Upaya Kemdiknas di Pembiayaan Pendidikan Tinggi

Upaya Kemdiknas di Pembiayaan Pendidikan Tinggi

Dalam rangka Hari Bakti Dokter Indonesia tahun 2010, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyelenggarakan beberapa rangkaian acara, salah satu dari rangkaian acara tersebut adalah seminar yang bertajuk “Upaya Kementerian Pendidikan Nasional dalam Pengendalian Biaya Pendidikan Dokter dan Pendidikan Dokter Spesialis Termasuk Didalamnya Pungutan Tidak Resmi” (28/05). Seminar ini dipandu oleh Dr. Zainal Abidin,M.H.Kes, dengan Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Prof, dr, Fasli Jalal.Ph.D. sebagai pembicara utamanya.

Seminar yang digelar di gedung Jakarta Convention Center ini, dilatarbelakangi dengan mahalnya pendidikan dokter baik umum maupun spesialis, dan selain itu tingginya biaya pengajaran kedokteran yang menjadikan banyaknya pungutan-pungutan liar atau tidak resmi di Perguruan Tinggi penyelenggara pendidikan kedokteran tersebut menjadi isu penting yang juga dibahas.

Wamendikanas yang juga masih merangkap Ditjen Dikti ini, mengatakan bahwa biaya pendidikan di Perguruan Tinggi Indonesia, masih terhitung sangat murah di bandingkan negara-negara lainnya, walaupun begitu beliau pun mengatakan pada sisi lain, keterlibatan orang tua dalam pembiayaan pembelajaran masih besar. Hal ini beliau tunjukan melalui data yang menaruh Indonesia pada urutan 6 besar negara yang keterlibatan orang tua dalam pembiayaan pendidikan sangat besar.

Selebihnya memandang mahalnya pendidikan kedokteran di Indonesia, Wamendiknas berpendapat bahwa pemerintah tidak mungkin merealisasikan seluruh pembiayaannya, tetapi untuk proses pembelajaran dan biaya ketenagaannya pemerintah masih mampu untuk mensubsidi hal tersebut. Selanjutnya untuk biaya diluar hal tersebut, keterlibatan orang tua masih sangat diperlukan, walaupun begitu pemerintah pun masih menyiapkan banyak beasiswa apabila orang tua tersebut tergolong tidak mampu.

Beasiswa yang paling dekat sekarang ini adalah beasiswa Bidik Misi. Beasiswa ini berkuota 20.000 beasiswa yang di sebarkan kemasing-masing perguruan tinggi yang ditunjuk untuk kemudia didistribusikan pada siswa-siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Bidik Misi ini juga menyediakan dana 10 juta rupiah pertahun guna menunjang keberhasilan proses akademik siswa yang memperoleh beasiswa tersebut.

Selain itu pemerintah pun berharap agar Bidik Misi ini nantinya dapat meningkatkan Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi kita dari 18% pada tahun lalu, menjadi 25 persen pada tahun 2014 nanti.

Pada bidang lain Wamendiknas, menjelaskan bahwa Kemdiknas pun tidak lepas perhatiannya pada proses pembiayaan pendidikan, sebagai contoh pemerintah pun menyiapkan anggara sebesar 50% untuk kebutuhan individu personal di perguruan tinggi, 12% pendanaan untuk kebutuhan sarana prasarana, 10% untuk perawatan dan 25% untuk utilitas diperguruan tinggi. Persentase ini diperoleh melalui anggrana yang disediakan oleh pemerintah.

Mengenai biaya pendidikannya sendiri, menurut Wamendiknas, nilai tersebut didapatkan dari upah minimum daerah terkait yang kemudian ditentukan melalui kesepakatan dari pemrintah daerah.

Prihal pungutan liar, Wamendiknas mengatakan walaupun pendidikan kedokteran sangat mahal, beliau berharap segala pungutan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan harus dihilangkan, dan dicarikan formula lain yang akutabilitasnya legal.

Written by Yoggi Herdani

Comments are closed.