Sekaa-Sekaa Gambang di Kota Denpasar

Sekaa-Sekaa Gambang di Kota Denpasar

Kiriman I Gede Yudatha (Dosen Program Studi Seni Karawitan ISI Denpasar)

Gamelan GambangSebagai salah satu seni pendukung aktivitas ritual dalam masyarakat Bali, keberadaan kesenian Gambang tersebar di seluruh kabupaten dan kota. Dari survey yang dilakukan ASTI Denpasar (sekarang ISI) pada tahun 1988 tercatat tidak kurang dari 82 barung gamelan Gambang masih dapat di jumpai di Bali dimiliki oleh desa, sekaa, lembaga formal dan perorangan (Rai, S. 1998:2). Jumlah tersebut tentunya cukup besar bagi sebuah kesenian golongan tua, karena bentuk kesenian tua lainnya populasinya lebih sedikit dari gamelan Gambang. Namun demikian di wilayah Kota Denpasar kesenian ini merupakan salah satu kesenian langka. Bila dibandingkan dengan gamelan lainnya seperti Gong Kebyar, Pelegongan, Angklung dan yang lainnya, populasi gamelan Gambang dapat dihitung dengan jumlah jari tangan.

Populasi tersebut kemudian mengalami peningkatan dimana dari hasil rekonstruksi yang dilakukan oleh masyarakat di daerah Binoh, Ubung Kaja, Denpasar Barat, pada 28 September 2004 berhasil di wujudkan kembali kesenian Gambang di wilayah tersebut, dimana sebelumnya sudah dinyatakan punah. Selanjutnya pada tahun 2008, atas inisiatif pemerintah dan seniman Kota Denpasar melalui Dinas Kebudayaannya diadakan kembali 4 (empat) barung Gamelan Gambang yang nantinya akan disebar ke empat wilayah kecamatan di Kota Denpasar. Dari hasil pendataan tersebut hingga saat ini terhitung terdapat 9 (sembilan) barung gamelan Gambang yang tersebar di wilayah Kota Denpasar.

Sekaa Gambang Pura Klaci, Desa/Banjar Sebudi Sumerta Klod

Pura Klaci merupakan sebuah tempat persembahyangan masyarakat yang terdapat di wilayah Banjar Sebudi, Desa Sumerta Klod. Pura ini disungsung oleh sekelompok keluarga serta masyarakat yang terdapat di sekitarnya. Sebagai ebuah tempat persembahyangan, sebagaimana pura-pura yang lainnya perayaan piodalan atau petirtan dilaksanakan setiap enam bulan sekali yaitu bertepatan pada hari Sabtu, Saniscara Umanis Watugunung atau bertepatan dengan perayaan Hari Raya Saraswati yang merupakan peringatan terhadap turunnya Ilmu Pengetahuan.

Di dalam pura tersebut tersimpan seperangkat barungan gamelan Gambang yang disebut dengan Gambang Piturun yang mana gamelan tersebut dipergunakan sebagai pengiring ritual keagamaan yang dilaksanakan di pura tersebut. Gamelan ini sangat disakralkan oleh para pendukungnya dan hanya para pengempon pura saja yang berhak untuk memainkannya. Adapun Gambang Piturun yang dimaksud adalah bahwa kesenian tersebut merupakan warisan secara turun-temurun para generasi pengempon pura dari masa lampau.

Keberadaan kesenian ini di wilayah Desa Sebudi sangat dikenal oleh masyarakat disekitar desa. Seringkali gamelan ini ditanggap oleh masyarakat untuk ritual keagamaan yang dilaksanakan. Ada yang mananggap sebagai pembayaran kaul, dan ada juga yang menanggap untuk dipergunakan sebagai pengiring upacara keagamaan seperti upacara Pitra Yadnya (Ngaben, Nyekah) dan Dewa Yadnya (Odalan di Sanggah Kemulan atau di pura). Pada masa yang lampau sekaa Gambang Pura Kelaci memiliki kewajiban ngayah di Puri Denpasar setiap dilaksanakan upacara Pitra Yadnya dan Dewa Yadnya.

Sekaa Gambang Banjar Bekul, Penatih

Sebagaimana halnya sekaa Gambang yang terdapat di Pura Klaci, keberadaan sekaa Gambang di Banjar Bekul juga sangat dikenal oleh masyarakat di sekitarnya. Gamelan ini disimpan di Banjar Bekul, Penatih. Menurut penuturan I Nyoman Warka (wawancara tanggal 18 Desember 2009), awal mula keberadaan kesenian Gambang di Banjar Bekul adalah paica (pemberian) Ida Betara Leluhur Penglingsir dari Griya Bajing Kesiman pada tahun 1930-an dan awalnya diamong oleh leluhur keluarga besar I Nyoman Warka, pada sekitar tahun 1970-an, seiring dengan semakin maraknya perkembangan gamelan Gong Kebyar, atas permintaan warga banjar Bekul kerawang bilah saron dari gamelan ini dimohon untuk dilebur dijadikan gamelan Gong Kebyar, dan untuk selanjutnya gamelan Gambang tersebut menjadi tanggung jawab masyarakat Banjar Bekul. Sebagai imbalan atas permintaan tersebut, masyarakat Banjar Bekul senantiasa melakukan ayah-ayah (kewajiban) setiap dilaksanakannya upacara keagamaan di Griya Bajing, dan saat pelaksanaan upacara dewa yadnya dan pitra yadnya, sekaa Gambang memiliki kewajiban untuk ngayah selama upacara dilangsungkan.

