Seni Lukis Bali Dari Perspektif Modernisasi

Seni Lukis Bali Dari Perspektif Modernisasi

Kiriman I Dewa Putu Merta, diterbitkan dalam jurnal Mudra

DualismeSalah satu kebijakan strategis untuk mempercepat  pembangunan dengan menyusun suatu perencanaan yang terpadu dan konprehensif dengan melibatkan seluruh unsur pelaku pembangunan dan mempertimbangkan potensi yang ada sehingga terwujud pembangunan yang multi sektor. Salah satunya pembangunan di bidang seni budaya, termasuk didalamnya adalah seni rupa.

Seni Rupa yang berkembang ditengah masyarakat Bali masa ini, tidak terlepas dari perjalanan seni rupa Indonesia. Seni rupa modern hadir dalam masyarakat Indonesia sekarang, sesungguhnya telah dimulai sejak masa perintisan Raden Saleh (1807-1880) yang melukiskan sesuatu dengan wujud kehadirannya bercorak realistis. R. Saleh sebagai pelopor seni rupa Indonesia yang pernah belajar seni lukis di Eropa pertama kali mengembangkan teknik melukis modern di Indonesia (Kusnadi, 1990-199:156).

Perkembangan selanjutnya berselang setengah abad setelah R. Saleh meninggal baru disusul masa Hindia Jelita (Hindie Molek) tahun 1908-1937. Para seniman memandang gejala yang ada disekelilingnya dari sudut yang indah, molek, cantik dan permai, seperti gunung, laut, sawah, ladang, kampung, sungai, fauna dan flora, dan manusia terutama gadis-gadis yang cantik  (Ibid. p. 60). Pelukis yang ada masa itu terbagi dua: yaitu kelompok pelukis peribumi dan kelompok pelukis asing yang digandeng oleh penjajah kolonial Belanda. Antara pelukis peribumi dengan pelukis asing sama-sama melukis tentang keindahan alam Indonesia.

Pada masa itu juga Rudolf Bonnet dan Walter Spies datang ke Bali. R. Bonnet dan W. Spies adalah seniman asing yang menaruh perhatian sangat besar terhadap kesenirupaan di Bali. Mereka membentuk perkumpulan yang melibatkan seniman, masyarakat, pemuka desa, dan budayawan melalui pendekatan dan musyawarah dengan berbagai kalangan terutama pihak penguasa Puri Ubud, akhirnya perkumpulan terbentuk pada tahun 1930-an dengan nama “ Pita Maha”  (Ibid. p. 255). “Pita” artinya luhur dan “Maha” artinya agung, jadi Pita Maha berarti ikatan seniman yang “luhur dan agung. Maksud dan tujuannya adalah untuk memajukan dan mengembangkan nilai-nilai luhur hasil karya seni dan mengangkat kesejahtraan para senimannya. Pita Maha menjadi wadah para seniman Bali untuk mengembangkan kreativitasnya. Perpaduan estetika modern Barat dengan estetika klasik Bali yang berlandaskan ajaran agama Hindu. Estetika modern dibawa oleh seniman Barat R. Bonnet dan W. Speis bercampur dengan estetika klasik yang dibawa para seniman Bali. Perpaduan dua estetika ini melahirkan mazab baru dalam kesenirupaan di Bali yang disebut Seni Lukis Bali Modern (Murdana, 2001:4).Gaya ini memperhatikan anatomi realistis untuk mengungkapkan kehidupan sehari-hari masyarakat tanpa meninggalkan ciri seni lukis tradisional Bali. Masa ini merupakan tonggak awal pertumbuhan seni rupa modern di Bali ditandai dengan perubahan tema, corak, kebebasan ekspresi, dan bersifat sekuler.

Seputar tahun 1950-an muncul gerakan akademis dalam seni rupa. Hal ini muncul dari aspirasi dan pemikiran para angkatan muda yang ingin penyegaran dalam bentuk karya seni. Pemikiran dan aspirasi tersebut melahir gagasan untuk mendirikan sekolah-sekolah seni. Tahun 1950 lahirkan beberapa sekolah tinggi seni di Indonesia seperti seni rupa di ITB, ASRI Yogyakarta, dan selanjutnya disusul oleh seni rupa di Denpasar, IKJ yang ikut memberikan andil dalam pertumbuhan seni rupa modern di Bali. Konsepsi kesenirupaan mulai dengan jelas dirumuskan secara verbal dalam bentuk buku-buku yang tertulis pada katalog.

Perjalanan seni rupa tidak berjalan mulus walaupun negara Indonesia sudah merdeka. Pada tahun 1965 saat pemerintahan orda lama kegiatan kreativitas seniman sempat terpecah dan mandeg. Seniman tidak masih konsentrasi pada kreativitas seni untuk kepribadian, tapi perhatian seniman terbagi untuk kepentingan politik yang sedang bergolak.

Pemerintahan orde baru tahun 1966, dengan kebijakan program pembangunan dalam berbagai sektor, maka seniman Indonesia mulai mendapatkan kebebasan untuk kreativitas. Termasuk pertumbuhan seni rupa Bali juga bangkit lebih-lebih didukung oleh kebijakan program pemerintah, daerah Bali dicanangkan sebagai daerah pariwisata di kawasan Indonesia bagian timur. Sejalan dengan program tersebut pemilik modal mulai menanamkan modalnya di Bali untuk mendukung pembangunan sektor pariwisata. Para pemilik modal juga menanamkan modalnya dalam bidang seni, sehingga muncul art shop dan gallery untuk menampung hasil kreativitas para perupa. Berbagai aliran dalam seni rupa modern berkembang, lebih-lebih dengan banyaknya lahir para perupa-perupa jebolan akademis menambah semaraknya modernisasi seni rupa. Melihat dari paparan diatas, dalam pembahasannya akan menekankan pada: kapan terjadi modernisasi seni lukis Bali dan bagaimana bentuk-bentuk karya seni lukis Bali setelah  terjadi modernisasi tersebut.

Seni  Lukis  Bali Dari  Perspektif  Modernisasi selengkapnya

Comments are closed.