Taman Ujung Yang Dibangun Oleh Seorang Seniman

Taman Ujung Yang Dibangun Oleh Seorang Seniman

Kiriman: A.A.Ayu Kusuma Arini, SST.,MSi., Dosen PS. Seni Tari ISI Denpasar

Setelah kerajaan Cakranegara dan Mataram Lombok dikalahkan Belanda tahun 1894 hingga seorang raja tua diasingkan ke Batavia maka secara otomatis kerajaan Karangasem dengan Stedehauder I A.A.Gede Djelantik yang dilantik tahun 1896, di bawah kekuasaan kolonial Belanda. Karena beliau tidak berputra, sebagai penggantinya telah dipersiapkan seorang keponakannya yakni A.A.Bagus Djelantik yang sejak kecil telah memperlihatkan bakat dan kecakapannya. Selanjutnya A.A.Bagus Djelantik yang lahir tahun 1890 dilantik menjadi Stedehauder II tahun 1908, adalah seorang seniman dan sekaligus pembina kesenian. Jabatan yang pernah dipangku adalah Zelbestur der Karangasem atau Regent Karangsem (1929-1942) dengan gelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem atas persetujuan Residen Caron, Sijuco Karangasem (1942-1945) dan raja Karangasem (1945-1950). Sebagai pemimpin daerah, walaupun kondisi Karangasem tandus, tetapi kesenian tidak dibiarkan mengering. Beliau memiliki wawasan yang luas serta pengamatan yang tajam terhadap berbagai cabang seni. Dalam seni ukir dan arsitektur, beliau mendisain berbagai ukiran semen untuk hiasan tembok maupun pot bunga di taman-taman yang dibangunnya dengan corak campuran tradisional Bali, Belanda dan Cina. Kegemaran membuat kolam ini, nampak juga di Puri Maskerdam di area kompleks Puri Agung yang di tengah-tengahnya dibangun Bale Gili sebagai tempat parum (rapat) dan menjamu para tamu.

Dalam hal seni tari, beliau sering mengunjungi dan membina seka-seka kesenian. Putra-putra beliau yang tertarik akan seni tari, dipanggilkan guru tari yang tenar seperti I Nyoman Kakul dan yang lainnya. Adapun pengalaman yang mengesankan adalah ketika beliau melakukan muhibah dua kali ke keraton-keraton Paku Buwono X, Mangku Negara VII dan Sri Paku Alam VIII di Solo, dengan membawa rombongan kesenian. Pada tahun 1928 beliau membawa kesenian Legong dari Kuta-Badung bersama I Wayan Lotering. Muhibah kedua dilakukan tahun 1935 pada waktu pembukaan Museum Sono Budoyo, membawa kesenian Topeng dan Legong dari Karangasem. Setelah kunjungan tersebut hubungan kekerabatan dengan keraton Solo semakin akrab. Salah seorang penari Legong yang ikut dalam rombongan tersebut Jero Intaran menuturkan bahwa tarian Legong yang dibawa adalah Legong Lasem dan Jobog. Guru tari Legong  terkenal I Gusti Gede Raka dari Saba – Gianyar menuturkan, bahwa setelah rombongan kembali dari Solo penyebutan tari Legong lalu menjadi Legong Keraton hingga kini karena tari Legong pernah dipentaskan di Keraton Solo.

Sebagai sastrawan, beliau menggubah sebuah gaguritan “Melayar ke Surabaya” yang ditulis ketika berobat ke Surabaya. Jauh dari sanak keluarga dan operasi berat yang dijalani, rupanya mengusik jiwa seni beliau untuk menulis tentang nasehat nilai-nilai kebenaran. Ketika gaguritan tersebut dibaca dalam tembang yang mengharukan, para pendengar tertegun haru dan menitikkan air mata. Selain itu, naskah gaguritan Membangun Sekolah Putri ditemukan di Istana Mangkunegara Surakarta, kiranya dibuat menjelang pembukaan Sekolah Keputrian di Denpasar yang kini dikenal sebagai SKKA.

Dalam dunia pendidikan, beliau menggagas menghimpun dana untuk pendirian sebuah sekolah yang mengutamakan pendidikan kebudayaan. Hal ini disambut baik oleh raja-raja Klungkung, Bangli dan Gianyar. Maka berdirilah sebuah Yayasan yang bertujuan memajukan pendidikan putra-putra Bali yakni Holland Indlansche School (H.I.S-Siladarma) di Klungkung, tahun 1920. Pada jaman kolonial, kemahiran membaca, menulis dan pemahaman bahasa Belanda menjadi syarat utama bagi pribumi yang akan melamar pekerjaan. Beliau amat memperhatikan pendidikan putra-putrinya maka setelah berdiri sekolah-sekolah pada jaman Belanda itu, beberapa putra-putri beliau disekolahkan ke Klungkung, Denpasar (H.I.S), Singaraja (E.L.S - Europisesche Lagere School), bahkan sampai ke Jawa dan salah seorang putra beliau A.A.Made Djelantik melanjutkan ke Fakultas Kedokteran Belanda pada tahun 1938.

Selain Taman Ujung, taman Tirta Gangga yang dibangun oleh raja Karangasem terakhir itu pada tahun 1946, juga dijadikan tempat shooting film tersebut. Pada mulanya taman ini disebut Embukan adalah tempat untuk memohon air suci bagi desa-desa disekitarnya untuk melaksanakan upacara Melasti dalam rangkaian Piodalan karena memiliki mata air yang dipandang keramat dan suci, terletak di bawah pohon beringin. Letak geografis taman ini tidak kalah menariknya dengan Taman Ujung, di kaki sebuah bukit yang dikitari sawah bertingkat dan berjarak enam kilometer ke arah Utara kota Amlapura. Udaranya sangat sejuk dan cocok untuk tempat beristirahat. Mata air yang bening mengalir sepanjang tahun, memberikan ide penciptanya untuk membangun sebuah taman, Tirta Gangga. Beberapa kolam besar, Bale Kambang dan menara air mancur (Jalatunda) menjadi ciri taman ini, dan tidak mengalami kerusakan yang berarti dari guncangan gempa Gunung Agung.

Berkat jasa-jasa beliau dalam bidang seni, maka Gubernur Kepala Daerah Tk.I Propinsi Bali tahun 1980, menganugerahkan penghargaan Seni “Dharma Kusuma”.

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, kiranya makna pepatah itu tepat untuk Anglurah Ketut Karangasem Walaupun sudah wafat pada tanggal 6 Nopember 1986 dan di Palebon dengan Naga Banda tanggal 1 Januari 1987, namun tetap dikenang sebagai seniman genius yang telah memadukan unsur-unsur seni Eropa dengan seni tradisional Bali pada taman air di ujung Timur pulau Bali.

Taman Ujung Yang Dibangun Oleh Seorang Seniman, selengkapnya

Comments are closed.