Seni Pertunjukan Tradisional Bali Sebagai Warisan Zaman Bali Kuna

Seni Pertunjukan Tradisional Bali Sebagai Warisan Zaman Bali Kuna

Oleh I Gusti Ngurah Seramasara

Ujian TA 2009Pada zaman Bali kuna berdasarkan prasasti yang ditemukan ada sejumlah kesenian yang tercatat pada prasasti tersebut antara: Patapukan (pertunjukan topeng), pamukul (pemukul gambelan), menmen (topeng), abanwal (permainan badut atau bondres), abonjing (musik angklung), bhangsa, masuling (peniup suling), pasangkha (peniup trompet), parbwayang (pertunjukan wayang) perpadaha (permainan kendang), Aringgit (pertunjukan wayang) dan lain-lain. Dengan memperhatikan prasasti ini kita belum bisa memastikan bentuk dan struktur pertunjukanya, hanya saja secara substansial bahwa merujuk pada istilah yang ada, hampir sebagian besar jenis kesenian di atas masih ada sampai sekarang

Dari jumlah kesenian di atas sampai sekarang  yang masih banyak kita warisi adalah seni pertunjukan topeng, seni pertunjukan topeng bondres, seni musik angklung, permainan suling dan seni pertunjukan wayang. Karya-karya seni pertunjukan ini sebagai sebuah tradisi seni  dapat dikaitkan dengan tradisi megalitik di Bali, karena instrument atau alat-alat musiknya dapat diamati pada relief-relief bangunan zaman Bali kuna. Salah satu jenis alat musik yang dapat kita amati langsung adalah Nekara yang disimpan di Pura Penataran Sasih di Pejeng. Disamping alat-alat musik juga terdapat bentuk-bentuk seni pahat yang menggambarkan  boneka wayang dan kalau diamati secara mendalam  mirip dengan bentuk wayang yang ada sekarang.

Nekara Pejeng sebagai sebuah penemuan ahli arkeologi yang dibuat dari prunggu, dan  dapat dianggap sebagai alat musik pada zamannya, karena fungsi nekara itu adalah 1) dipukul dengan alat pemukul, sejenis musik perkusi yang tujuannya adalah untuk memohon hujan, 2) dipukul agar mengeluarkan suara yang keras dan panjang sebagai pertanda adanya bahaya atau tanda kematian. 3) dipuja karena dianggap manifestasi dari Dewi Ratih (Sidemen, 2005:68). Nekara Pejeng itu oleh masyarakat Pejeng dan sekitarnya dimitoskan sebagai bulan Pejeng, karena nekara itu adalah subengnya dewi ratih yang jatuh kemudian memancarkan sinar yang sangat terang benderang. Benda-benda alam yang dianggap mempunyai keanehan-keanehan gaib seperti itu oleh masyarakat Bali kemudian dipuja dan dibuatkan sebuah pelinggih dalam bentuk Tapas (Tepasana).

Pura Yeh Pulu sebagai bangunan suci jaman Bali kuna, sudah ada relief yang memahatkan bentuk-bentuk wayang seperti wayang yang kita amati sekarang, sehingga pengarah cerita Mahabarata dan Ramayana kemungkinan sudah ada pada saat itu. Dengan demikian akan dapat diduga bahwa sebelum Bali berhubungan dengan Majapahit, Bali telah berhubungan langsung dengan India. Berdasarkan pertimbangan di atas maka pertunjukan wayang yang ada di Bali tidak sepenuhnya merupakan pengaruh Majapahit. Kalau sebagain besar penulis menganggap bahwa perkembangan kesenian Bali sangat   pesat pada jaman Waturenggong, akan dapat dibenar-kan karena kehidupan masyarkat pada waktu itu sangat sejahtera dan damai.  Pembrontakan-pembrontakan hampir tidak ada, serta  munculnya tokoh Dang Hyang Nirartha dapat dianggap telah memperluas dan mengembangkan ajaran agama Hindu secara lebih mendalam dan memanfaatkan hasil karya seni sebagai persembahan pada Tuhan. Hal ini juga sangat sesuai dengan pendapatnya Alfin Toffler, yang dikutif oleh Prof Soedarsono, bahwa kesejahtraan dan tersedianya waktu luang yang cukup akan menyebabkan terjadinya ledakan budaya (cultural explosion) (Soedarsono, 2003:8).

Kondisi seperti ini akan memberikan peluang kepada terakumulasinya aliran kebudayaan central yaitu kebudayaan Majapahit ke veri-veri yaitu Bali, karena Bali pada saat itu merupakan kerajaan vasalnya Majalahit. Ada hubungan yang sangat integrated, antara kebudayaan Bali dengan kebudayaan Majapahit saat itu, sehingga hampir setiap produk budaya yang ada di Bali dianggap sebagai pelestari budaya Majapahit, karena ruang untuk kebudayaan Majaphit di Bali sangat besar. Berkembangnya kepercayaan baru yaitu agama Islam di Jawa juga merupakan sebuah kondisi yang menyebabkan  ruang bagi kebudayaan Maja-pahit untuk berkembang di Jawa sangat kecil.

