“Si Jepang” yang Heboh dan “Si Bali” yang Emoh: Sebuah Kritik

“Si Jepang” yang Heboh dan “Si Bali” yang Emoh: Sebuah Kritik

Kiriman: Ida Bagus Surya Peredantha, SSn., MSn, Alumni ISI Denpasar

Saniscara Kliwon, wuku Wayang, 29 Oktober 2011 merupakan hari piodalan di Pura Padma Nareswari kampus ISI Denpasar. Kampus yang terkenal sebagai “Kawah Candradimuka”-nya calon-calon seniman akademis nan unggul di Bali ini pun menggelar berbagai jenis pertunjukan tari dan tabuh, baik sebagai sarana upacara atau wali, sebagai bebali atau penunjang pelaksanaan upacara dan sekedar untuk memeriahkan suasana atau balih-balihan. Pergelaran kesenian ini pun melibatkan para mahasiswa dan dosen serta tidak lupa dimeriahkan oleh para mahasiswa asing yang tergabung dalam program pertukaran pelajar Dharmasiswa.

            Dimulai dengan pementasan tari Rejang Dewa oleh mahasiswi semester satu yang baru bergabung dalam tahun ajaran baru di ISI Denpasar, antusiasme para pemedek mulai meningkat. Maklum, pemedek yang sebagian besar dosen dan pegawai serta mahasiswa ini ingin menyaksikan langsung bagaimana potensi mahasiswa baru yang menampilkan kebolehannya pada kesempatan tersebut. Sebagai catatan, merupakan sebuah kebiasaan di ISI Denpasar beberapa tahun ini untuk melibatkan mahasiswa baru sebagai penari wali dalam piodalan di kampus. Setelah pementasan tari Rejang Dewa tadi, dilanjutkan dengan pementasan tari Baris Gede, juga oleh anak-anak semester baru. Sejenak kemudian, pementasan dramatari topeng tak pernah absen menghiasi hingar binger suasana khusuk religius di kampus seni yang dulunya bernama ASTI serta STSI tersebut.

            Beberapa saat setelah piodalan selesai dilaksanakan, pada malam harinya dipentaskan beberapa jenis tarian untuk menghibur pemedek yang baru datang. Ada tari Selat Segara ciptaan I Gusti Ayu Srinatih, SST., M.Si, dilanjutkan dengan tari Legong Keraton Lasem oleh para mahasiswa dari Jepang serta tari Satya Brasta karya I Nyoman Cerita SST., M.FA. Namun yang mengundang decak bagi penulis adalah penampilan dari para mahasiswa Jepang bernama Yasuda Sae, Ono Satomi dan Tashiro Cia dalam membawakan tari Legong Keraton Lasem.

            Ada beberapa hal yang menurut penulis perlu diperhatikan dan dicermati dalam penampilan mereka. Yang pertama adalah antusiasme mereka untuk ikut serta melibatkan diri dalam berbagai pentas seni. Partisipasi mereka dalam meramaikan acara hiburan di areal luar Pura Padma Nareswari tersebut patut diapresiasi positif sebagai kelanjutan kelas program Dharmasiswa yang mereka ikuti di kampus. Sebagai seniman dari Bali, kita patut berbangga karena kesenian yang selalu kita lestarikan ini turut dipelajari dan disukai oleh orang asing.

Hal selanjutnya adalah keseriusan para mahasiswa asing (khususnya dari Jepang) dalam membawakan tari yang tergolong cukup rumit tersebut. Dengan beberapa penonton yang lain pun penulis sempat berdialog dan menanyakan komentarnya terhadap performa para mahasiswa asing ini dalam menari. Berbagai tanggapan positif dan kekaguman pun mencuat untuk mereka. Meskipun teknik tari tidak bisa seluwes para penari Bali yang sudah mahir, namun tetap saja penampilan mereka seolah menyiratkan bahwa mereka mengerti dan menjiwai setiap gerakan yang disajikan. Tidak kali ini saja penulis menyaksikan para mahasiswa asing membawakan tari-tari tradisional Bali yang notabene adalah budaya asli masyarakat Bali dan tentu saja hal baru bagi mereka. Penampilan prima hampir selalu mereka sajikan pada tiap kesempatan menari, entah disaksikan oleh ribuan penonton atau bahkan hanya disaksikan oleh belasan penonton.

