universitas lain menyediakan ilmu seni pedalangan. Kami di ISI Denpasar sekaligus ingin mengambangkan pedalangan," sebut WR I Prof. Artayasa.
Salah satu calon mahasiwa jurusan pedalangan, yang kemarin ikut seleksi adalah I Nyoman Separma. Pria asal Tamblang, Buleleng, yang kini berusia 50 tahun tersebut mengatakan bahwa dia memang ada keturuan dalang dari pamannya. Untuk mempertajam ilmu pedalangan, dia memilih belajar di ISI Denpasar
"Saya ingin mendalami dunia pedalangan lebih mendalan secara akademis," ujar Nyoman Separma. Selain itu dia ingin belajar praktek dalang dan sekaligus mencari pergaulan sesama pecinta dunia pedalangan sehingga dia bisa tukar pikiran antar teman dan juga sama dosennya kelak.
"Nah yang kami ingin ketahui soal pakem pewayangan, literatur seni pedalangan. Dan juga kami ingin ketemu sama orang-orang yang menekuni ilmu pedalangan. Ini salah satu angan-angan saya," jelasnya.
Di samping itu, yang menjadi motifasi besar ketika mendaftar di ilmu pedalangan adalah karena pamanya seorang dalang dan kini tidak ada mewarisi. "Saya pernah sakit. Dari sana diperoleh informasi saya harus mendalami pedalangan paman saya. Ya ada bisikan niskala melalui mimpi pula," sambung Separma. Dan yang membuatnya makin sreg untuk menekuni dunia dalang adalah ketika dia didatangin almarhum pamannya lewat media mimpi. Itu kedia dia sakit. Sekitar sebulan kemudian dia dibisiki "Jemak wayange, jalanang wayange ne. Nto be mekade Nyoman sakit," tutur Separma. Nah sejak itu dia bertekad belajar pedalangan. 

Comments are closed.