Simbolisasi Bentuk Dalam Ruang Imaji Rupa

Simbolisasi Bentuk Dalam Ruang Imaji Rupa

Ringkasan Penelitian

Oleh: I Made Bendi Yudha Fakultas Seni Rupa Dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar

Masyarakat Bali yang dikenal religius, dalam hidup kesehariannya pada pelaksanaan ritual keagamaan yang disebut dengan Panca yadnya (lima jenis korban suci yang dilaksanakan dengan tulus ihklas), selalu  dilengkapi dengan sarana-sarana upakara/banten sesajen yang sarat dengan berbagai jenis bentuk dan gambar berupa simbol yang religius magis. Seni banten adalah seni simbol, di mana benda-benda yang konkrit dan abstrak bisa di buat artistik seperti halnya simbol-simbol dari huruf-huruf gaib; dasa aksara, panca aksara, yang secara aplikatif memiliki fungsi yang berbeda dan terkadang saling bertentangan sesuai dengan kebutuhan serta tujuan penggunaannya.

Dari hasil pengamatan tersebut timbul penafsiran tentang suatu makna bahwa, manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, pada dasarnya memiliki dua potensi besar yang saling tarik-menarik dan melengkapi yaitu; melakukan strukturisasi/menata (order) yang berorientasi pada penataan kehidupan yang lebih baik dan melakukan penyimpangan/pertikaian bahkan penghancuran (chaos) yang cenderung menolak kemapanan. Hal ini bila pengelolaannya tidak didasari dengan konsep keseimbangan dan  keharmonisan, maka akan berpengaruh terhadap tatanan sosial masyarakat yang rawan konflik dan perpecahan, sehingga  menggoyahkan sendi-sendi keutuhan berbangsa dan bernegara.

Konsep keseimbangan yang terkandung dalam sarana-sarana upakara/banten sesajen bila di komparasikan dengan memaknai fenomena kehidupan yang terjadi di lingkungan masyarakat dewasa ini, nampaknya telah terabaikan bahkan ditinggalkan. Hal ini dapat dibuktikan di mana telah terjadi tindakan-tindakan penyimpangan baik  terhadap alam maupun pada kehidupan manusia antara lain, terjadinya  eksploitasi terhadap sumber kekayaan alam, diskriminasi di bidang hukum dan HAM , jender, serta penyalahgunaan kewenangan di bidang administrasi negara, dan akan berdampak pada meluasnya krisis ekologis dan degradasi moral, serta mempertinggi tingkat kemiskinan masyarakat.

Berdasarkan pemahaman terhadap simbol-simbol tersebut di atas, dapat dijadikan sebagai pengalaman interaktif serta sumber inspirasi, yang menstimulasi alam imaji pencipta untuk memicu bagi munculnya olah cipta rasa yang kreatif berupa ide-ide tentang nilai-nilai kehidupan. Adapun tuturan konsep filosofisnya diabstraksikan ke dalam karya seni lukis, dengan memadukan bentuk representatif dengan abstraktif melalui penerapan garis, warna dan tekstur yang variatif, serta melalui teknik impasto, sehingga mencerminkan keaslian karya seni (authenticity of the art work), yang estetik, artistik serta mencerminkan nilai kebaruan (novelty)  yang personal.

Kata-kata kunci: seni lukis, simbolisasi bentuk, ruang, imaji rupa.

Comments are closed.