Untuk melihat ada tarian maka patung (arca) Bairawa yang ada di pura Kebon Edan, menunjukan gerak tari. Begitu juga patung (arca) Mahendradata menunjukan gerak tari Ciwa pada saat melebur dunia. Sikap-sikap tari yang digambarkan pada relief candi dan pada Patung (arca) Bairawa maupun pada Patung (arca) Mahendradata dapat diasumsikan bersumber pada Kitab Natyasastra.  Hal ini menunjukan bahwa Siwaisme yang sangat berpengaruh di Bali dapat diduga akan membawa serta seluruh perangkat ajaranya termasuk seni.

Menurut  para ahli sejarah Bali Kuna, Pura Kebo Edan dianggap sebagai kompleks pemujaan raja Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten yang kemudian dianggap sebagai Raja terakhir dari dinasti  raja-raja Bali Kuna. Dengan demikian Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten dianggap sebagai raja yang menganut ajaran Tantrayana aliran kiri (Niwreti) seperti yangt dianut oleh Kerta Negara dari kerajaan Singosari. Anggapan ini didasarkan atas peninggalan raja yang dikenal dengan nama Patung (arca) Bairawa di kompleks Pura Kebo Edan desa Bedahulu-Gianyar. Patung (arca) Bairawa ini dilengkapi dengan alat-alat minum-minuman keras, tengkorak manusia, serta digambarkan arca itu sedang menari-nari diatas tengkorak manusia dan palusnya bergoyang kekiri. Kelengkapan patung itu memberikan suasana demonis (keraksasa-an) yang sedang memuaskan hawa nafsu. Pura Kebo Edan ini dianggap sebagai tempat untuk melakukan upacara kepercayaan Tantrayana aliran kiri (niwreti) untuk memuaskan hawa nafsu duniwi.

Dalam kepercayaan Tantarayana ada yang disebut dengan aliran kanan (prawreti) dan ada pula yang disebut dengan aliran kiri (niwreti). Perbedaanya adalah terletak pada cara untuk mencapai nirwana (sorga kemoksaan). Prawreti menganggap Sorga kemoksaan akan dapat dicapai dengan cara melakukan tapa brata dan semadi, serta mengendalikan hawa nafsu duniawi. Niwreti menganggap bahwa sorga kemoksaan dapat tercapai dengan cara melakukan segala perbuatan untuk memenuhi hawa nafsu duniawi. Hal inilah yang dijadikan alasan oleh Raja Majapahit untuk menyerang Bali, yang dianggap telah mengembangkan ajaran sesat yaitu ajaran yang tidak mempercayai Tuhan dan memaksakan kepada rakyat bahwa Raja adalah Tuhan. Sejak jatuhnya kerajaan Bedahulu dibawah kekuasaan Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten, maka kebudayaan Majapahit mengalir terus ke Bali dan berakumulasi baik dalam bentuk keagamaan maupun kesenian.  Jalinan antara kehidupan beragama dengan kesenian dalam bentuk upacara keagamaan di Bali telah menjadi identitas budaya Bali yang memberikan taksu kepada Bali sehingga menjadi daya tarik bagi setiap pengunjung yang datang ke Bali.

Dengan demikian prasasti-prasasti di atas memberikan gambaran tentang pesatnnya perkembangan kesenian pada saat itu, seperti seni bangunan, yaitu bangunan candi yang berpola pada bangunan candi-candi di Jawa Timur, karena itu candi ini dianggap sebagai makam. Kemudian seni arca seperti patung Bairawa yang menunjukan bahwa masyarakat pada waktu itu adalah penganut kepercayaan Tantrayana, walaupun sesungguhnya pada waktu itu agama Siwa dan Budha masih tetap berkembang, namun ketika Sri Asta Sura Ratna Bumi Banten berkuasa kurang mendapatkan perhatian. Sekte-sekte juga berkembang pada waktu itu tetapi hanya ada diwilayah-wilayah tertentu dan jumlahnya sangat kecil yang diawasi oleh para Senopati.

Agama Siwa dan Budha sebagai agama yang cukup kuat perkembangannya pada waktu itu di buktikan dengan adanya dua Dharmadiyaksa yaitu Dang Acarya (pendeta Siwa) dan  Dang Upadhyaya (pendeta Budha). Pendeta Siwa yang ada di Bali saat itu adalah Siwa Kangsita, Siwa Nirmala, dan Siwa Prajana (Kartodirdjo, op cit. p. 171). Dalam prasasti disebut ada 21 orang pendeta Siwa, dan Bhuda hanya 5 orang, sehingga presentase penganut Siwa jauh lebih banyak dari pada penganut Budha dan ini juga menjadi kenyataan sampai sekarang.

Comments are closed.