Televisi sebagai Konstruksi Realitas, Bagian II

Televisi sebagai Konstruksi Realitas, Bagian II

Kiriman Arya Pageh Wibawa, Dosen PS Desain Komunikasi Visual

Analisis

1. Iklan

Menurut Jeffkins (1997), iklan adalah cara menjual melalui penyebaran informasi, dimana merupakan suatu proses komunikasi lanjutan yang membawa para khalayak ke informasi terpenting yang memang perlu mereka ketahui. Dengan kata lain, iklan adalah suatu cara membicarakan hal-hal tertentu kepada khalayak ramai, sebagai calon konsumen, mengenai suatu produk, baik barang maupun jasa, melalui berbagai media komunikasi massa, baik cetak maupun elektronik, dengan bermacam metode untuk mempengaruhi atau mendorong masyarakat, sebagai calon konsumen, agar tertarik untuk membeli barang atau jasa tersebut. Sebagai contoh adalah iklan pemutih kulit Pond’s Flawless White. Secara tekstual, pencitraan yang diberikan adalah penyamarataan antara kulit yang putih dengan kecantikan. Hal ini dapat dilihat dari narasi yang dibangun berupa adanya ketertarikan pria hanya kepada wanita yang memiliki kulit yang putih. Secara wacana, iklan pemutih kulit pada wanita ini menunjukkan ketundukan seorang wanita terhadap kekuasaan pria, dimana dapat dilihat dari cara wanita yang harus mengubah warna kulitnya yang berwarna menjadi putih. Khalayak pemirsa diajak untuk beropini bahwa kulit yang putih adalah superior dan wanita diajak untuk mengganti warna kulitnya dengan warna putih. Ini adalah bentuk konstruksi realitas yang ada dimana menurut Wolf (2004), model pencitraan yang mensyaratkan perempuan bisa dikatakan cantik dengan harus putih dan langsing adalah merupakan mitos yang menghanyutkan. Dia menjelaskan bahwa mitos tersebut telah merusak perempuan dan membuat mereka terobsesi meraih citra ideal tentang kesempurnaan fisik. Bahkan tidak sedikit perempuan tega merusak diri sendiri karena terpenjara oleh mitos kecantikan tersebut. Mitos kecantikan perempuan adalah suatu bentuk destruktif dari kontrol sosial dan juga merupakan reaksi terhadap meningkatnya status perempuan, ketika perempuan kini lebih dihargai dan diperhitungkan secara profesional baik dalam dunia bisnis maupun politik.

2. Berita (News)

Klaus Jensen (1995) mengambil pendekatan kepuasan dalam menyimpulkan empat kegunaan berita bagi khalayak :

1.      Kegunaan dalam konteks, misalnya menonton televisi berita menjadi bagian dari ritual domestik, terutama laki-laki

2.      Kegunaan informasional, televisi berita mengikuti perkembangan yang terjadi di dunia

3.      Kegunaan legitimasi, memirsa televisi berita memberikan khalayak pemahaman terhadap kontrol atas pelbagai peristiwa dan pengertian berbagi makna perihal dunia bersama orang lain

4.      Kegunaan diversional, televisi berita seperti hiburan, ketika misalnya pemirsa menikmati mengikuti beberapa kisah yang tengah berkembang

Burton (2000) mendefinisikan berita menjadi :

1.      Berita sebagai genre, formula elemen kuncinya dibatasi oleh konvensi yaitu materi presentasi berita, nilai berita, dan kelayakan berita. Contoh sederhana adalah seperti liputan6 (SCTV), materi presentasinya adalah seputar kejadian yang sedang bahkan baru berkembang dengan penyajian gambar dan efek suara yang lebih bersifat formal, sorotan kamera serta narasi yang ditunjukkan adalah bersifat formal. SERGAP (RCTI), materi representasi yang dihadirkan adalah tentang seputar kejahatan yang meresahkan masyarakat dan lain sebagainya. Penyajian acara berita ini, agak sedikit mengarah ke informal dan bahkan menampilkan sosok selain pembaca berita yang dominan.

2.       Berita sebagai drama, berita bersifat dramatis dikarenakan watak sebuah cerita, seperti penceritaan tentang seorang satgas bencana yang sedang menolong korban bencana di suatu lokasi.

3.      Berita sebagai praktik profesional, ketika seorang wartawan mengklaim sebagai profesional seperti yang mereka lakukan

4.      Berita sebagai komoditas

Bertolak dari pemikiran marxis tentang produksi massal, tentang cara-cara di mana relasi sosial kekuasaan dikendalikan oleh kepentingan komersial atau determinisme ekonomi.

5.      Berita sebagai Wacana

Berita mengandung wacananya sendiri, didalamnya terdapat makna tentang apa berita itu, makna yang dihasilkan lewat cara penggunaan kode-kode didalamnya.

Televisi sebagai Konstruksi Realitas, Bagian II, selengkapnya

Comments are closed.