Pembinaan Seni Karawitan Klasik Pegongan Pada Sekaa Sekaa Gong Kerthi Budaya Banjar Pengabetan Kuta, Kabupaten Badung

Pembinaan Seni Karawitan Klasik Pegongan Pada Sekaa Sekaa Gong Kerthi Budaya Banjar Pengabetan Kuta, Kabupaten Badung

    Kiriman I Gede Yudartha, SS.Kar., M.Si

I Gede Yudartha

I Gede Yudartha

Seni Sekaa Gong Kerthi Budaya adalah salah satu unit organisasi sosial kemasyarakatan yang terdapat pada lingkungan Banjar Pengabetan Kuta, Kabupaten Badung. Sebagai salah satu organisasi sosial kemasyarakatan, sekaa gong ini memiliki tugas dan tanggung jawab di bidang seni karawitan yaitu melaksanakan fungsi dan kewajiban untuk mengiringi aktivitas ritual keagamaan serta aktivitas sosial lainnya yang terjadi di lingkungan banjar Pengabetan dan di Desa Adat Kuta.

Sekaa gong ini didirikan pada tahun 1978 dan keberadaannya sangat eksis di masyarakat dimana dalam jangka waktu 30 tahun usianya serta dengan dukungan 50 orang anggota, sekaa gong ini telah menunjukkan peran yang sangat penting dan menjadi salah satu sekaa gong yang terkemuka di lingku-ngan Desa Adat Kuta. Salah satu prestasi yang sangat penting dicapai adalah keberhasilan memenangkan seleksi gong kebyar se Kabupaten Badung dan selanjutnya ditunjuk sebagai Duta Kabupaten Badung pada Festival Gong Kebyar tahun 1993. Keberhasilan sekaa gong ini mencapai prestasi tersebut tidak terlepas dari adanya suatu sistem pembinaan yang berkelanjutan dari gene-rasi ke generasi, dan dibina oleh seniman-seniman yang profesional di bidang seni karawitan. Pada awal berdirinya hingga tahun 1980-an sekaa gong ini mendapatkan pembinaan dari Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI) Denpasar dengan materi fragmentari Ramayana yang mana dari pembinaan tersebut selanjutnya dipertunjukan kepada para wisatawan. Dari penyelengga-raan aktivitas tersebut, sekaa gong ini mampu meningkatkan perekonomian, yang mana hasil dari pagelaran tersebut dipergunakan untuk mensejahterakan anggota serta membangun Balai Banjar Pengabetan.

Sebagaimana umumnya kehidupan sosial masyarakat Bali, di lingkungan Desa Adat Kuta khususnya di Banjar Pengabetan, religiusitas masyarakatnya sangat tinggi dimana pelaksanaan upacara serta berbagai aktivitas keagamaan dapat di langsungkan dengan baik. Walaupun sebagaian besar masyarakatnya beraktivitas di sektor kepariwisataan dan hidup dari pelayanan jasa, perdagangan, dan perhotelan, kehidupan dan aktivitas di bidang sosial keagamaan masih berlanjut sebagaimana telah diwariskan oleh para leluhur mereka.

Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut salah satu sarana dan media yang sangat penting adalah gamelan serta repertoar tabuh-tabuh klasik pengiring pelaksanaan upacara khususnya tabuh-tabuh lelambatan klasik pegongan. Sebagaimana telah diuraikan di atas, keberadaan sekaa Gong Kerthi Budaya memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan keagamaan baik di lingkungan banjar maupun di desa adat Kuta. Untuk keperluan tersebut, saat ini banyak repertoar komposisi lelambatan klasik yang telah dikuasai diantaranya: tabuh pisan, tabuh dua, tabuh telu, dan tabuh nem. Walaupun demikian, sebagai salah satu sekaa gong terkemuka di kawasan Kuta, sekaa gong ini memiliki motivasi dan keinginan yang tinggi untuk menambah perbendaharaan repertoar tabuh untuk dapat menampilkan tabuh-tabuh lelambatan klasik yang berbeda dengan repertoar yang telah dimiliki sebelumnya.

