Tari Legong Legod Bawa

Tari Legong Legod Bawa

Kiriman Ida Bagus Gede Surya Peradantha, SSn., Alumni ISI Denpasar

Tari Legong Legod Bawa adalah salah satu jenis tari klasik yang tetap berpijak pada pakem Palegongan. Tarian ini dibawakan oleh dua orang penari wanita, tanpa adanya penari Condong sebagaimana yang terdapat pada Legong Keraton Lasem. Sesuai dengan yang penulis sampaikan di atas, bahwa perkembangan suatu tarian di suatu tempat merupakan adaptasi yang sangat terkait dengan daerah tempat tarian itu berkembang. Hal ini pun berlaku pada tari-tari Palegongan di Desa Saba dimana tariannya tetap bersumber pada kaidah Palegongan dengan menambahkan beberapa gerakan-gerakan yang khas dan unsur cerita yang disesuaikan dengan keinginan penciptanya dahul. Dalam tarian ini akan dijumpai bebrapa gerakan khas yang dimiliki oleh style Saba, diantaranya Ngengsogang pinggul, Ngubit sebanyak dua kali dan Maserod.

Unsur cerita bukanlah hal yang paling penting dalam tari Legong, karena cara pendramaannya cukup sederhana dan abstrak. Untuk menyampaikan maksud atau inti cerita kepada para penoton, diperlukanlah adanya peran seorang juru tandak. Juru tandak inilah yang nantinya mentransfer cerita melalui nyanyian mengikuti irama musik pengiring tarian. Hal ini pun terjadi pada pementasan tari Legong Legod Bawa, dimana cerita yang diambil bersumber pada mitologi Hindu.

Dikisahkan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu sedang bercengkrama di Sorga. Mereka saling membanggakan kesaktian masing-masing yang tiada tandingannya. Percakapan mereka pun terdengar oleh Dewa Siwa. Oleh karena keduanya tidak ada yang mengalah dan mengaku lebih sakti, maka Dewa Siwa menjadi penengah bagi mereka berdua dengan cara berubah menjadi Lingga sembari mengajukan syarat barang siapa yang mampu menemukan ujung ataupun pangkal Lingga tersebut, maka dialah yang lebih sakti. Dewa Brahma dan Dewa Wisnu merasa tertantang untuk menunjukkan kesaktian masing-masing. Dewa Brahma memutuskan untuk berubah menjadi burung api yang akan mencari puncak Lingga tersebut. Dewa Wisnu pun tak mau kalah dengan mengubah wujud menjadi Warak (Babi hutan besar) yang akan mencari pangkaldari Lingga Dewa Siwa. Kedua Dewa tersebut terus berusaha sekuatnya mencari ujung maupun pangkal dari Lingga tersebut. Semakin tinggi Dewa Brahma terbang, semakin tinggi pula ujung Lingga. Demikian halnya Dewa Wisnu yang semakin ke bawah mencari pangkal Lingga, semakin jauh ke bawah pula pangkal Lingga tersebut. Akhirnya, Dewa Brahma dan Dewa Wisnu tak kuasa lagi berusaha menemukan ujung dan pangkal Lingga Dewa Siwa. Keduanya pun menyerah dan akhirnya sadar bahwa di atas kekuatan yang mereka miliki, masih ada kekuatan lain yang jauh melebihi dan tak terkira sampai mana batas kekuatannya yaitu Siwa sebagai Yang Maha Kuasa.

Agar pengetahuan kita semakin lengkap dalam memahami dan memudahkan untuk belajar tarian ini, maka dipandang perlu untuk mencatatkan ragam geraknya, berikut pola lantai yang terdapat dalam tarian ini. Adapun struktur dan ragam gerak yang dimiliki antara lain sebagai berikut : Pengawit, Pepeson, Pengawak, Pengrangrang I, Pesiat, Pengrangrang II, Pemurtian, Pesiat, Pekaad. Sebagai catatan, pada saat masuk bagian pemurtian, para penari menggunakan kostum dan properti masing-masing (sayap dan panah) sesuai karakternya.

Kostum tari Legong Legod Bawa tidak berbeda dengan tari Legong lainnya. Namun sebagai pembeda, tiap tari legong memiliki warna kostum masing-masing agar memudahkan dalam identifikasinya oleh para penonton. Misalnya Legong Goak Macok memakai warna dominan ungu,, berwarna merah untuk Legong Kuntir, untuk Legong Jobog menggunakan warna pink tua, sedangkan Legong Keraton Lasem dominan hijau. Untuk tari Condong Legong, menggunakan warna merah tua. Pada tari Legong Legod Bawa, kostumnya dominan warna hijau, dengan tambahan kostum berupa sayap garuda dan panah. Sayap garuda digunakan untuk karakter Dewa Brahma, sedangkan Panah untuk menandakan karakter Dewa Wisnu. Hal ini penting untuk diketahui oleh para seniman generasi muda khususnya, agar identitas tari Legong tetap terjaga dengan baik sesuai dengan pakem serta kaidah-kaidahnya.

Dengan menyimak pemaparan dari tari Legong Legod Bawa di atas, harus semakin disadari bahwa sesungguhnya Bali memiliki ragam kesenian yang sangat kaya. Khusus di bidang seni tari, jenis kesenian yang dimiliki sangat banyak. Sebagai contoh, dari tari Palegongan saja sudah memiliki belasan ragam tari seperti Lasem, Legod Bawa, Kuntir, Jobog, Semarandana dan lainnya. Daerah persebarannya pun yang bermula dari lingkungan istana tersebar ke beberapa desa seperti Saba, Peliatan, Binoh, Kelandis, Bedulu dan lainnya lagi. Dari beberapa daerah tersebut, tidak banyak yang dapt mempertahankan ciri khasnya lagi.

Dalam perjalanannya, perkembangan tari Palegongan di Desa Saba telah mengalami peningkatan yang baik. Hal ini dapat kita lihat dari lahirnya beberapa jenis tarian yang asli berasal dari sana seperti Bapang Saba yang cukup dikenal luas. Ragam gerakannya pun sangat khas mencirikan style Saba dan mampu memberikan pengayaan dalam perbendaharaan gerak-gerak tari Bali.

Tari Legod Bawa merupakan salah satu jenis tari klasik yang tetap bersumber pada pakem-pakem Palegongan yang telah lama tercipta di Bali yang berkembang di Desa Saba, Kec. Blahbatuh, Gianyar. Sumber ceritanya berasal dari mitologi Hindu yang mengisahkan Dewa Brahma dan Dewa Wisnu yang bersaing mencari ujung dan pangkal Linga Dewa Siwa. Tarian ini dibawakan oleh dua orang penari wanita tanpa adanya peran Condong seperti yang biasa kita jumpai dalam pementasan tari Legong Keraton Lasem.

Tari Legong Legod Bawa, selengkapnya

Comments are closed.