Tari Gembala: Tari Bali Kreasi Baru di Hari Natal

Tari Gembala: Tari Bali Kreasi Baru di Hari Natal

Kiriman: Ida Bagus Gede Surya Peradantha, S.Sn., MSn., Alumni ISI Denpasar.

Masyarakat Bali adalah masyarakat heterogen yang hidup penuh kedamaian dengan sesama manusia, harmonis dengan alam dan bakti kepada sang pencipta. Kesibukan masyarakat Bali yang sehari-hari dipenuhi dengan kegiatan keagamaan tidak sedikitpun mengurangi niat untuk berbaur dan hidup saling toleransi dengan umat lain.

         Hari Natal dan tahun baru merupakan dua event penting di penghujung tahun 2008 lalu, sekaligus juga momen-momen yang sangat sibuk bagi para pelaku seni khsususnya seni tari. Hal ini dibuktikan dengan maraknya pagelaran seni tari di berbagai tempat seperti hotel, gedung kesenian, rumah pribadi serta tempat-tempat tertentu uang dipilih oleh suatu komunitas untuk menggelar atraksi hiburan.

         Seperti yang terjadi di Balai Budaya Kota Gianyar pada tanggal 27 Desember 2008 yang lalu. Pementasan yang masih ada kaitannya dengan Hari Natal ini diselenggarakan oleh komunitas kristiani kab. Gianyar bekerja sama dengan Pemkab Gianyar. Komunitas kristiani tersebut menggelar berbagai acara dan salahsatunya adalah Tari Gembala yang dibawakan oleh para mahasiswa ISI Denpasar. Penabuhnya pun sebagian besar berasal dari ISI dan tergabung ke dalam grup Misi Internasional pimpinan Mr. Jonathan dari Amerika.

         Pementasan ini menurut penulis cukup menarik karena disamping merupakan event lintas agama, juga memiliki misi penting yaitu bagaimana hidup dengan damai melalui seni.

         Untuk memberi fokus yang jelas terhadap pembahasan yang akan dilakukan nanti, perlu kiranya sebuah rumusan permasalahan yang dituangkan sebagai berikut :

  • Bagaimana Jalannya Pertunjukan tari Gembala tersebut,
  • Apa yang ingin disampaikan oleh penata tari Gembala tersebut,

Tujuan yang ingin dicapai dalam tulisan ini adalah :

  • Menjawab segala permasalahan tersebut di atas,
  • Membuka wawasan tentang event lintas agama

Sebuah tulisan ilmiah haruslah mempunya manfaat agar berguna bagi mereka yang membacanya. Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam tulisan ini adalah sebagai referensi dan membuka wawasan tentang seni dalam keberagaman suku, agama, ras dan golongan.

         Sabtu, 27 Desember 2008 masih merupakan hari yang penting bagi umat Kristiani yang memperingati Hari Natal yaitu hari kelahiran Jesus Kristus ke dunia. Dalam Hari Natal, disematkan doa-doa perdamaian bagi seluruh umat manusia agar selalu hidup penuh cinta kasih dan toleransi antar umat beragama. Untuk itulah komunitas Kristiani di Gianyar tersebut melalui seorang perwakilannya meminta seorang dosen ISI Denpasar yang bernama I Gde Oka Surya Negara, SST., M.Sn., untuk menciptakan tarian berjudul Tari Gembala.

         Tarian ini menceritakan tentang para penggembala kambing yang hidup dengan penuh kegelisahan, kemalasan dan kebodohan. Keseharian mereka hanya diisi dengan duduk-duduk, menggembala dan termenung memikirkan nasib mereka. Mereka pun menantikan kedatangan sang penyelamat yang bisa menolong mereka dari nasib yang melarat. Begitu gembiranya mereka menyaksikan harapan baru ketika sang penyelamat datang memberi kasih bagi mereka.

         Opening tarian ini diawali oleh seorang penari yang tampil sendiri di atas panggung. Ia seolah-olah melihat-lihat dimana temannya. Kemudian ia pun menjemput teman-temannya dan memasuki panggung dengan cara berbaris dari pojok kiri belakang panggung. Di tengah-tengah pementasan tarian, ditampilkan juga ekspresi seorang gembala yang kecewa karena sang penyelamat yang ia harapkan hadir, justru tidak pernah muncul. Namun pada akhirnya dengan penantian yang panjang, akhirnya sang penyelamat pun muncul. Tarian berdurasi 7 menit ini menampilkan ending garapan on stage dengan pose tangan diluruskan ke depan dengan posisi tengadah seperti orang mengharap sesuatu. Secara lebih rinci, penulis akan mendeskripsikannya ke dalam sub pokok pembahasan antara lain :

  • Penari

   Tari Gembala ini ditarikan oleh 4 orang penari putra. Postur tubuh keempat penari secara umum memiliki kemiripan satu sama lain, sehingga kesannya sedikit monoton.

  • Musik

   Tari Gembala ini diiringi oleh seperangkat gamelan gong kebyar, namun instrumennya tidak lengkap. Menggunakan kempluk, ugal, reyong, dua buah gangsa, dua buah kantil, sepasang jegog, sepasang jublag, sepasang kendang gupekan, gong lanang dan wadon serta kempul dan kemong. Nuansa yang diimbulkan dari iringan ini adalah kerakyatan sehingga aksentuasi iringannya cukup tajam dan sedikit lucu.

  • Kostum & Tata Rias

   Kostum para penari menggunakan udeng kreasi yang ditata sedemikian rupa sehingga dapat memberi kesan rakyat jelata. Baju berwarna oranye, celana berwarna krem dan kain berwarna hijau gelap. Sementara itu, rias wajah yang digunakan adalah rias lucu dimana bagian yang paling banyak dieksploitasi adalah bagian bibir. Ada yang dibuat turun, dibuat tebal dan sebagainya.

  • Tempat pementasan

         Pementasan dilakukan di Gedung Balai Budaya Kota Gianyar. Bentuk panggung berupa panggung proscenium menghadap ke utara, dengan para penabuh berada di sisi barat panggung menghadap ke timur.

Tari Gembala : Tari Bali Kreasi Baru di Hari Natal, selengkapnya

Comments are closed.