Seni Pertunjukan Pariwisata Indutri Kreatif Berbasis Kesenian Bali

Seni Pertunjukan Pariwisata Indutri Kreatif Berbasis Kesenian Bali

Oleh: Dr. Ni Made Ruastiti, SST. MSi.

I. Pendahuluan

Industri kreatif merupakan bagian dari ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif adalah wujud dari upaya mencari pembangunan yang berkelanjutan melalui kreativitas. Pembangunan berkelanjutan adalah suatu iklim perekonomian yang berdaya saing dan memiliki cadangan sumberdaya terbarukan. Ekonomi kreatif merupakan ekonomi evolusi tahap IV pasca ekonomi pertanian, ekonomi industri, dan ekonomi informasi (Deperindag, 2008).

Konsep industri kreatif jika dikaitkan dengan seni pertunjukan pariwisata akan memperlihatkan adanya kesinambungan pembangunan dalam bidang kesenian. Seni pertunjukan yang ditampilkan masyarakat Bali untuk pariwisata adalah wujud industri kreatif masyarakat setempat dalam mengembangkan kehidupan berkeseniannya yang telah dilakukannya secara berkelanjutan. Hal itu dapat diamati dari keberadaan seni pertunjukan pariwisata daerah ini yang sesungguhnya sebagian besar merupakan kemasan, pengembangan dari bentuk-bentuk kesenian Bali (Bandem, 1996; Soedarsono, 1999; Dibia; 2000; Picard, 2006; Ruastiti, 2008).

II.  Sekilas Tentang Perkembangan Seni Pertunjukan Pariwisata di Bali

Bali selain di kenal sebagai pulau dewata juga terkenal karena memiliki berbagai jenis kesenian dalam  kebudayaannya.  Salah satu unsur kebudayaan Bali yang sering dipergunakan sebagai daya tarik pariwisata adalah seni pertunjukan.

Pulau Bali telah dipromosikan sebagai daerah tujuan wisata oleh pemerintah kolonial Belanda sejak tahun 1920-an (Nielsen, 1928 : 9-18).  Bali yang ketika itu masih di bawah kekuasaan pemerintahan kolonial Belanda dianggap kurang memiliki potensi ekonomi, namun Bali memiliki kebudayaan yang sangat unik yang kemudian mereka kembangkan sebagai daya tarik wisata Bali. Pemerintah kolonial Belanda ketika itu mempergunakan Koninklijk Paketvaart Maatschappij (KPM) mempromosikan Bali ke negara-negara Eropa (Tantri, 1965: 60-80).

Sejak dibukanya Bali sebagai daerah tujuan wisata, kehidupan masyarakatnya mulai mengalami perubahan. Pendidikan yang diperoleh bagi sebagian warga masyarakat Bali melalui sekolah-sekolah yang dibuka oleh pemerintah kolonial Belanda tampaknya secara perlahan-lahan telah memperluas wawasan mereka tentang berbagai hal terkait dengan kehidupan.  Dengan diberikannya peluang untuk mengenyam pendidikan membuat sebagian warga masyarakat Bali ketika itu mulai mengubah pola pikirnya, dari cara berfikir irasional menjadi rasional (Gde Agung, 1989: 313).

Sebagaimana dikatakan Piet (1933: 86-87), bahwa sejak datangnya wisatawan ke daerah ini, orang Bali mulai berfikir tentang  “waktu adalah uang”.  Itu artinya bahwa orang Bali ketika itu sudah mulai berfikir rasional.  Meningkatnya pendidikan kiranya telah dapat mengubah cara berfikir seseorang dari irasional menjadi rasional, dan hal itu juga tampak pada kehidupan masyarakat Bali dalam berkesenian.  Mereka mulai mempunyai gagasan untuk menyikapi peluang atas ramainya kunjungan wisatawan datang ke Bali.

Ramainya wisatawan berkunjung ke Bali mendorong masyarakat setempat kreatif menciptakan sesuatu yang dapat “bernilai tukar”.  Giddens (1986) menyatakan bahwa “nilai tukar” berkaitan erat dengan “komoditi”.  Komoditi mempunyai nilai ganda, di satu pihak mempunyai “nilai pakai” (use value), dan di pihak lainnya mempunyai “nilai tukar” (exchange value). Sedangkan masyarakat Bali dalam kaitan dengan pariwisata lebih menekankan pada nilai ekonomis. Hal itu dapat dilihat dari sikap masyarakatnya yang semenjak ramainya wisatawan berkunjung ke daerah ini mereka tampak lebih banyak memilih profesi yang terkait dengan industri pariwisata seperti menjadi pemandu wisata, membuka usaha biro perjalanan wisata, membuka penyewaan mobil, penyewaan rumah tinggal/hotel, menjual makanan, menjual cendramata, menyekolahkan putra-putrinya ke jalur profesi terkait dengan pariwisata, dan lain sebagainya.

Seni Pertunjukan Pariwisata Indutri Kreatif Berbasis Kesenian Bali selengkapnya

Comments are closed.