Tinjauan Sejarah Seni Lukis Gaya Pita Maha

Tinjauan Sejarah Seni Lukis Gaya Pita Maha

Oleh: Drs. I Dewa Made Pastika

Seni lukis di Bali telah mulai tumbuh dan berkembang sejak jaman prasejarah. Hasil-hasil kebudayaan dan kesenian pada jaman itu seperti penemuan-penemuan sarkopagus, nekara-nekara dan benda-benda peninggalan dari batu lainnya. Peninggalan tersebut berisi hiasan-hiasan yang menunjukkan keahlian nenek moyang dalam membuat goresan-goresan dalam bentuk topeng dan hiasan lainnya (Goris, Dr, R, 13)

Peninggalan lain hasil kebudayaan  berupa pahatan-pahatan, berbentuk relief yang terdapat di obyek wisata Yeh Pulu di Desa Bedulu, Kabupatan Gianyar. Nama  Yeh Pulu berasal dari kata ” Yeh” dan ” Pulu”. Yeh berarti air dan  Pulu berarti gentong tempat penyimpanan beras, yang berada ditengah sebuah kolam, sebagai sumber air suci untuk keperluan upacara keagamaan. Relief ditatahkan di atas sebuah tebing menggambarkan realita kehidupan  di masyarakat

Beberapa prasasti  yang dikeluarkan oleh Raja Anak Wungsu pada abad ke 11, dikenal adanya kelompok yang mempunyai keahlian melukis, yaitu salah satu prasasti terdapat goresan motif wayang yang menggambarkan Dewa Siwa. Di dalam naskah naskah kuno berupa lontar-lontar yang biasa berisikan ceritera-ceritera legenda atau ceritera wayang banyak menggunakan illustrasi gambar yang indah dalam ukuran kecil atau miniatur. Illustrasi atau gambar tersebut merupakan cikal bakal seni lukis klasik Bali yang tumbuh dan berkembang hampir di seluruh Bali. (Suteja Neka, 1992, 11-12).

Seni Lukis wayang yang berkembang di Desa Kamasan Klungkung dimulai sekitar abad ke 15 dan mencapai puncak kemajuannya pada waktu pemerintahan Dalem Watu Renggong. Seni lukis umumnya yang mengambil tema-tema pewayangan, ceritera legenda, Ramayana dan Mahabrata disebut seni lukis gaya Kamasan. Di Desa Julah yaitu salah satu desa Bali Aga Karangasem berkembang seni lukis wayang berbentuk lebih sederhana dibandingkan dengan seni lukis gaya Kamasan. Sedangkan di Ubud tumbuh dan berkembang seni lukis wayang yang  bentuknya hampir menyerupai bentuk wayang  Kamasan

Disekitar  pertengahan abad ke 19 di Desa Kerambitan berkembang seni lukis wayang. Penampilan bentuk dan ekspresi wajah yang kuat, proporsi dan anatomi distilisasi atau diperpanjang. Penggambaran bentuk ornamen pada pakaian wayang menunjukkan kemegahan dengan beberapa ornamen yang tidak terdapat pada seni lukis gaya Kamasan. Seni lukis wayang yang berkembang di Desa Naga Sepaha Singaraja, Buleleng, bentuk wayang berasal dari wayang kulit. Pelukis Dalang Diah di Desa Naga Sepaha menggambar wayang di atas bidang kaca, yang menjadi lukisan wayang khas Buleleng. Bentuk wayang sangat berbeda dengan gambar wayang di Bali Selatan. Tokoh-tokoh raksasa di gambar lebih besar, sedangkan tokoh dewa-dewa lebih kecil. Teknik melukis mulai dari sketsa, kontour dan pewarnaan terbalik, mulai dari balik kaca.

Tinjauan Sejarah Seni Lukis Gaya Pita Maha, selengkapnya

Comments are closed.