Pergelaran Karya TA Seni Karawitan 2009 Hari Ke Tiga

Pergelaran Karya TA Seni Karawitan 2009 Hari Ke Tiga

Ujian Tugas Akhir Program Studi Seni Karawitan merupakan salah satu tugas pada mata kuliah Tugas Akhir (TA) dengan beban SKS sebanyak 6 SKS. Ujian Tugas Akhir diselenggarakan dalam dua rangkaian yaitu Ujian Karya Seni dan Ujian Karya Tulis yang berupa Skrip Karya seni.  Pada hari ketiga Rabu, 20 Mei 2009 akan diikuti oleh lima karya seni baik bercorak tradisi inovatif, maupun kontemporer, yang telah melalui bimbingan dari dosen-dosen pembimbing yang mumpuni di bidangnya. Adapun judul dan penatanya adalah sebagai berikut.

1. SURAPANA

Surapana, Foto by GC

Karya: I Kadek Suparman

Sinopsis :

Masalah, memang dapat terjadi dan dialami oleh siapa saja. Masalah yang membuat pikiran menjadi kalut, tidak tahu harus berbuat apa. Maka tidak jarang, minuman keraslah yang menjadi jalan keluarnya. Fenomena ini kerap kali dialami oleh generasi muda. Dengan minum-minuman keras secara berlebihan, belum tentu dapat menyelesaikan masalah yang dihadapinya. Tetapi dibalik itu semua minuman  keras juga dapat memberikan manfaat bagi tubuh apabila kita mampu mengkonsumsinya dengan baik. Oleh sebab itu, kita harus mampu mengendalikan apa yang kita nikmati termasuk minuman keras. Semua itu penata mencoba menterjemahkan kedalam bahasa musik melalui media alat musik bamboo. Dengan judul Surapana yang berarti minuman keras.

Pendukung: Sanggar Seni Lingga Jati, Jalan Kebo Iwa Denpasar.

2. JANTRA

Jantra, Foto by GC

Karya: I Kadek Mahendra Putra

Sinopsis :

Jantra adalah suatu kata yang artinya baling-baling atau istilah Balinya  sering disebut pindekan. Baling-baling merupakan suatu benda yang bisa berputar dengan bantuan tenaga angin. Jika angin berhembus sangat kencang, maka baling-baling akan berputar pelan-pelan. Dari sinilah timbul reaksi pada diri penata untuk menggambarkan proses perputaran baling-baling melalui karya seni inovasi dengan menggunakan media ungkap Gong Kebyar.

Pendukung: Sanggar Yudistira, Banjar Muncan, Desa Kapal, Mengwi.

3. RIT.TIK

Rit Tik, Foto by GC

Karya: I Putu Gede Sukaryana

Sinopsis :

Zaman terus berkembang, manusia telah terlena oleh kemajuan teknologi yang semakin canggih dan mulai melupakan mesin ketik. Dijamannya, mesin ketik adalah idola bagi para penulis. Di jaman teknologi saat ini, mesin ketik mungkin hanya digunakan oleh orang tertentu saja. Sayup-sayup suara mesin ketik yang kethak-kethok itu seperti “menyihir” pusat kesadaran penata untuk berkreasi, walaupun sebenarnya hanya satu nada yang sama yang berulang-ulang.

Dari sebuah mesin ketik tua timbul inspirasi panata untuk mentransformasikannya menjadi sebuah karya seni musik kontemporer yang berjudul Rti.Tik.

Pendukung: Mahasiswa ISI Denpasar

4. KULI BANGUNAN

Kuli Bangunan, Foto by GC

Karya: Made Wira Oka Atmadi

Sinopsis :

Perjalanan panjang peradaban manusia, dapat menjadikan petunjuk jalan menuju suatu kesamaan penghargaan dalam perbedaaan profesi yang tetap mendapat sebuah pengukuan, walaupun manusia modern selalu berfikir efektif-efisien dengan jaman mesin yang serba canggih. Dengan itu setidaknya kita tidak memandang sebelah mata terhadap kuli bangunan, marilah kita apresiasikan kedalam berbagai hal. Pada kali ini penata mencoba mengekspresikannya lewat sebuah karya seni musik, melalui pengolahan unsur musical yang terangkai menjadi sebuah komposisi musik kontemporer dengan judul Kuli Bangunan.

Pendukung        : Komunitas Rare Kual, Kel.Banjar Tegal, Singaraja

5. MIDER GITA

Mider Gita, foto by GC

Karya: I Gusti Bagus Sukma Adi Oka

Sinopsis :

Fenomena budaya yang menyebut Bali sebagai “Pulau Seribu Pura” menjadikan Bali sebagai sebuah pulau yang penuh dengan ritus keagamaan. Setiap ritus yang dilaksanakan itu selalu memberikan arti penting dalam setiap relung kehidupan yang sudah membudaya dalam masyarakat Bali.

“Mider Gita” adalah karya karawitan yang terinspirasi dari prosesi ritual yang merupakan sebuah bentuk “ritus” yang telah mentradisi dalam kehiudupan masyarakat Desa Bungkulan Buleleng, merupakan warisan nenek moyang yang selalu dilaksanakan setiap diselenggarakannya upacara piodalan, secara murwa daksina berkeliling pada areal pura.

Pendukung: Sanggar Seni Tripitaka, Desa Munduk Kabupaten Buleleng.

Comments are closed.