Sisa Kayu Di Tangan Geledih, Unik Dan Bernilai Tinggi

Sisa Kayu Di Tangan Geledih, Unik Dan Bernilai Tinggi

Kiriman: I Made Sumantra, SSn., Dosen PS. Kriya Seni ISI Denpasar.

            Kreatif, inovatif, dan selalu menjaga keseimbangan alam adalah apa yang  menjadi dasar pertimbangan di dalam menghasilkan karyanya. Bila kita melihat karya I Ketut Geledih, terlihat pendeformasian sangat kental mewarnai karya apa saja yang diciptakannya. Ini mungkin karena adanya  pengaruh dari pendahulunya Ide Bagus Nyana, karya I Ketut Geledih yang berjudul gadis mandi, 1996 menggambarkan figur seorang gadis yang sedang mandi. Liukan aliran air serta uraian rambut basah karena habis keramas dibuat halus dan licin. Di sini terlihat dalam menggabungkan antara bentuk-bentuk yang langsing dan memanjang dengan bentuk-bentuk yang menggelembung elastis.

            Pendeformasian bentuk yang dilakukan, maupun bentuk kayu aslinya sebagai respon pembuatan karya tersebut. Karya ini dalam pencapaian bentuk figurnya sangat kental dengan pendeformasian bentuknya yang mengelembung elastis, tetapi dalam karya ini terlihat adanya usaha untuk memanfaatkan materialnya dengan menonjolkan tekstur yang tidak seluruhnya licin. Dengan demikian karya tersebut kalau dilihat keseluruhan tampak adanya kesan kelembutan dan tidak membosankan bila dipandang. Di sini tampak adanya suatu keberanian dalam menonjolkan ekspresi dari figur tersebut disertai dengan ketepatan dalam pengaturan komposisi maupun kematangan dalam penguasaan teknis, baik dalam melakukan pendeformasian maupun dalam menampilkan ekspresi wajah figur tersebut. Hal ini menyebabkan timbulnya kesan suasana sedang mandi yang digambarkan dalam karya ini tampak sangat mengena. Terlihat tampak jelas sekali dalam pembuatan bentuknya mengikuti bentuk kayu. Karena kepandaian komposisinya secara menyeluruh, maka karya tersebut dengan kejelasan tentang melukiskan seorang yang sedang mandi. Karya ini, sudah menonjolkan adanya usah untuk membuat kesan gerak dari figur yang ditampilkan. Hal ini, terlihat dari cara penggambaran posisi dari figur tersebut dengan sikap menukik yang kedua tangannya dibuat seakan-akan sedang melakukan keramas. Maka, kalau diperhatikan secara keseluruhan tampak adanya kesan dinamis.

            Pendek kata, bahan yang dipakai dari kayu-kayu yang biasanya dianggap sudah tidak berguna lagi. Karena idenya untuk memanfaatkan barang-barang yang sudah tidak berguna itu, maka dalam proses pembuatannya selalu mengikuti bentuk bahan tersebut, dideformasi menurut cita rasanya. Bentuk akar dan sisa-sisa kayu itu pada umumnya bentuknya meliuk-liuk aneh, seringkali karyanya juga rumit dan unik. Tekstur selalu dibikin halus mengkilat seperti halnya karya-karya Ide Bagus Nyana. Dari bahan yang tak terpakai ternyata dapat menjadi barang yang indah dan tinggi nilainya.

            Teknik penggarapan karya Geledih sama dengan pemahat-pemahat Bali lainnya, yaitu menggunakan permukaan yang halus dan licin. Hanya dalam gaya, Geledih punya ciri khas yaitu tidak pernah meninggalkan kesan materialnya yang asli. Bentuk kayu semula masih kelihatan, objeknya hanya dideformasi dengan mengikuti lekuk-lekuk serta sifat kayu yang ada. Bagian-bagian tekstur kayu yang menarik dimanfaatkan untuk pencapaian artistik.

