Ritual Ider Bumi Di Desa Kemiren, Glagah, Banyuwangi

Ritual Ider Bumi Di Desa Kemiren, Glagah, Banyuwangi

Oleh: Sulistyani (Dosen PS. Seni Tari)

Ritual Ider Bumi adalah sebuah ritual yang diselenggarakan masyarakat Using di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Seba-gai ungkapan rasa syukur atas keselamatan seluruh warga masyarakat lewat keamanan desa. Peristiwa ritual Ider Bumi ini selalu disambut oleh seluruh warga karena terkait dengan mitos yang diyakininya tentang Buyut Cili (danyang Desa Kemiren).

Kata ider bumi merupakan penggabungan dari dua kata yaitu ider dan  bumi. Kedua kata tersebut masing-masing mempunyai arti dan makna tersendiri. Menurut Poerwadarmito (1939:33 dan 167) kata ider berarti ber-keliling kemana-mana, dan kata bumi artinya jagat atau tempat berpijak. Dari arti kedua kata tersebut dapat dimengerti bahwa Ider Bumi dimaksud-kan adalah kegiatan mengeliling tempat berpijak atau bumi.

Keyakinan seluruh warga Desa Kemiren tentang Buyut Cili dapat di-katakan percaya terhadap mitos, karena cerita tentang Buyut Cili tidak ada satupun data yang otentik dapat menguak cerita yang ada, sumber yang didapat berdasarkan keterangan secara lisan dari warga pendukungnya, teta-pi masyarakat Kemiren sebagai penyangga budaya sangat meyakininya. Ce-rita tentang Buyut Cili diturunkan dari masyarat dahulu hingga sekarang secara lisan.

Batasan tentang mitos telah dipaparkan secara jelas oleh Endraswara (2003:193) bahwa mitos adalah cerita suci berbentuk simbolik yang mengi-sahkan serangkaian nyata dan imajiner menyangkut asal-usul dan perubah-an-perubahan alam raya dan dunia, dewa-dewi, kekuatan-kekuatan atas ko-drati, manusia, pahlawan, dan masyarakat. Ciri mitos adalah memiliki sifat suci atau sakral, karena terkait dengan tokoh yang sering dipuja. Mitos seringkali sulit dipahami kebenarannya, dan sering bersumber dari tempat-tempat sakral.

Peursen dalam Daeng (2000:81) juga memperjelas tetang fungsi mi-tos dalam masyarakat bahwa mitos yang berupa cerita yang mampu mem-berikan pedoman dan arah tertentu kepada sekelompok orang. Mitos juga mampu menyadarkan manusia akan kekuatan-kekuatan ajaib. Melalui mitos manusia dibantu untuk dapat menghayati daya-daya sebagai suatu kekuatan yang mempengaruhi dan menguasai alam.

Dari uraian ini mampu memberikan kejelasan tentang keadaan yang terjadi di Desa Kemiren, bahwa Buyut Cili mampu selalu hadir dalam kepercayaannya, mampu memberikan pedoman bagi seluruh warga untuk berbuat baik dan selalu ingat bahwa di luar mereka ada sesuatu kekuatan yang mampu mempengaruhinya.

Tempat yang disakralkan dijadikan sebagai objek atau sarana per-sembahan seperti sebuah makam Buyut Cili yang ditempatkan di atas sega-lanya oleh warga Desa Kemiren. Oleh karena itu segala peristiwa dikaitkan dengannya, terbukti dari kegiatan yang dilaksanakan warga selalu melibat-kan persembahan sesaji untuk Buyut Cili lewat upacara slametan.

Upacara slametan merupakan ritual yang dilaksanakan oleh masya-rakat di Jawa pada umumnya, dari masing-masing daerah mungkin saja berbeda istilah dan tata caranya, tetapi pada intinya sebuah slametan dimak-sudkan untuk memohon keselamatan seluruh pelaksananya. Harapan masa depan yang lebih cemerlang, dan untuk mendapatkan ridha Tuhan. Mereka takut meninggalkan kegiatan ini karena sudah menjadi keyakinannya apabi-la meninggalkan tradisi ini dan melanggar  tidak akan mendapat berkah.

Ritual-ritual yang terdapat di Banyuwangi pada umumnya melibat-kan sajian seni pertunjukan, hal ini senada dengan penjelasan Kusmayati (2000:12) yang  bertolak dari peristiwa ritual di Madura. Menurutnya upa-cara merupakan ungkapan kehendak bersama suatu masyarakat, yang di-wujudkan melalui media gerak, suara serta rupa yang dibawakan sebagai sebuah sajian yang mengetengahkan aspek-aspek estetis-koreografis. Pelak-sanaan ritual merupakan peristiwa budaya karena tidak hanya diwujudkan lewat salah satu materi persembahan tetapi penggabungan berbagai unsur yaitu ritual slametan atau makan bersama dengan sarana yang sudah disepa-kati dan dibakukan oleh seluruh warga dengan penyajian berbagai bentuk seni pertunjukan.

Pelaksanaan ritual Ider Bumi, dengan menyajikan berbagai macam seni yang diwujudkan dalam sajian prosesi (arak-arakan), merupakan jalan bersama seluruh peserta dengan mengikuti rute yang telah ditentukan, da-lam peristiwa ini terjadi interaksi yang sangat akrap antar semua peserta. Arak-arakan dapat disejajarkan dengan sebuah festival karena merupakan sebuah pesta budaya yang bersifat publik, yang selalu dikaitkan dengan ri-tus keagamaan. Adapun ciri festival adalah pluralitas ekspresi seni budaya (Hidayat, 2003:9).  Ritual Ider Bumi mampu menunjukkan betapa eratnya hubungan antara agama dan budaya yang tampil di dalam sebuah festival.

Ritual Ider Bumi Di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, selengkapnya:

Comments are closed.