Seni Tradisi: Modal Budaya Membangun Karakter Bangsa Melalui Rekonstruksi Kreatif Dan Dekonstruksi Kritis (Bagian II)

Seni Tradisi: Modal Budaya Membangun Karakter Bangsa Melalui Rekonstruksi Kreatif Dan Dekonstruksi Kritis (Bagian II)

Kiriman: Kadek Suartaya, S,S.Kar, M.Si., Dosen PS. Seni Karawitan, ISI Denpasar.

Disampaikan pada seminar dalam rangka kegiatan dies natalis dan wisuda tahun 2011

III. Rekonstruksi-Dekonstruksi

Sejatinya, khasanah seni tradisi adalah mata air yang mengalirkan dahaga berkreasi. Kontinuitas pelestarian dan pengembangan kesenian di Bali lazimnya berorientasi pada nilai-nilai estetika dan konsep-konsep artistik dari kesenian tradisi yang telah teruji zaman tersebut. Gambuh misalnya, bertransformasi menjadi Arja dan Legong. Konsep klasik Legong kini dielaborasi menjadi beragam tari palegongan. Begitu pula dalam seni karawitan. Konsep dan pola-pola musikal dalam gamelan Gambuh mengejawantah dalam gamelan Semarapagulingan. Repertoar yang dimiliki Gong Gede disajikan lebih segar dan kreatif dalam gamelan Gong Kebyar. Kini di tengah dinamisnya perkembangan Gong Kebyar, tak sedikit yang mengeksplorasi elemen-elemen yang terdapat dalam gamelan tua seperti Gambang, Slonding, atau Gender Wayang.    Kesenian tradisi-klasik yang menyimpan nilai estetik nan luhur,  lebih-lebih yang telah terpuruk langka, patut digali, direkonstruksi, direvitalisasi dan dibanggakan di tengah lingkungan komunitasnya serta dalam publik lebih luas seperti PKB.  Uluran tangan Pemda Bali dalam konteks PKB merekontruksi dan merevitalisasi bentuk-bentuk seni tradisi tentu patut dihargai. Ini merupakan tonikum yang  diharapkan menggeliatkan kesenian yang tergolek merana itu untuk beringsut menyapa fenomena kehidupan. Sayangnya yang terjadi selama ini di lapangan, sering wajah kusut dan aroma masainya hanya segar dan wangi  sekelebat saja. Hasil rekontruksi sebuah kesenian langka  yang diuji coba dipentaskan, seusai dipertontonankan, umumnya kembali lunglai. Kontekstualisasi hasil rekontruksi sebuah kesenian dengan komunitas pendukungnya tak terjalin.

            Rekontruksi dan revitalisasi bentuk-bentuk seni tradisi, selain dengan penguatan estetik-konseptualnya, kiranya sanggaan penguatan sosial-kultural dan psikis-mental yang berkorelasi dengan kesenian tersebut semestinya juga dibangun. Secara sosial-kultural, kepada para pelaku seni dan komunitasnya ditumbuhkan semangat kebersamaan memaknai nilai-nilai estetik dan etik yang dilandasi kasih damai. Secara psikis-mental, di kalangan pegiat seni dan masyarakat pendukungnya disemai kembali psiko-estetik dan psiko-relegi yang dapat meneguhkan mentalitas penyayang terhadap keagungan budaya tradisi, seni tradisi yang unggul.

            Adalah drama tari Gambuh, teater tua yang diakui sebagai mata air seni pertunjukan Bali, masih mampu bertahan dari kepunahannya di Desa Batuan, Sukawati, dalam sanggaan karakteristik para pelaku seni dan masyarakat pelestari budaya. Di Batuan, seni pentas kehormatan pada era kejayaan kerajaan Bali itu kini digeluti sebagai persembahan seni dan juga dipertahankan sebagai seni persembahan ritual keagamaan.

Era baru semestinya tak melumpuhkan karakter bangsa. Beruntung, semangat untuk memperkuat karakter diri, masyarakat, dan bangsa itu masih terasa cukup membuncah di Pulau Dewata. Gairah berasyik masyuk dengan seni tradisi masih menyala-nyala di tengah masyarakat Bali. Kekhusukan ritual keagamaan masih dimeriahkan oleh persembahan seni ngayah. Para seniman Bali masih jengah mengawal dan mengembangkan warisan seni leluhurnya. Pemerintah Bali pun masih bergairah menyokong Pesta Kesenian Bali (PKB) yang direspons riuh masyarakat. Suara gamelan masih mengalun dan lenggok tari masih mengumbar senyum di Pulau  Kesenian ini.

Penulis buku Island of Bali (1937), Miguel Covarrubias, mengagumi masyarakat Bali sebagai orang-orang yang berbakat seni. Menurut peneliti asal Meksiko tersebut, stimulasi estetis itu terekspresi dalam segala aspek kehidupan. Emosi berkesenian tersebut biasanya membumbung dalam ritus keagamaannya. Hampir dalam setiap upacara agama Hindu di Bali disertai persembahan seni. Tak berlebihan bila dikatakan pasang surut dan bahkan hidup mati kesenian Bali disangga oleh psiko-relegi dalam implementasi upacara-upacara agama. Beragam jenis kesenian seperti sastra, teater, musik, tari hingga seni rupa menyembul, mengkristal, dan menggeliat di tengah atmosfir relegiusitas seperti itu.