Untuk itu kami dihubungi dan diminta secara pribadi untuk memberikan pembinaan dan menuangkan materi tabuh lelambatan. Adanya permintaan tersebut tentunya merupakan suatu tantangan dan untuk dapat memenuhi apa yang diinginkan kami mencoba memberikan materi yang berbeda dengan apa yang telah dimiliki sebelumnya. Adapun materi yang kami pilihkan adalah dua buah tabuh dua lelambatan pegongan, serta salah satu komposisi tabuh pat lelambatan.

Komposisi tabuh pat Lokaria ini pada mulanya berbentuk tabuh lelambatan pegongan kreasi yang diciptakan oleh I Wayan Sinti. Dipilihnya tabuh lelambatan ini di samping untuk dapat dipergunakan sebagai tabuh ingingan upacara, juga sebagai salah satu upaya revitalisasi dan merekon-struksi keberadaan komposisi tersebut, mengingat keberadaannya semenjak usai ditampilkan dalam festival tidak pernah dimainkan dan sudah mulai dilupakan oleh sekaa gong tersebut. Untuk dapat ditampilkan sebagai pengiring upacara keagamaan tentunya harus diadakan penyesuaian dengan mengadakan beberapa perubahan terutama aspek musikalitas serta penye-derhanaan teknik permainan instrumen sehingga nantinya mengarah kepada bentuk tabuh lelambatan pegongan klasik.

Dalam upaya merubah bentuk komposisi ini menjadi sebuah komposisi lelambatan klasik, di samping mengadakan penyederhanaan, di sisi yang lain juga dilakukan dengan memberikan ornamentasi pada beberapa bagiannya sehingga penampilannya tidak saja terkesan klasik namun mampu memberi-kan nuansa baru sebagai salah satu bentuk tabuh lelambatan klasik. Salah satu bentuk perubahan yang dilakukan adalah dengan mempergunakan 2 (dua) periring yang ditempatkan pada bagian awal gending pengawak dan bagian akhir gending pengisep, dengan tujuan untuk memberikan keragaman dinamika sehingga tidak tampil monoton.

Penyajian model 2 (dua) periring umumnya dilakukan pada komposisi tabuh lelambatan kreasi, dimana bentuk periring tersebut ditempatkan pada bagian depan sebelum menginjak bagian pengawak dan pada bagian akhir pengisep yang menghantarkan ke bagian berikutnya, yaitu bebaturan (pengecet). Komposisi dengan model dua periring ini belum pernah dilakukan dalam penyajian tabuh lelambatan klasik gaya Badung, dimana pada umumnya hanya mempergunakan satu periring yang ditempatkan pada bagian awal dari pengawak. Sebagai salah satu karya komposisi yang lahir dari seniman Badung, walaupun terjadi perubahan serta diberikan ornamentasi pada beberapa bagiannya, penampilannya sebagai salah satu bentuk tabuh lelambatan gaya Badung masih tetap dipertahankan sebagaimana bentuk-bentuk tabuh lelambatan yang lainnya sehingga tidak tercabut dari akar tradisi yang melahirkannya.

Tujuan dari kegiatan ini di samping untuk menjawab rumusan masalah di atas, juga sebagai salah satu upaya untuk merevitalisasi dan merekonstruksi salah satu bentuk karya seni yang pernah ada dan dimiliki oleh sekaa gong Kerthi Budaya sehingga memiliki suatu bentuk komposisi tabuh lelambatan klasik dengan nuansa baru serta tetap berpijak pada akar tradisi gaya bebadungan yang nantinya dapat disajikan sebagai tabuh instrumental dalam mengiringi rangkaian upacara keagamaan dan aktivitas sosial lainnya.