Menyaksikan penampilan para mahasiswa asing yang demikian apiknya tidak saja membuat hati penulis berdecak bangga, namun juga membangkitkan kemirisan hati bilamana penulis mengingat beberapa pagelaran tari yang dibawakan oleh mahasiswa lokal ISI Denpasar sendiri. Pada beberapa kali kesempatan tampil dalam acara workshop (atau kunjungan tamu asing), ISI Denpasar selalu menyajikan beberapa materi tari sebagai sajian pementasan. Hal yang masih hangat dalam ingatan penulis, yang kebetulan sering dipercaya ikut mementaskan tari Oleg Tamulilingan saat workshop, menyaksikan langsung beberapa oknum mahasiswa lokal kita sangat relaks dan bahkan “terlalu relaks” dalam membawakan satu tarian. Sajian mereka di atas panggung pun menurut penulis tak lebih dari sekedar parodi bercanda yang sedikit “kelewatan”. Bagaimana tidak, sebuah tari yang serius, memerlukan penjiwaan yang dalam dibawakan seolah tanpa roh. Saling ejek dan beberapa tindakan jahil antar penari di atas panggung (saat sedang menari) seolah hal yang halal dilakukan oleh penari ISI Denpasar. Tidakkah mereka berpikir bilamana pencipta tari tersebut menonton pertunjukan mereka? Bagaimanakah perasaan mereka bila nanti tarian yang berhasil mereka ciptakan dengan penuh perjuangan dibawakan dengan asal-asalan (atau lebih tepat “dilecehkan”) sedemikian rupa? Pedulikah mereka akan komentar dan kesan penonton (yang mereka anggap “tidak mengerti” tari Bali) serta bagaimana citra lembaga setelah para tamu (yang ternyata “mengerti” tari Bali) meninggalkan kampus?

Hati ini semakin teriris dan bertanya-tanya saat melihat reaksi beberapa oknum penari sesaat setelah mereka selesai menari di atas panggung. Seolah ada rasa “kebanggaan” atas segala “kelucuan” (atau kekonyolan?) yang mereka pentaskan beberapa saat yang lalu yang ditunjukkan dengan tawa-tawa puas nan lantang. Keheranan ini bertambah ketika melihat beberapa rekan mereka justru mensuport dan berpotensi meniru tindakan-tindakan semacam itu kelak. Tidak ada indikasi kritik yang mengingatkan apalagi nasehat yang bersifat preventif dari orang-orang sekitar oknum penari tersebut. Pada saat inilah penulis rasa perlu ungkapkan sebuah gambaran hidup, bahwa sebelum merasa di atas angin, kita harus berusaha untuk bisa mengepakkan sayap dan terbang melewati banyak hal terlebih dahulu.

Sungguh hal yang kontradiktif melihat fakta ironis yang telah terjadi tersebut. Bagaimana tidak, budaya adiluhung bernama kesenian yang telah membawa ISI Denpasar serta Bali menjadi terkenal justru mulai mendapat rongrongan dari dalam. Meskipun masih bersifat kecil, bilamana tidak diingatkan akan menjadi sesuatu yang massif dan bersifat dekonstruktif. Rupanya isu kedisiplinan merupakan hal yang harus kita pelajari dari mahasiswa asing yang justru mengagungkan kesenian milik kita. Mereka begitu antusias dan bangga mendapatkan kesempatan untuk belajar dan sekaligus pentas tari Bali. Berbeda dengan kita yang terkesan melecehkan kebanggaan kita sendiri. Terlebih setelah budaya atau kesenian kita diklaim bangsa lain, barulah ramai-ramai kebakaran jenggot. Maka jangan heran, rumput menjadi lebih subur di negeri tetangga karena perawatannya lebih baik, meski dari benih yang sama. Paradigma oknum mahasiswa di ISI Denpasar khususnya di Seni Tari yang bisa dikatakan memalukan tersebut harus segera diubah. Para pejabat struktural terkait, pembimbing akademik, para dosen pengajar harus selalu aktif melakukan pembinaan formal dengan pendekatan persuasif dan berkelanjutan. Di luar jam-jam belajar resmi, mahasiswa juga perlu diberikan pengertian bahwa tindakan-tindakan kurang baik seperti tersebut di atas adalah dapat dikatakan kurang menghargai hasil karya seseorang. Bahkan bila perlu, diajak untuk menonton video tari yang nyeleneh dalam arti para penarinya tidak memiliki keseriusan hati dalam menari sebagai pembanding atau cerminan dan memancing komentar mereka.

Pelecehan terhadap hasil karya menurut penulis juga merupakan sebuah pelanggaran disamping penjiplakan (plagiatisme) jika dikaitkan dengan pembelajaan HKI. Efek yang ditimbulkan dari sisi psikologis pun sama beratnya, yaitu merasa tersakiti secara emosional karena tidak adanya penghargaan atas karya yang telah tercipta. Tentu saja penulis berharap hal ini tak terjadi lagi untuk berbagai pementasan yang dilakukan oleh mahasiswa ISI Denpasar dalam kesempatan berikutnya. Banyak faktor terkait yang berpotensi dirugikan oleh tindakan semacam ini. Tulisan ini tidak lain adalah rasa jengah penulis terhadap pola pikir oknum mahasiswa terhadap keseniannya sendiri. Tiada pula tujuan untuk menyerang pribadi masing-masing. Sebelum hal ini menjadi “wabah” bagi perkembangan kesenian kita di ISI Denpasar dan Bali pada umumnya, mari berbenah diri sesegera mungkin.

“Si Jepang” yang Heboh dan “Si Bali” yang Emoh : Sebuah Kritik, Selengkapnya

 

Comments are closed.