Topeng Modern Karya I Wayan Sukarya

Topeng Modern Karya I Wayan Sukarya

Oleh : (Drs. I Ketut Muka P., M.Si., Jurusan Kriya, FSRD, DIPA 2006)

Abstrak penelitian

Penelian ini dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran tentang topeng modern yang ada di Bali, khususnya di Kabupaten Gianyar, karena tidak banyak seniman, perajin, kriyawan di Bali berkarya dujalur topeng modern. Hal ini penting karena karya-karya modern selama ini lebih akrab terkait dengan karya-karya seni lukis. Namun faktanya hal ini dapat juga terjadi pada karya topeng. Maka dari itu kami menetapkan karya Bapak I Wayan Sukarya sebagai sumber kajian dalam penelitian ini. Alasan penetapan ini adalah karya-karya I Wayan Sukarya adalah karya-karya topeng modern dengan kualitas baik karena proses pengerjaannya sama dengan proses pembuatan topeng tradisional Bali mulai dari proses pembentukan sampai pada pewarnaan / pengecatan. Alasan lain adalah ingin mendokomentasikan karya-karya I Wayan Sukarya, karena selama ini karya-karyanya banyak yang tidak terdokumentasikan dengan baik, sehingga sulit melacak karya-karya sebelumnya walaupun hanya dalam bentuk foto.

Penelitian ini dilakukan dengan model diskriptif, mencoba menjelaskan tentang bentuk, ide penciptaan, proses perwujudan, pewarnaan, penjualan serta makna yang terkandung dalam masing-masing karya topeng modern karya I Wayan Sukarya. Sumber data diambil semua karena jumlahnya terhitung sekitar 25 sumber data karya-karya 2006 ditambah sebagaian kecil karya-karya 2005.

I Wayan Sukarya, lahir di Banjar Mukti Desa Singapadu Gianyar, seorang pembuat topeng dan juga melukis, sebagai Dosen Jurusan Seni,Program Studi Seni Patung di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Beliau menamatkan pendidikan seni di Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Denpasar dan ISI Jogyakarta. Keahlian membuat topeng didapat dari orang tuanya yaitu Bapak I Wayan Tangguh, tahun 2006 ini berusia sekitar delapanpuluhan, salah satu pembuat topeng tradisi berkualitas tinggi yang masih aktif sampai saat ini. Topeng-topeng yang dibuat lebih banyak untuk keperluan pementasan budaya dan seni terkait dengan Hindu di Bali.

Latar belakang pendidikan diakuinya sebagai dasar pemikiran I Wayan Sukarya berkarya pada jalur topeng-topeng modern. Dalam berkarya ia mengolah gambar/ desain pemesan dipadukan dengan idenya sendiri. Gambar-gambar topeng kemudian dikaji dan dipikirkan bagaimana bentuk tiga dimensinya, bahannya, proses perwujudannyapemesan tidak tahu wujud akhirnya, karena desain yang diberikan kepada pembuatanya ini kurang sempurna, tidak sesuai dengan bahan dan teknik pembentukan topeng. Pemesan biasanya lebih memfokuskan pada makna yang harus disampaiakan pada karya tersebut. Pesanan yang diterima sering hanya berupa pernyataan makna namun tidak ada desainnya. Disinilah diperlukan kepintaran seorang seniman dalam menterjemahkan makna tersebut. Dapat dikatakan 50 % lebih proses perwujudan karya tersebut merupakan hasil ide kreatifnya sendiri. Jadi bukan total merupakan ide pemesan.

Secara umum karya-karya I Wayan Sukarya, menggambarkan prilaku manusia di masyarakat. Sifat dasar manusia yang sering muncul dalam karya-karyanya adalah sifat baik dan buruk, perwujudannya tercermin dalam berbagai tindakan manusia. Makna-makna yang mncul dalam karya topeng tersebut banyak yang sulit untuk diresapi, maka dari itu perlu penjelasan dari pembuat makna topeng tersebut. Ada beberapa unsur-unsur rupa dalam topeng mudah dibaca namun sulit diresapi maknanya secara utuh.

I Wayan Sukarya telah menyelesaikan banyak karya topeng, namun jumlahnya tidak tercatat. Permintaan datang tiap tahun dengan jumlah sekitar 10-15 biji dengan ukuran bervariasi, tinggi 50-70cm dan lebar 40-60cm. Harga yang dipasang juga bervariasi mulai dari Rp. 3.000.000. sampai Rp. 6.000.000. Pemesan topengnya lebih banyakdatang dari luar negeri terutama dari Itali.

Comments are closed.