Struktur Nilai Simbolisme dan Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang

Struktur Nilai Simbolisme dan Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang

Kiriman I Ketut Gina, Mahasiswa PS. Seni Pedalangan

Pengertian Simbol

            Peursen, C.A Van ornentasi di dalam filsafat mengatakan, bahwa semiotik adalah ilmu tanda yang mempelajari tentang fenomena sosial. Zamzamah menjelaskan, bahwa semiotika adalah ilmu yang mempelajari fenomena sosial budaya, dalam kontek semiotik mempunyai dua aspek, yakni aspek penanda dan aspek petanda. Penanda adalah bentuk format itu, sedangkan petanda adalah arti/acuannya. Berdasarkan hubungan antara penanda dengan petanda, maka tanda dapat dipilih ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan yang bersifat alamiah penanda dengan petandanya, hubungan ini adalah hubungan persamaan, misalnya gambar kuda (penanda), menandai kuda (petanda); indeks adalah tanda yang menunjukkan hubungan kausal atau sebab akibat antara penanda dengan petandanya, asap menandai api; simbol adalah tanda yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan alamiah antara pananda dengan petandanya, misalnya “ibu” adalah simbol yang ditentukan oleh konvensi masyarakat Indonesia, orang Inggris “mother”, orang Prancis “la mere” dan sebagainya. Dari ke dua pendapat filsuf di atas mengindikasikan, bahwa simbolisme itu merupakan lambang-lambang yang dijadikan alat atau sarana pada suatu aktifitas tertentu, yang merupakan miniatur dari alam semesta, seperti kayonan lambang gunung, blencong akan mengindikasikan siang dan malam sesuai dengan cahaya yang dimunculkan, pihak kiri dan kanan simbol kejahatan dan kebajikan, dan lain sebagainya.

Nama, Simbol, dan Fungsi Sarana Pementasan

Nama-nama dari simbol pada pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung adalah:

1). Gedebong merupakan  simbol dari  tanah (pertiwi) fungsinya untuk menancap kan tangkai wayang sesuai keinginan dalang.

2). Kelir  merupakan simbol dari  langit (embang) fungsinya  untuk  menampilkan bayangan wayang.

3). Jelujuh (posisinya  vertikal  di  pinggir  kelir), gegilig  (posisinya  horisontal diatas dan di bawah kelir) simbol dari tapak dara fungsinya untuk mengkencangkan kelir.

4). Reracik  simbol dari jari  tangan  dan  jari  kaki  sang  dalang  fungsinya  untuk    menguatkan posisi kelir.

5). Blencong merupakan  simbol dari  Sanghyang Triodasa Saksi (matahari, bulan, dan bintang) fungsinya untuk penerangan saat pertunjukan wayang.

6). Kropak  merupakan simbol  dari  Tri Bhuana (bhuh loka, bwah loka, dan swah loka) fungsinya untuk tempat menyimpan wayang.

7). Wayang merupakan  simbol dari  penghuni Tri Bhuana atau isi  alam  semesta,yangterdiri dari berbagai  karakter (tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia, buta  kala, raksasa, dewa) fungsinya untuk memerankan cerita  sesuai dengan  karakternya masing-masing.

8). Gamelan merupakan simbol dari saudara sang dalang (nyama catur) fungsinya  untuk pengiring mengiringi pertunjukan wayang.

9). Katengkong merupakan  kedua  orang  tua sang dalang (di sebelah kanan ayah, di  sebelah  kiri  ibu)  fungsinya   untuk   membantu    kelancaran   pertunjukan wayang.

10). Upakara  merupakan  suguhan   sebagai  ucapan  terima   kasih  sang   dalang  kepada  Tuhan,  segehan  diperuntukkan   kepada   para  buta kala  fungsinya    nyomya agar  ikut mendukung pertunjukan wayang.

11. Wayang Calonarang merupakan simbol dari Rwa-Bhineda (siang-malam, kiri- kanan, fositif-negatif, dan  lain sebagainya) fungsinya  untuk  mengungkapkan di dalam  buana  agung  dan  buana  alit  tidak  pernah luput dari hal dua yang  berbeda, maka dari itu ilmu hitam dan ilmu putih selalu  muncul di jagad  raya   ini.

12. Dalang  merupakan  simbol   dari   Sanghyang  Kawiswara   fungsinya   untuk   mengerakkan  Rwa-Bhineda  (siang-malam,   baik-buruk,   kiri-kanan,   fositif-negatif dan lain sebagainya) yang akhirnya menjadi suatu keseimbangan. 

Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang

1. Pengertian Mistik

Pembahasan unsur-unsur mistik pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung oleh dalang Ida Bagus Sudiksa, terlebih dahulu kita ungkap pengertian mistik dari sumber tertulis sebagai berikut:

a). Perbedaan Ilmu Filsafat dengan Mistik adalah: ilmu filsafat sifatnya terbuka dan dapat berkomunikasi, sedangkan mistik sering bersifat rahasia ”sinengker” atau esoteris. Kesadaran yang didapat dari filsafat adalah ”kesadaran intelek”, dan “ratio”, sedangkan kesadaran yang didapat dari mistik adalah ”kesadaran rasa (mistik)” dan berada di luar atau di atas lingkup ”ratio”.

b). Adiputra mengungkapkan dalam bukunya yang berjudul Dunia Gaib orang Bali bahwa, nilai magis suatu tempat selalu berhubungan dengan makna niskala tempat itu, bukan tergantung pada penampakan fisiknya. Suatu lokasi yang dinilai angker dalam dunia sekala selalu dipercaya ada penghuninya berupa makhluk halus dunia niskala.

            c). Mircea Elliade mengutip pendahuluan Rudolf Otto mengatakan, mengenai batasan sakral adalah Otto melukiskan semua pengalaman ini berasal dari Tuhan karena dibangkitkan dari energi ke-Tuhanan. Pengalaman Illahi ini menghadirkan dirinya sesuatu yang sepenuhnya berbeda, sesuatu yang secara total berbeda. Dia menemukan perasaan terteror oleh alam sakral, alam misterius, dan terharu terhadap energi yang superior. Ia menemukan ketakutan religius dalam misteri yang menakjubkan hati, dimana kesempurnaan penuh kehidupan itu berkembang. Manusia dihadapkan oleh pengalaman ini merasakan dirinya dalam ketiadaan, seolah-olah hanya seekor makhluk kecil, tak ubahnya sebagai debu dan arang.

d). Perbedaan dua tempat yaitu Kaja dan Kelod, Kaja adalah gunung sebagai simbolis kesucian yaitu kesenian yang bersifat sakral, Kelod adalah simbolis laut yang merupakan simbolis profan atau sekuler. Dalam buku tersebut juga menyinggung tentang katagori kesenian Bali yaitu : seni wali, bebali dan balih-balihan. Dua tempat yang berbeda tentunya ada suatu pembatas yang menyebabkan kondisi menjadi berbeda pula, seperti kaja (utama mandala) merupakan tempat yang sakral sebagai tempat wali, tengah (madya mandala) merupakan tempat biasa, sebagai tempat pementasan bebali, dan kelod (nista mandala) merupakan tempat luar biasa atau bebas, biasanya tempat balih-balihan atau hiburan.

Ke-empat pendapat di atas, sudah sangat paten untuk penulis jadikan pedoman membahas unsur-unsur mistik yang terkandung di dalam pertunjukan Wayang Calonarang lakon Kaurus Rarung oleh dalang Ida Bagus Sudiksa. Adapun unsur-unsur mistik tersebut akan dijabarkan sebagai berikut:

2). Unsur Mistik Pada Upakara Pengaradan

Upakara (bebantenan) kalau dilihat dari bentuk sudah jelas merupakan lambang, akan tetapi kalau ditinjau dari segi fungsinya adalah mistik, karena upakara merupakan sarana untuk memanggil (pengaradan), maka berbeda dari bentuk upakara, berbeda pula fungsinya. Unsur mistik yang terkandung pada upakara (bebantenan) pada pementasan Wayang Calonarang lakon Kautus Rarung, merupakan sarana untuk memanggil (ngarad) guna diberikan suguhan atau upah. Upakara atau bebantenan yang diperlukan sudah jelas jauh lebih besar dari pementasan wayang biasa (selain Wayang Calonarang). Seperti halnya dalam rangka kegiatan upacara agama, kemudian mengundang beberapa pemuka beserta jajarannya, maka patut dipersiapka segala sesuatu untuk menyambut para undangan. Bukan hanya pemuka tertentu saja yang disuguhkan hidangan, melainkan jajarannyapun mesti ikut serta dapat menikmati menu (hidangan yang perlu dipersiapkan) oleh tuan rumah. Begitu pula halnya dengan pertunjukan Wayang Calonarang sajian ida Bagus Sudiksa, karena begitu banyaknya para undangan merupakan rencang-rencang (pengikut) Betari Dalem yang diundang oleh sang dalang, untuk ikut serta menyaksikan pertunjukan, bahkan ikut ambil bagian di dalam pertunjukan tersebut, maka dari itu harus disediakan makanan, minuman kesukaan para undangan. Adapun upakara yang disajikan sebagai berikut.

Struktur Nilai Simbolisme dan Mistikisme Pertunjukan Wayang Calonarang, selengkapnya

Comments are closed.