Kesenian  Bali merupakan  bagian  penting dari kehidupan masyarakat Bali  yang sudah  diwarisi  sejak  zaman  lampau. Hampir  semua jenis kesenian Bali mengandung tendensi  untuk menunjang   dan  mengabdikan kehidupan  agama  Hindu. Di tengah masyarakat Bali pada umumnya, hasrat berkesenian dan menyimak kesenian tampak tumbuh dan berkembang sejak masa bocah. Ini berarti pendidikan karakter tunas-tunas bangsa itu sudah bersemi sejak dini. Oleh karena itu, berkesenian dalam konteks ritual keagamaan dan berkesenian dalam presentasi estetik festival, parade atau lomba patut terus digelorakan, semuanya memiliki andil membentuk karakter manusia Bali.

Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang  terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan  yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. Interaksi seseorang dengan orang lain menumbuhkan karakter masyarakat dan  karakter bangsa. Oleh karena itu, pengembangan karakter bangsa hanya dapat dilakukan melalui pengembangan karakter individu seseorang. Akan tetapi, karena manusia hidup dalam ligkungan sosial dan budaya tertentu, maka pengembangan karakter individu seseorang hanya dapat dilakukan dalam lingkungan sosial dan budaya yang bersangkutan.

Bertakwa, bertanggung jawab, berdisiplin, jujur, sopan, peduli, kerja keras, sikap baik, toleransi, kreatif, mandiri, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, menghargai, bersahabat, dan cinta damai, adalah karakter postif sebuah bangsa. Agama dan budaya merupakan dua pondasi karakter bangsa. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat beragama. Oleh karena itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada ajaran agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan karakter bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama. Selain dari agama, bahwasannya tidak ada manusia yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pemberian makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antaranggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan karakter bangsa.

Menggali akar kebudayaan dan kesenian dari dialektika imajinasi dan pemikiran kreatif suatu bangsa, menjadi proses yang bisa diarahkan bagi ikhtiar pembentukan karakter bangsa sebab kesenian berkembang tak lepas dari proses perjalanan sebuah bangsa. Seni dalam segala perwujudannya merupakan salah satu ekspresi proses kebudayaan manusia, sekaligus pencerminan dari peradaban suatu masyarakat atau bangsa pada suatu kurun waktu tertentu. Karena seni, bagaimanapun, merupakan bagian langsung dari kehidupan manusia yang sama penting dengan aspek-aspek kehidupan lainnya. Jejak peradaban suatu bangsa berkembang selaras dengan perkembangan kebudayaannya. Di dalamnya perkembangan seni tradisi, sains, dan teknologi. Seni tradisi dalam banyak hal dipengaruhi oleh orientasi nilai hidup manusia dalam proses interaksinya dengan alam, manusia sesama, dan Tuhan. Itulah sebabnya pada seni tradisi, kita temukan begitu banyak aspek. Antara lain spiritualitas, magis, dan kebiasaan-kebiasaan alamiah.

Di tengah terjangan budaya global sekarang ini, pemberdayaan dan penguatan terhadap keberadaan seni tradisi rupanya perlu segera diupayakan. Kesenian Bali pada umumnya, seni tradisi khususnya, harus melakukan reposisi kultural yaitu mencari posisi politik di tengah masyarakat lokal, benteng pertama dan terakhir yang mengawal legitimasinya. Nilai-nilai tradisi yang selama ini dianggap tidak berubah, orisinil, abadi, langgeng, dan a-historis kini dituntut untuk menemukan posisi dan maknanya yang baru. Karena itu disamping langkah rekonstruksi, upaya dekonstruksi juga mesti dilakukan. Dekonstruksi dilakukan pada seni tradisi bukan dalam pengertian ekstrim pembongkaran dan penghancuran melainkan melalui reinterpretasi dan inovasi. Pemikiran ini dilandasi bahwa kesenian adalah murupakan proses kebudayaan yang selalu dinamis dan akan berpeluang  eksis dalam sanggaan kreativitasnya.

Kreativitas merupakan proses mental dimana pengalaman masa lampau dikombinasikan kembali, sering dalam bentuk yang diubah sedemikian rupa sehingga timbul pola-pola baru, bentuk-bentuk baru yang lebih baik untuk mengatasi kebutuhan tertentu. Proses kreatif dimulai dari dalam diri manusia berupa pikiran, perasaan atau imajinasi kreatif manusia kemudian dituangkan menggunakan media dan teknik tertentu, sehingga melahirkan karya-karya kreatif Secara luas kreativitas bisa berarti sebagai potensi kreatif, proses kreatif dan produk kreatif. Proses kreativitas melalui kegiatan seni adalah jalan sebaik-baiknya yang dapat dilakukan sebab melakukan kegiatan seni berarti terjadi suatu proses kreatif.

