Implementasi Tri Hita Karana Di Desa Tenganan Pegringsingan Sebagai Sumber Penciptaan Karya Fotografi Seni

Implementasi Tri Hita Karana Di Desa Tenganan Pegringsingan Sebagai Sumber Penciptaan Karya Fotografi Seni

Oleh: I Komang Arba Wirawan

Tenganan

Tenganan

Kebudayaan Bali terkenal karena keunikan dan kekhasan yang dijiwai oleh agama Hindu dan tidak bisa dilepaskan dari kesenian, adat dan budayanya yang menyatu dengan kegiatan keseharian orang Bali. Desa Tenganan Pegringsingan desa dengan adat istiadat yang khas memegang teguh nilai-nilai tradisi dan merupakan warisan budaya asli Bali yang disebut Bali Age yang menyatu dengan kepercayaan nenek-moyang serta agama Hindu yang mereka anut. Sebagai desa yang memiliki ciri kebudayaan yang khas, Tenganan Pegringsingan dikenal pula secara geografis diantara dua pegunungan dengan system pola menetap yang berbeda dengan desa-desa di Bali pada umumnya.

Wilayah desa Tenganan Pegringsingan merupakan tempat yang strategis, memiliki pemandangan alam yang indah, terletak di antara perbukitan, yaitu Bukit Kangin di sebelah timur dan Bukit Kauh di sebelah Barat. Desa Tenganan Pegringsingan keseluruhan penduduknya memeluk agama hindu

Masyarakat Tenganan Pegringsingan mengajarkan masyarakatnya dan memegang teguh konsep Tri Hita Karana (konsep ajaran dalam agama hindu), dan mengimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tri berarti tiga dan hita karana berarti penyebab kebahagiaan untuk mencapai keseimbangan dan keharmonisan. Tri  hita karana terdiri dari: Perahyangan yaitu hubungan yang seimbang antara manusia dengan Tuhan yang Maha Esa, Pawongan artinya hubungan yang harmonis antara manusia dengan manusia lainnya, dan Palemahan artinya hubungan yang harmonis antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya sebagai bahan eksplorasi berkarya fotografi seni.

Fotografi seni telah menjadi wahana untuk berolah kreatif bagi para fotografer yang ingin menorehkan gaya jati-diri yang menjadi diri pribadinya ingin menampilkan  ‘gading’- nya dalam dunia fotografi. Ekspresi diri yang menciri dalam sebuah foto menjadi tujuan pencarian identitas pribadi seseorang fotografer masa kini. Hal ini nampaknya sudah merupakan tutunan Zamannya (zeitgeist) yang menafikan keseragaman bagi pencapai keunikan estetis yang mandiri. Di samping itu pula penciptaan karya fotografi seni yang memiliki ‘subject matter’ dengan nilai ontentitas tinggi disamping keindahan  yang dikandung merupakan dambaan bagi setiap seniman fotografi. Ekspresi diri melalui medium fotografi seni juga bisa dicapai dengan berbagai cara, diantaranya dengan memilih objek-objek foto alam, kehidupan sosial dan upacara-upacara di desa Tenganan Pegringsingan untuk di tampilkan menjadi karya fotografi seni; pengunaan golden komposisi  baik dengan dalam pemotretan maupun dengan teknik kamar terang (komputer) merupakan satu cara; dan bisa juga dengan cara tertentu dalam upaya menampilkan karya atau ‘way of representation’.

Tri hita karana secara visual merupakan sebuah konsep yang sangat menumental dan bersifat adiluhung. Pancaran nilai estetik yang sangat tinggi memberikan daya tarik yang sangat kuat bagi para seniman Bali untuk mengangkatnya sebagai sumber inspirasi dalam proses penciptaannya. Pencipta sangat tertarik mengangkat tri hita karana di desa Tenganan Pegringsingan sebagai sumber ide penciptaan karya seni karena upacara-upacaranya sangat unik dan ertistik dengan penuh variasi tenun pegringsingan yang ditemukan dalam upacara-upacara tersebut.

Originalitas dalam penciptaan karya  ini adalah tidak meniru sebuah karya yang telah ada, tetapi menciptakan sebuah karya fotografi seni dengan sumber ide dari aktifitas upacara masyarakat desa Tenganan Pegringsingan yang berlandaskan tri hita karana.

Eksplorasi yang intens dan proses kamar terang fotografer dapat menghasilkan karya fotografi seni dengan judul: trance, waiting, perbaiki kamenku, fight, gadis ayu, 3 cild, Ibu dan Anak, Ugly, Go to Ceremony dan sleepy yang mendapat apresiasi yang menarik dari pengamat seni, setelah melakukan pameran di gedung pameran FSRD ISI Denpasar dan Musium Neka Ubud Bali.

Comments are closed.