            Pemahat kreatif ini yang sejak sebelumnya telah menciptakan bentuk patung yang sederhana, tetapi berjiwa dan asli menurut bentuk/ potongan kayu asalnya. Patung ini memiliki bentuk dan susunan yang amat sederhana, tetapi cukup menampilkan bentuk baru dewasa ini. Bentuknya sering mengikuti bentuk/ potongan bahan kayunya yang besar pendek ataupun yang orisinil.

            Gaya karya-karya Geledih menjelmakan suatu bentuk watak atau ide yang sederhana. Menonjolkan apa-apa yang murni (esensial), penting dan mengesampingkan atau meninggalkan hal-hal yang berarti. Bentuk patung sederhana, akan dapat memancarkan kekuatan-kekuatan spiritual dan jiwa kebatinan yang kuat. Kalau kita menghadapi serta menikmati patung-patung karya Geledih benar-benar kita merasakan keindahan garis, bentuk, susunan sepotong kayu memiliki jiwa dan nafas.

              Mula-mulanya bentuk ini dipandang aneh dan tidak mendapat perhatian di masyarakat pemahat  tetapi kemudian yang terjadi adalah yang sebaliknya. Banyak tamu asing (Barat) banyak yang menanyakan dan mencari siapa penciptanya. Patung ini banyak dibicarakan dan sangat digemari oleh tamu-tamu Barat kerena bentuk sederhana itu, menyerupai corak perwujudan patung modern di dunia Barat.

            Dalam menciptakan bentuk  itu Geledih tidak berdasarkan suatu pertimbangan yang rasionil atau berdasarkan suatu teori. Benar-benar perwujudan patung tersebut merupakan cetusan jiwa yang terpendam. Mulai saat itulah nama pemahat yang kreatif ini mulai menanjak dan akhirnya banyak pemahat Bali yang membuat patung-patung  yang diilhami karya I Ketut Geledih.

            Di dunia kesenian Barat baru sekali terjadi pengakuan atas mutu seni dari suatu corak perwujudan (style) dalam seni rupa yang halus, yang dengan tegas mengesampingkan hal-hal yang kurang berarti, yang kurang esensial untuk perwujudan watak atau ide dan mempergunakan bentuk yang sederhana untuk menciptakan karya-karyanya. Kalau di dunia kesenian Barat corak Kubisme ini dengan sengaja menjadi dasar pikiran dan titik tolak dari suatu perwujudan seni yang bermaksud berekspresi atau menyatakan sesuatu, patung ini mencapai corak yang menyerupai corak Kubisme itu dari segi dan dasar yang sangat berlainan.

            Perwujudan lain dari pada perwujudan Kubisme Barat tidak berdasarkan pertimbangan yang rasional atau suatu teori yan menggunakan pikiran, akan tetapi merupakan suatu letusan dari api yang sudah beberapa waktu sebelumnya berkobar di dalam jiwanya. Letusan yang terjadi dari jiwa seorang manusia yang terpilih oleh suatu kekuatan yang ada dalam alam semesta.

            Jiwa seniman yang demikianlah yang kita sebutkan genius terpilih oleh Tuhan untuk menghantarkan umat manusia kearah yang belum terduga. Tidaklah mengherankan bahwa karena perkembangan jiwa beliau sejak dulu sudah menuju ke arah yang sangat kreatif, imajinasi pikiran yang beliau miliki sudah mulai berkembang atau dikembangkan dengan ikut sertanya dalam seni tari, drama wayang yang merupakan suatu bidang kesenian yang dari turun temurun , di mana dengan sendirinya jiwa dari para seniman menikmati keluhuran falsafah-falsafah klasik. Perkembangan itu hanya bercorak klasik pewayangan seperti Dewi Ratih yang di telan Kalarau, Dewi Sita dengan kijang, Rama sedang memanah, Ganesa dan sebagainya.

Sisa Kayu Di Tangan Geledih, Unik Dan Bernilai Tinggi, selengkapnya

Comments are closed.