Proses berkesenian dekonstrukstif dalam seni pertunjukan Bali telah dikobarkan oleh I Ketut Marya pada tahun 1920-an. Ingatlah kembali bagaimana proses kreatif Marya menciptakan tari Kebyar Duduk. Sebagai seniman berbasis seni tradisi klasik, ia menginterpretasikan tabuh-tabuh instrumental gamelan Gong Kebyar yang kemudian mengkristal menjadi tari baru yang dikenal sebagai Kebyar Duduk. Tatanan tari tradisi diterobosnya namun identitas estetik tari Bali lebih diberi artikulasi artistik. Tari Kebyar Duduk dan atau kemudian jadi tari Terompong menjadi tonggak pembaharuan tari jenis kebyar. Demikian pula apa yang dilakukan I Wayan Limbak di Bedulu pada tahun 1930-an terhadap tari yang kini disebut Cak. Didorong oleh Walter Spies, ia mendekonstruksi koor cak dalam ritual penolak bala Sanghyang menjadi tari Cak turistik. Bahkan reinterpretasi pada Cak kembali dilakukan oleh Sardono W. Kusumo  tahun 1972  di Banjar Teges Kanginan, Ubud,  dalam pertunjukan yang disebut Cak Rina.

Di masa kini, ada beberapa dekonstruksi pada seni pertunjukan tradisional Bali yang berhasil diterima masyarakat. Sendratari PKB dibangun dari semangat dekonstruktif. Elemen-elemen utama yang menjadi konstruksi sendratari yang baru muncul di Bali pada tahun 1962 itu ditunjang oleh seni tradisi. Penampilan sendratari dipanggung yang lebar dengan disaksikan ribuan penonton mengharuskan seni pertunjukan ini mendekonstruksi dirinya menjadi seni pentas dalam sajian estetik global-kolosal. Adi Merdangga yang muncul tahun 1984 dan hingga kini menjadi ujung tombak pawai PKB adalah kreativitas seni yang merupakan dekonstruksi dari seni tradisi gamelan Balaganjur. Seni tradisi wayang kulit pun tak luput dari adanya semangat dekonstrukstif seperti munculnya garapan wayang inovasi di ISI Denpasar yang kini tampak berhasil ditata apik-komunikatif oleh salah satu alumnusnya, I Wayan Nardayana yang populer dengan sebutan dalang Cenkblonk (baca: cengblong).

IV. Kreatif-Kritis

            Seni tradisi adalah gudang penyimpanan makna-makna kebudayaan masyarakat pendukungnya, memiliki kontribusi penting membangun karakter bangsa di tengah era globalisasi. Secara bentuk dan isi, seni tradisi merupakan media komunikasi spesifik yang  mengandung nilai-nilai estetik dan moral yang merefleksikan kebeningan nurani dan pencerahan budhi, dua pondasi utama dari kualitas konstruksi karakter bangsa. Untuk tampil sebagai budaya tanding globalisasi, seni tradisi sudah seharusnya mencari posisi strategis atau reposisi kultural yang merepresentasikan dirinya sebagai modal budaya jati diri bangsa. Aktualisasi seni tradisi dalam konteks membangun karakter bangsa dalam pengejawantahan jati diri bangsa di tengah transformasi budaya dan hegemoni budaya massa itu memerlukan idealisme berkesenian yang konstrukstif-prospektif. Ekspresi artistik dalam seni tradisi harus direkonstruksi secara kreatif. Nilai-nilai estetik yang mengendap pada seni tradisi tak ditabukan didekonstruksi secara kritis.

DAFTAR  PUSTAKA

Bastomi, Suwaji, 1992. Wawasan Seni. IKIP Semarang Press, Semarang.

Dibia, I Wayan, 1999. Seni Diantara Tradisi dan Modernisasi, STSI Denpasar,

         Denpasar,

Lubis, Mochtar. 1992. Budaya, Masyarakat dan Manusia Indonesia. Yayasan Obor

         Indonesia, Jakarta.

Murgiyanto, Sal, 2004. Tradisi dan Inovasi: Beberapa Masalah Tari di Indonesia,

         Wedatama Widya Sastra, Jakarta.

Piliang Yasraf Amir, 2000. Global/Lokal: Memperhitungkan Masa Depan (dalam Jurnal

         MSPI Th X 2000), Bandung.

-----------------------, 2005. Penguatan Seni Pertunjukan Tradisi dalam Era

        Merkantilisme Budaya (dalam Seni Pertunjukan Indonesia: Menimbang Pedekatan

        Emik), STSI Surakarta, Surakarta.

Wolff, Janet (dalam Joost Smiers), 2009. Art Under Pressure: Memperjuangkan

        Keanekaragaman Budaya di Era Globalisasi (terj. Umi Haryati), INSISPress,

       Yogyakarta.

                                                 *Paper ini disajikan pada dies natalis ISI Denpasar tahun 2011, Senin, 25 Juli 2011.

Seni Tradisi: Modal Budaya Membangun Karakter Bangsa Melalui  Rekonstruksi  Kreatif  Dan  Dekonstruksi  Kritis, selengkapnya

Comments are closed.