Seminar Akademik Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar

Seminar Akademik Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar

Kiriman Hery Budiyana, Staf FSRD ISI Denpasar

Gempuran era globalisasi mengharuskan para seniman untuk menguasai potensi serta tidak mengabaikan kearifan lokal yang telah ada. Hal tersebut terungkap dalam Seminar Akademik Fakultas Seni Rupa dan Desain, yang dilaksanakan tadi pagi (22/7), bertempat di gedung Lata Mahosadi ISI Denpasar. Seminar sehari dalam rangka Dies Natalis VIII serta Wisuda Sarjana IX,  bertemakan “Reinterpretasi Local Genius dalam perkembangan seni rupa dan desain mutakhir.” Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A yang hadir sekaligus membuka acara seminar tersebut mengungkapkan bahwa dengan diadakannya seminar ini menunjukkan atmosfir akademik di ISI Denpasar berkembang, dan ini merupakan sinyal positif, karena tema yang diangkat sesuai dengan tujuan dan visi misi kampus ISI Denpasar yakni menuju kampus berunggulan lokal dan bertaraf internasional. “Berkaitan dengan tema seminar kali ini, sehubungan dengan Local Genius, kita harus menguasai potensi atau kearifan local sebelum berfikir atau bertindak secara global”, ungkap Prof Rai.

Sementara Dekan FSRD ISI Denpasar, Dra. Ni Made Rinu, M.Si menyambut baik dukungan Rektor dan menyampaikan bahwa ini adalah sebuah perkembangan yang baik dan memacu para dosen untuk selalu rajin memperbaharui penelitian maupun tulisannya agar dapat dijadikan makalah dalam seminar.

Seminar diikuti oleh dosen, pegawai, serta mahasiswa dari lingkungan ISI Denpasar, menghadirkan pemakalah yaitu  I Wayan Kun Adnyana, S.Sn., M.Sn, I Ketut Sida Arsa, S.Sn, Cok Istri Ratna Cora S, S.Sn.,M.Si, I Nyoman Larry Julianto, S.Sn.,M.Ds dan I Made Bayu Pramana, S.Sn., M.Sn, dengan moderator Drs. I Ketut Buda, M.Si. Pemakalah I Wayan Kun Adnyana, S.Sn., M.Sn mengambil judul “Wacana ‘Ketradisian’ dalam Medan Seni Rupa kontemporari.” Mengangkat tema yang berhubungan dengan seni lukis, film, dan pameran. Dimana salah satu film Eat, Pray, and Love mengangkat ketradisian di tiga negara yaitu Italia, India, dan Bali dalam wahana seni kontemporer. Local genius yang berhubungan dengan seni rupa adalah adanya Desa,Kala,Patra yang sejajar dengan pengertian laku, nilai, dan karya serta berhubungan dengan konteks ruang, waktu, dan keadaan. Pemakalah I Ketut Sida Arsa, S.Sn mengambil judul “Wadah Sebagai objek Komoditas di Kota Denpasar.” Menurut I Ketut Sida Arsa, pada jaman dahulu jika ada orang meninggal dunia barulah dibuat wadah, namun saat ini kebutuhan ini telah bergeser, dimana wadah telah disiapkan terlebih dahulu kemudian menunggu konsumen untuk memesannya. Hal inilah akibat dari pencitraan produk sehingga saat ini barang yang mengontrol konsumen/pembeli. Selanjutnya Cok Istri Ratna Cora S, S.Sn.,M.Si menyampaikan presentasi dengan judul “Implementasi Think Globally & Act Locally dalam ranah desain kekinian terhadap eksistensi local genius”. Terungkap bahwa penelitian berkaitan dengan kain dan warna hingga ke daerah-daerah terpencil untuk menemukan identitas budaya dan kearifan lokal masyarakat yang kemudian dibawa ke dalam desain teknologi yang berkembang saat ini. I Nyoman Larry Julianto, S.Sn.,M.Ds mengangkat judul “Reinterpretasi local genius dalam perkembangan seni rupa dan desain mutakhir.” Dalam kesempatan ini ia mengatakan bahwa lokal genius tidak harus dari luar tetapi juga bisa digali dari dalam diri manusia atau yang disebut dengan potensi diri. Potensi diri kemudian digunakan untuk mengembangkat visualisasi yang bergerak kea rah modern seperti penggunaan media Ambient advertising. Dan pemakalah terkhir I Made Bayu Pramana, S.Sn., M.Sn mengangkat judul “Levitasi local genius dalam berkarya fotografi.” Bayu menyampaikan bahwa fotografi tidak terlepas dari mengabadikan momen yang tepat, dalam kesempatan ini diangkatlah konsep mengenai pralina, dimana hal ini bisa diamati dalam sebuah bongkahan mobil yang telah usang, kemudian foto-foto detail mengenai karat ini pun diambil. Selain itu konsep pralina juga diambil dari mengamati bongkahan kayu yang mulai membusuk dan didapatlah hasil karya seni yang mutakhir.

Comments are closed.