Sulitnya Mahasiswa Asing Melanjutkan Studi di Indonesia

Sulitnya Mahasiswa Asing Melanjutkan Studi di Indonesia

Jakarta - Indonesia sebagai salah satu negara yang kaya dengan sumber alamya, ternyata juga negara yang paling banyak mengekspor tenaga kerja ke luar negeri. Begitu banyak kisah sedih yang kita dengar tentang nasib penyumbang devisa negara tersebut.  Terutama mereka yang bekerja di bidang nonformal seperti pembantu rumah tangga, pekerja kebun dan penjaga toko.
Mengapa Indonesia tidak mencoba mencari peluang lebih terbuka di bidang pendidikan untuk mendatangkan mahasiswa mahasiswa asing untuk menuntut ilmu di negara ini? Malaysia contohnya, negara tetangga terdekat Indonesia telah sukses meraup keuntungan besar di bisnis pendidikannya. Ribuan pelajar dari luar Malaysia, khususnya dari negara Arab seperti Jordan, Mesir, Irak, Libya, Yaman, Arab Saudi dan termasuk dari China, Thailand, Pakistan, Bangladesh dan dari Indonesia, datang setiap tahun berbondong-bondong ke Negeri Jiran ini untuk melanjutkan studi mereka.
Dari laporan terbaru  terjadi peningkatan jumlah yang signifikan dari 54.474 orang pada tahun 2009 menjadi 75.819 orang pada tahun 2011 pelajar asing yang datang ke Malaysia. Bisa dibayangkan jutaan ringgit keuntungan yang didapatkan oleh pemerintah setiap tahunnya dari bisnis ini. Beberapa alasan mereka memilih Malaysia untuk melanjutkan studi adalah selain biaya pendidikan dan hidup yang terjangkau. Malaysia adalah negara dengan populasi Muslim yang besar dan kondisi politik negara yang  stabil dan sehingga mereka dapat hidup dengan aman. Alasan lain adalah kondisi geografis, iklim, budaya dan keindahan alan Malaysia.
Apa yang salah dengan dengan Indonesia? Indonesia juga memiliki populasi muslim terbesar di dunia. Dari segi kondisi geografis, iklim, budaya dan keindahan alam, Indonesia jelas jauh lebih mempesona. Demikian juga dari kualitas individu pengajar dan grade universitas, Indonesia tidak kalah dari Malaysia. Dari hasil laporan terakhir 4International Colleges and Universities 2011 disebutkan bahwa Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia masuk dalam 200 besar universitas terbaik di dunia. Sementara tidak satu pun universitas di Malaysia yang berhasil dalam 200 besar tersebut.
Ternyata hal yang sangat bermasalah adalah sistim birokrasi yang rumit dan memerlukan waktu yang cukup lama. Di Malaysia, setiap pelajar asing yang baru datang, mereka langsung  diminta untuk mendatangi internasional office (IO). Disini semua hal-hal yang berkaitan dengan dengan passport dan visa akan diurus oleh staff IO. Calon mahasiswa hanya menunggu selama 10 hari untuk mendapatkan visa pelajar sebelum memulai perkuliahan. Staf yang bekerja di international office inilah yang akan mengurus semua hal yang berhubungan dengan kementrian pendidikan tinggi dan pihak imigrasi Malaysia.
Lain halnya dengan negara kita tercinta, sebagai contoh ada teman dari Libya yang akan melanjutkan pendidikan ke Indonesia. Setelah menghubungi universitas yang bersangkutan dan dinyatakan diterima, maka harus ada hal-hal lain yang harus diurus sendiri oleh calon mahasiswa yang bersangkutan.  Di antaranya izin dari Kementrian Pendidikan Nasional untuk izin kuliah dan Kementrian Hukum dan HAM untuk mengurus masalah visa. Di mana untuk urusan ini bisa memakan waktu selama dua bulan, sehingga mahasiswa yang bersangkutan ini jadi cape dan merasa dipersulit dengan birokrasi yang berbelit-belit, yang akhirnya mereka memilih untuk melanjutkan studi di Malaysia dengan proses administrasi mudah.
Untuk itu, pada kesempatan ini, penulis mengimbau agar pihak-pihak yang berwenang agar dapat lebih memberikan perhatian khusus untuk mempermudah dan mempercepat birokrasinya. Sehingga dengan potensi sumber daya dan infrastruktur yang cukup memadai, Indonesia juga dapat dijadikan tempat untuk menuntut ilmu bagi pelajar dari luar negeri yang berkeingan untuk melanjutkan studi mereka dan pada akhirnya juga dapat menjadikannya sebagai sumber pemasukan negara.
*) Nofrizal Syamsudin
adalah mahasiswa Pogram Master University Sains Malaysia (USM) Ketua Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Sains Malaysia (USM) Pulau Pinang Malaysia.

Sumber: Detiknews.com

Comments are closed.