Saat ini tidak banyak aktivitas yang dapat dilakukan oleh sekaa gambang di Banjar Bekul, di samping terjadi kerusakan beberapa peralatan (instrumen), kurang diminatinya gamelan ini di kalangan generasi muda sangat menyulitkan dalam alih generasi. Sebagian besar anggota sekaa gambang ini sudah berusia lanjut dan sangat sulit dicarikan penggantinya.

Sekaa Gambang Banjar Tangguntiti, Tonja, Denpasar Utara

Berbeda dengan kedua sekaa Gambang di atas, kesenian Gambang di Banjar Tangguntiti dimiliki oleh keluarga dan saat ini disimpan di rumah Ni Wayan Warni salah seorang warga Banjar Tangguntiti. Keberadaan kesenian ini secara khusus dipergunakan untuk mengiringi upacara pitra yadnya yang dilaksanakan oleh masyarakat di sekitarnya maupun yang berada di luar desa.

Menurut penuturan Ni Wayan Warni, kesenian ini sudah diwarisi secara turun-menurun dari para leluhurnya dimana para seniman pelakunya lebih banyak berasal dari Banjar Cabe. Suatu ketika, karena sebagian besar para pelakunya berada di Banjar Cabe, gamelan ini pernah dipindahkan ke Banjar Cabe. Namun berdasarkan pawisik yang diterima oleh Ni Wayan Warni dari para leluhurnya lewat mimpi, gamelan ini akhirnya dikembalikan dan disimpan keluarga Ni Wayan Warni. Saat ini Gamelan Gambang ini masih tersimpan dalam kondisi yang baik dan sewaktu-waktu dimainkan jikalau ada anggota masyarakat yang menanggap.

Sekaa Gambang Pura Dalem Bengkel Binoh, Desa Ubung Kaja Denpasar Barat

Sekaa Gambang Banjar Binoh, Desa Ubung Kaja setelah mengalami vacuum selama beberapa tahun akhirnya berhasil direkonstrusi kembali pada tahun 2006. Keberadaan kesenian Gambang ini lebih banyak difungsikan sebagai sarana pengiring upacara di Pura Dalem Bengkel Desa Binoh Klod, yang disungsung oleh sebagian besar masyarakat Banjar Binoh.

Sekaa Gambang Wahana Gurnita, Gabungan seniman Kota Denpasar

Sekaa Gambang Wahana Gurnita terbentuk pada bulan April tahun 2008. sekaa ini merupakan gabungan dari seniman-seniman Kota Denpasar. Terbentuknya sekaa Gambang ini tidak terlepas ide Walikota Denpasar, Ida Bagus Rai Dharmawijaya Mantra yang memiliki komitmen tinggi akan keberadaan kesenian utamanya penggalian, pelestarian dan pengembangan seni klasik dan sakral di Kota Denpasar. Adanya komitmen ini juga sangat berkaitan dengan misi budaya Kota Denpasar dalam mewujudkan Denpasar sebagai Kota Budaya. Tingginya perhatian pemerintah terhadap kesenian klasik, terbukti dengan diadakannya pembelian 4 (empat) barung gamedlan Gambang dari seniman Dewa Gede Darmayasa dari Bangli. Pengadaan empat barung gamelan Gambang ini nantinya diserahkan ke masing-masing kecamatan yang ada di Kota Denpasar untuk dikelola dan dikembangkan di masing-masing kecamatan.

Adanya ide tersebut kemudian disambut dengan antusias oleh seniman-seniman Kota Denpasar, sehingga pada tahun 2008 dibentuklah sekaa Gambang Wahana Gurnita yang anggotanya direkut dari kader-kader seniman di masing-masing kecamatan di Kota Denpasar. Menurut I Ketut Suanditha selaku ketua sekaa, direkrutnya kader-kader seniman di empat kecamatan yang ada, dasar pemikirannya adalah agar nantinya kader-kader tersebut yang lebih mengembangkannya di kecamatan masing-masing (wawancara tanggal 21 Oktober 2009, di Dinas Kebudayaan Kota Denpasar).

Menyimak perkembangan yang terjadi di Kota Denpasar, walaupun secara kuantitas jumlahnya mulai mengalami peningkatan, namun dari aktivitas yang dilakukan hanya beberapa diantaranya masih eksis di masyarakat dan secara rutin dipentaskan atau di sajikan dalam rangkaian upacara keagamaan maupun event-event lainnya. Beberapa permasalahan yang terkait dengan eksistensinya, sekaa-sekaa gambang yang ada masih perlu diadakan rekonstruksi dan pembinaan demi kelangsungan hidup dari kesenian ini. Sebagaimana sekaa Gambang yang terdapat di Banjar Bekul, memperhatikan kondisi peralatan yang dimiliki sangat perlu di renovasi dan diperbaiki karena beberapa bagian dari gamelan yang dimiliki sudah rusak sehingga sulit untuk dimainkan. Sedangkan, gamelan Gambang yang terdapat di Pura Dalem Bengkel dan di Tangguntiti, perlu diadakan pembinaan secara berkesinambungan karena sebagian besar seniman pelakunya dari luar wilayah yang bersangkutan.

Comments are closed.