Dilaksanakannya kegiatan ini secara umum diharapkan dapat memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat Banjar Pengabetan serta sekaa Gong Kerthi Budaya sehingga keberadaannya sebagai salah satu sekaa gong terkemuka di desa Adat Kuta masih dapat dipertahankan.

Sedangkan di pihak lain, keterlibatan kami selaku pembina dan bagian dari civitas akademika ISI Denpasar dapat mempererat hubungan secara pribadi serta antara Lembaga ISI Denpasar dengan masyarakat khususnya sekaa gong Kerthi Budaya, Banjar Pengabetan Kuta sebagaimana yang telah terjalin dari tahun 1980-an.

Sebagai salah satu pembinaan yang bersifat kolektif, kegiatan ini tentunya melibatan banyak orang terutama anggota sekaa gong serta berbagai pihak terkait seperti prejuru banjar (Kelian Adat) beserta jajarannya. Namun demikian untuk memperlancar dan mempercepat proses pembinaan, secara khusus ada beberapa orang anggota sekaa yang dianggap mampu, diberikan materi secara intensif sehingga nantinya dapat ditularkan kepada anggota sekaa yang lainnya.

Metode yang diterapkan dengan cara meguru kuping dan meguru panggul. Walaupun terkesan tradisional, metode ini memiliki keunggulan, efektif dan efisien serta secara turun menurun di terapkan oleh para seniman-seniman karawitan Bali dalam aktivitas pembinaan yang dilakukannya. Meguru kuping dan meguru panggul adalah metode tradisional yang biasanya diterapkan secara bersamaan pada saat dilaksanakan pelatihan. Metode ini sangat berbeda dengan sistem pembelajaran musik sebagaimana umumnya yang sangat tergantung pada partitur. Suatu kebiasaan dalam memainkan komposisi karawitan Bali adalah dengan menghandalkan hapalan tanpa pernah dibantu dengan partitur. Sebagaimapun tingkat kesulitan, kerumitan dan panjang pendeknya sebuah komposisi adalah merupakan hal yang sangat biasa dilakukan oleh para seniman-seniman karawitan Bali. Dengan kemampuannya tersebut para seniman penyaji di Bali dikenal memiliki tingkat hafalan yang sangat baik.

Meguru kuping adalah metode yang dilakukan memberikan contoh-contoh melodi yang diperdengarkan secara langsung dihadapan orang-orang yang diberikan pelatihan. Sedangkan meguru panggul adalah dengan memberikan contoh-contoh teknik permainan instrumen secara langsung yang nantinya diikuti oleh para peserta pelatihan. Penerapan metode ini biasanya berulang-ulang hingga para peserta pelatihan dapat memahami dan mengikuti apa yang telah dicontohkan.

DAFTAR PUSTAKA

Astita, I Komang.1993. Gamelan Gong Gede: Sebuah Analisis Bentuk. Mudra, Jurnal Seni Budaya, Edisi Khusus Februari 1993. Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar: STSI Press.

Rembang, I Nyoman.1984/1985. Hasil Pendokumentasian Notasi Gending-Gending Lelambatan Klasik Pagongan Daerah Bali. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Kebudayaan Proyek Pengembangan Kesenian Bali.

Sukerta, Pande Made.1998. Ensiklopedi Mini Karawitan Bali. Sastrataya-Masyarakat Seni Pertunjukan Indonesia (MSPI) Bandung-Indonesia.

Yudarta, I Gede. 2007. “Tabuh Lelambatan Pegongan Gaya Badung: Kontinuitas dan Perubahannya”. Laporan Penelitian Due-Like Batch IV Sekolah Tinggi Seni Indonesia/ ISI Denpasar.

Discografi Rekaman Audio.

  1. Festival Gong Kebyar se Bali 1993, Kabupaten Badung. Bali Stereo No. B 585

  2. Festival Gong Kebyar se Bali 1994. Kabupaten Badung. Bali Stereo No. B 895

  3. Festival Gong Kebyar se Bali 2006. Kota Denpasar. Bali Stereo No. B 1185

Comments are closed.